Kerupuk Jengkol Usaha Rumahan Bernilai Ekonomis

Padang-today.com__Archidendron pauciflorum atau biasa di kenal dengan jengkol merupakan jenis kacang-kacangan yang tumbuh di daratan Padang Pariaman, Sumbar.

Di Padang Pariaman, jengkol sering di jadikan sebagai kawanan sambal. Ada yang dipanggan dan dimakan bersama sambal lado, dijadikan rendang dan gulai jengkol serta dijadikan kerupuk.

Kerupuk jengkol dimata masyarakat sudah tidak asing lagi, karena kerupuk jengkol memang sebuah makanan cemilian yang di sengaja dibuat dari bahan dasar jengkol.

Kerupuk jengkol yang memilki bau yang khas, bahkan ada sebagian orang yang tidak suka dengan aroma bau kerupuk jengkol tersebut.

Namun jangan salah, kerupuk jengkol itu dapat dijadikan sebuah kerupuk yang lezat dan bernilai ekonomis dalam rumah tangga.

Selain rasanya renyah dan gurih juga dapat dijadikan sebagai lauk untuk teman makan nasi dan juga bisa dipadukan dengan makanan berkuah seperti sate dan bakso.

Siang itu cuaca cerah di Nagri Pilubang Korong Lembak Pasang, Kecamatan Sungai Limau, Padang Pariaman. Terlihat di sepanjang jalan di Korong itu terdengar suara ketuk yang berirama dari batu Lado (ulekan).

Suara itu seakan mengundang Khazanah untuk menelusuri dari sumber suara tersebut.

Dalam satu rumah, Khazanah menemukan ada sejumlah ibuk dan anaknya sedang asik mengetok jengkol dengan batu lado yang akan dijadikan kerupuk jengkol.

Jengkol yang sudah di rebus dan dibuang kulitnya berada di sisi kiri dan kanan para pelaku usaha kerupuk jengkol.

Tampak pula sebagian lainya sedang asik-asiknya menggoreng kerupuk jengkol yang siap di pasarkan kepada pembelinya yang dikemas dengan plastik warna putih bening.

Selain itu, ada juga puluhan kilo kerupuk jengkol yang sudah di tokok dan dijemur untuk mejelajahi pasar-pasar yang telah ada pembelinya.

Berawal dari iseng-iseng usaha keluarga, siapa sangka Sumarni (67) wanita salah satu warga di Lembak Pasang justru mendapatkan order kerupuk jengkol ke Malaisia dan Jakarta dengan omzet jutaan rupiah dari usaha kerupuk jengkol ini.

Menariknya, Kerupuk Jengkol Sumarni itu seakan-akan usaha dadakan. Artinya, usahanya sesuai dengan pesanan dan order dari pembeli. Ia merintis dengan modal sekitar Rp 100.000.

Di tangan Sumarni, jengkol yang dikenal bau disulap menjadi kerupuk yang nikmat dikonsumsi dan tidak berbau.

“ Usaha kerupuk jengkol ini sebenarnya musim-musiman saja yang telah dijalani keluarga dari tahun 1990-an. Namun, keseriusan dalam menekuni usaha ini hanya kecil-kecilan dan tidak permanen alias sering vakum,” ujar Sumarni kepada Khazanah, Kamis 11-04-2019 di Lembak Pasang, Padang Apriaman.

Ia punya niat untuk mengembangkan kerupuk jengkol pada tahun 2016. Motivasinya mengembangkan kerupuk jengkol karena berkaca dari keluarga terdahulu dan tetangga yang mampu menghidupi keluarga dari kerupuk tersebut.

Dengan mengembangkan kerupuk jengkol, dia punya harapan dapat meberi manfaat yang besar bagi orang sekitar terutama petani jengkol.

“ Dulunya deretan tetangga saya ini, waktu kecil –kecilan mereka mampu menghidupkan keluarga dari usaha manokok kerupuk jengkol. Saya pikir, saya kebangin dan lebih fokus dalam usaha kerupuk tersebut. Dengan usaha yang saya tekuni ini dapat membantu orang sekitar kita,” ujarnya.

Hingga saat ini, usaha yang ia tekuni itu sudah merambah ke manca negara sperti negara tetangga Malaisya dan beberapa daerah yang ada di Indonesia. Pembeli, kata dia, sebelumnya telah mengorder kerupuk jengko sekitar 50 kg untuk dikirim ke daerah tujuan.

“ Saya dapat pesanan dari berbagai daerah di indonesia dan Malaisya. Pesan itu paling sedikit ada yang 50 – 100 kg,” kata dia.

Selain itu, pangsa pasar kerupuk jengkol tersebut sudah tersedia, apalagi di era digital yang dapat memasarkan hasil produk yang akan kita jual kepada pembeli. Semuanya sudah efektif dan efesien dan mudah serta murah.

“ Kita tidak perlu lagi menyediakan tempat untuk memajangkan dagangan kita, sekarang kita cukup mempunyai wadah di media sosial atau madah lainya yang dapat memasarkan produk kita melalui guguet,” ujarnya.

Lain lagi dengan Piak Yeyen, ibuk separo baya ini merintis usaha tersebut berawal dengan modal Rp 100.000. modal itu digunakan untuk membeli bahan baku seperti jengkol, tepung dan lainya.

Hasil produksinya pun dijual kewarung-warung terdekat dengan harga Rp 2000 perbungkus. Dalam satu ikat kerupuk jengkol itu ada sekitar 30 bungkus, kemudian dilebihkan untuk yang punya kedai tiga bungkus, jadi jumlah satu ikatan itu ada yang 33 bungkus.

Inovasi dilakukan Yeyen suapaya produk tersebut laku di pasaran. Inovasi itu ialah proses pengolahan yang bersih sehingga kerupuk yang dihasilkan tidak menimbulkan bau. Kemudian, perbaikan kemasan sehingga menark minat konsumen.

Kemasan produk Yeyen kemudian menjadi moderen. Di pemasaran, produk Yeyen kini lebih maju karena dipasarkan lewat online.

Produk yang dihasilkan itu pun menjadi lebih bernilai dengan tiap kemasan dijual seharga Rp 150.000 – 300.000. Produk terebut bisa laku dalam 500 hingga 1.000 kemasan besar perbulannya.

Bagi Yeyen, tantangan mengembangkan usaha ini ialah mengubah cara pandang masayarakat tentang jengkol yang selama diidentikan sebagai makanan yang bau. Tantanagan lain ialah bersaing dengan snack pabrikan.

“ Yang paling penting dalam menjalankan usaha ialah menghasilkan produk dengan kualita sebaik mungkin. Jadi sekarang bagaimana biar bisa menghasilkan duit dengan kulitas produksi bagus,” tandasnya menghakiri.

Terlepas dari bau nya yang menyengat, sebenarnya kerupuk jengkol dapat menegah penyakit dalam tubuh kita. Seprti kanker, mempercepat jaringan tubuh yang rusak, dapat juga mencegah anemia, memperkuat struktur tulang dan gigi serta mencegah osteoporosis.

Selain itu, jengkol juga mampu menetralkan kadar gula dalam darah dan bisa menstabilkan organ vital dalam tunbuh. (suger) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas