Minat Pasar Susu Segar Sangat Tinggi

Padangpanjang, Padangtoday—Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kota Padangpanjang, Candra mengatakan, ribuan liter susu segar tersebut di olah dan dipasarkan langsung oleh masing-masing keltan. Sebagian dari hasil perahan yang berkisar 300 liter perhari diolah dan dipasarkan melalui Rumah Susu yang dibangun Pemko dan dikelola pihak ketiga.

“Pemasaran belum kita kelola total melalui Rumah Susu sesuai dengan keinginan Keltan. Memang secara nilai beli, Rumah Susu lebih rendah yang hanya Rp7 ribu perliter dan lebih rendah dibanding dengan harga pasar dari luar kepada Keltan yang mencapai Rp10-12 ribu perliternya setelah pasteurisasi,” ujar Candra kepada Padang Today baru-baru ini.

Dikatakannya, susu segar milik keltan untuk dapat diterima Rumah Susu harus melalui pengujian standarisasi ISO. Susu segar diolah dengan beragam bentuk sajian seperti yogurt, eskrim dan kafier yang diketahui paling baik terhadap kesehatan konsumen.

Sementara di pihak keltan, disampaikannya baru sekitar 4 kelompok yang telah mengantongi standar Nomor Kode Veteriner (NKV). Labelisasi guna mencapai standar kualitas susu hasil perahan tersebut mengacu pada indikator dengan standarisasi di antaranya kebersihan kandang, perawatan dan pemberian pakan. Sedangkan 4 lainnya belum memenuhi syarat terkait dengan pola pengelolaan limbah yang masih mendatangkan gangguan terhadap lingkungan sekitaran kandang.

Bicara soal kualitas yang kompetitif, susu segar produksi keltan di kota berhawa sejuk itu diyakini dapat bersaing setara dengan produk yang telah memiliki brand. Hanya saja hingga saatini para kelta belum dapat mengantongi izin POM, yang pada umumnya hanya diterbitkan untuk tingkat indsutri. Hal ini disikapi sebagai bentuk perbedaan dalam pemahaman, karena standarisasi ISO telah membuktikan kualitas kebersihan kandang akan pencemaran yang dapat disebabkan bakteri dan sebagainya.

“Ini yang belum satu visi antara POM dan ISO dala mmenerbitkan standarisasi.Seperti POM,
jika hanya akan memberikan izin terhadap industri, maka jelas ini akan menjadi penghalang nyata bagi keltan susu sapi perah untuk dapat berkembang lebih baik dalam mengikuti kompetisi pasar,” ujar Candra.

Namun demikian dikatakannya, Pemko Padangpanjang dalam menjalankan komitmen sebagai satu-satunya kota penghasil susu segar sapi perah di Sumatera tidak harus ketergantungan dengan izin POM. Melalui binaan dan pengawasan dinas, produksi susu segar yang dihasil keltan cukup tinggi minat pasar sehingga belum mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
Bahkan guna meningkatkan produksi susu segar dengan perbaikan pakan (makanan sapi perah) dan kebersihan kandang, Pemko telah menjalin kerjasama dengan Bank Indonesia (BI) serta dirjen UMKM.

“Diharapkan dapat meningkatkan standarisasi kualitas susu dan tentunya berimbas terhadap pendapatan petani sapi perah.Saat ini pendapatan mereka sudah bagus, hanya saja pengelolaan keuangan yang butuh binaan dari BI untuk 3 tahun kedepan sesuaidengan komitmen kerjasama tersebut,” pungkasCandra. (nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas