Senin, 05/07/2010 16:28 WIB

Tak Ada Uang ke Dokter, Terpaksa Andalkan Dukun Kampung

Nengsih Adeyaka - Padang Ekspres


Sekitar lima tahun terakhir, batuk yang dialami Kamino, 61, kian menjadi. Terlebih, usai bekerja mengangkat beban berat. Tanpa kompromi, batuk dan sesak nafas langsung menyerang. Diduga, penyakit TB Paru bapak lima anak itu kambuh lagi.

Lelaki berbadan kurus itu, tampak setengah bergegas menghampiri Padang Ekspres (Group PadangToday), yang telah menunggu di bangku kayu depan rumahnya. Diawali dengan senyum yang khas, tegur sapa pun mengalir dari bibirnya, meski tangan kiri sibuk menekan dada, berusaha mengatur nafas yang ngos-ngosan.

“Tadi lagi nolong urang manungkang, (tadi sedang bekerja membantu orang yang lagi panen di sawah),”ujarnya mengawali perbincangan.

Langit di kawasan Pekonina, Pauhduo yang mulai mendung, membuat lelaki tua itu urung melanjutkan pekerjaannya di sawah. Di dalam rumah (lebih cocok disebut gubuk) berukuran 3x3 meter itu, Kamino ditemani dua anaknya, bercerita tentang perjuangannya bertahan menghadapi batuk yang sudah akut.

Hampir setiap pagi batuk menyerangnya. Setiap pagi itu pula nafasnya terasa sesak. Sesekali, lanjut Kamino, batuknya mengeluarkan dahak yang berwarna agak kemerahan. Sudah bartahun-tahun kondisi itu dialaminya. Karena terkendala biaya, ia lebih terpaksa memakai jasa berobat di dukun kampung. Melihat kondisinya yang tak berangsur pulih, Kamino diklaim “tamakan ramuan”.

“Bukan saya tidak mau periksa ke dokter, tapi ndak ada duit. Belanja sehari-hari saja masih susah,”imbuhnya, seraya membeberkan bahwa anak perempuannya yang masih sekolah, sudah beberapa bulan terakhir menunggak SPP.

Memang, dua tahun lalu, pernah satu kali ia mencoba datang berobat ke tempat praktek mantri. Kata mantri, ia mengalami sakit paru. Tapi menurut Kamino, obat yang diberikan mantri tersebut tidak cocok untuknya. Setelah minum obat, ia malah meriang.

“Waktu masih kecil, kira-kira umur 11 tahun, saya pernah kena TBC. Barangkali, kambuh lagi. Sekarang saya bertahan dengan berobat kampung saja. Mungkin sudah nasib seperti ini,”katanya, lalu tersenyum dengan gigi yang tak lagi utuh.

Selama mengidap batuk yang sangat menyiksa, tubuh Kamino terlihat makin kurus. Walau begitu, bekerja sebagai petani nyaris tak pernah absen ia lakukan. Pergi pagi pulang petang, bekerja di sawah milik tetangga. Mencari nafkah, menghidupi dua anaknya, Iwit dan Krisyanto yang masih duduk di bangku sekolah.
“Kalau saya ndak kerja, dari mana mau makan. Ibunya sudah ndak bersama kami lagi,”ujarnya.

Informasi yang dihimpun koran ini, kuat dugaan, Kamino merupakan salah seorang penderita TB (Tubercolosis) paru. Seperti yang diwartakan sebelumnya, TB paru di Solsel masih ibarat fenomena gunung es. Bahkan Dinas Kesehatan setempat, tercatat lamban dalam urusan menemukan penderita TB paru. Lihat saja target pemerintah tahun 2009 lalu, mestinya harus tercapai 70 persen. Tapi Solsel hanya mampu 25 persen.
“Ndak pernah ada petugas kesehatan yang datang mendata ke sini, ”ungkap Kamino.

Kamino adalah satu dari puluhan dan mungkin saja ratusan orang miskin penderita TB Paru yang belum terdeteksi. Padahal, sekitar 300 meter dari rumah Kamino ada sebuah Puskesmas Pembantu (Pustu). []


Bookmark and Share counter