LONGSOR KEMBALI LANDA KABUPATEN KARANGANYAR, TELAN KORBAN JIWA

 

Advertisements
Longsor Menimbum Rumah di Karanganyar, 1 Orang Tewas dan 2 Luka

Longsor Menimbum Rumah di Karanganyar, 1 Orang Tewas dan 2 Luka

Padang,PADANG-TODAY.COM- Hujan lebat mengguyur sejak Jumat (2/12) siang hari telah menyebabkan longsor menimbun rumah warga dan menelan korban jiwa di Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah.

“Tebing longsor menimbun rumah warga di Dusun Banaran Desa Plosorejo Kecamatan Kerjo Kabupaten Karanganyar Provinsi Jawa Tengah pada Jumat (2/12) pukul 21.30 Wib. Longsor menyebabkan pemilik rumah tewas atas nama Catur (21) dan 2 orang luka berat atas nama Paikem (52) dan Harso Wiyono (55). Tim SAR dan masyarakat mengevakuasi korban. Korban dirujuk ke RS Moewardi,”kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran Pres diterima wartawan.

Terkait pencarian korban kejadian longsor 29 Nopember di Tegalsari Karangpandan itu, lanjut Sutopo tim SAR gabungan mulai melakukan penyisiran lokasi, Sabtu (3/12) pukul 05.30 Wib. Ditemukan tanda-tanda bau di sekitar sektor 2 pada pukul 06.30 Wib. Selanjutnya langsung dilakukan pencarian dan ditemukan korban atas nama Gito.

“Jenasah berhasil dievakuasi dan langsung dibawa ambulance ke RSUD. Pencarian terhadap satu korban longsor masih diteruskan,”imbuhnya.

Ia mengatakan, Kabupaten Karanganyar memang rawan bencana longsor. Ada 9 kecamatan rawan longsor dari 17 kecamatan di Kabupaten Karanganyar. 9 kecamatan tersebut adalah Kecamatan Jenawi, Kerjo, Ngargoyoso, Tawangmangu, Karangpandan, Matesih, Jatiyoso, Jatipuro dan Jumapolo.

“Daerah rawan longsor tersebut saat ini sudah berkembang menjadi permukiman sehingga memiliki risiko tinggi bencana longsor,”katanya.

Hal sama juga terjadi di daerah lain di Indonesia tambah Sutopo ada 274 kabupaten/Kota yang rawan longsor dengan jumlah penduduk yang terpapar 40,9 juta jiwa dari longsor sedang hingga tinggi. Mereka tinggal di lereng-lereng perbukitan, pegunungan bahkan di samping tebing yang hampir tegak lurus sehingga mudah longsor saat hujan.

Ia menjelaskan, tata ruang harus ditegakkan. Daerah-daerah rawan longsor sudah dipetakan di seluruh Indonesia. Namun kenyataannya terus berkembang menjadi permukiman penduduk. Rumah dibangun di bawah lereng atau tebing rawan longsor.

“Mitigasi longsor juga masih sangat minim di lingkungan masyarakat sehingga setiap terjadi longsor sering menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi. Bahkan pada tahun 2014, 2015 dan 2016 ini longsor menjadi bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa tewas,”ungkapnya.

Jadi bukan hujan yang menyebabkan longsor tambah Sutopo tetapi tingginya kerentanan menyebabkan longsor terus meningkat. Harus ada penataan ulang dari tata ruang yang ada, perlu pembatasan ijin dan peningkatan implementasi tata ruang.

Jika tidak maka longsor akan makin meningkat dan makin bertambah jumlah korban serta kerugian. Masyarakat lah yang paling banyak menderita, khususnya masyarakat yang kelas ekonominya menengah ke bawah karena tidak memiliki kemampuan memitigasi dirinya, keluarganya dan lingkungannya.

“Ingat, tata ruang kuncinya melakukan pembenahan. Tata ruang lebih efektif dan mudah mengatasi longsor dibandingkan dengan upaya mitigasi lainnya. Tidak mungkin semua lereng atau bukit diperkuat dengan struktural. Tidak mungkin juga semua dipasang alat peringatan dini longsor, dan seterusnya. Perlu komitmen semua pihak untuk menata ulang ini baik oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat,”tegasnya. (*nat/rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*