Rabu, 28/07/2010 10:04 WIB

Pulang Sekolah Pergi mencari Kayu Bakar

Nengsih Adeyaka - Padang Ekspres


Harapan Nofrianto melanjutkan sekolah hampir kandas. Setiap hari, anak laki-laki usia 14 tahun itu, dibayangi ancaman putus sekolah. Sang ayah sakit stroke, sedangkan ibu hanya tukang cuci. Adakah yang peduli?

Se-antero kabupaten Solok Selatan hampir dengan mudahnya kita menemukan anak putus sekolah atau terancam putus sekolah. Penyebabnya karena berasal dari keluarga miskin. Tak punya uang. Mereka terpaksa membungkam cita-cita. Walaupun masih berumur belasan tahun, tapi sudah turun membantu mencari nafkah.

Nofrianto, satu diantara anak-anak malang itu. Sejak kecil ia memang nekat ingin tetap melanjutkan sekolah, minimal tamat SMA. Awalnya, harapan itu terasa tidaklah terlalu muluk. Tapi semenjak ayahnya jatuh stroke, Nofri mesti menahan asa. Sebab, ladang dan sawah dengan luas yang tidak seberapa, telah terjual untuk mengobati sang ayah. Dua tahun berobat sana sini, tapi tak kunjung sembuh.

"Sekali berobat ke dukun kampung, mesti keluar uang Rp50-75 ribu. Belum lagi ongkos ke sana, habis Rp75 ribu. Mau berobat dokter, mahal. Sudah setahun ini terpaksa berhenti saja berobat, tidak ada biaya, "¯ujar Suparmi, 35 ibu Nofri.

Kini, Suparmi lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Mencari uang untuk mencukupi kebutuhan hidup dua anaknya. Upah yang didapatnya darii mencuci pakaian, Rp50 ribu per minggu.

Memenuhi kebutuhan untuk makan, Nofri putra sulung mereka terpaksa turun tangan. Meski baru menginjak kelas II Madrasah Tsanawiyah (MTs), tapi tenaga dan keringatnya cukup membantu. Sepulang sekolah, Nofri bekerja mencari kayu bakar. Melewati parak-parak, menapaki belantara. Setiap hari.

"Kalau ada tetangga yang mau beli (kayu bakar-red) ya dijual. Tapi kalau ndak untuk di masak di rumah saja. Ndak ada istilahnya bermain, hidup susah seperti ini mesti kerja, "tutur Suparmi.

Setelah berbincang agak lama dengan koran ini, terungkap bahwa rupanya rumah yang dihuni, juga bukan milik mereka. Menumpang. Atas belas kasih kakak Asma, bertahun-tahun rumah kayu itu dipinjaminya.

Ditanya tentang kelanjutan sekolah Jondra, perempuan itu terdiam. Pandangannya  menerawang sejenak. Suparmi mengaku tidak terbayang olehnya sekolah anaknya dapat berlanjut. Makan saja masih susah, apalagi untuk sekolah. "Mungkin dalam waktu dekat ini dia berhenti saja. Biaya tidak ada, "katanya. Kala mengucapkan kalimat tersebut, Nofri langsung berlari ke dapur. Ia seperti belum siap mendengarnya.

Menurut Adril seorang guru, di sekolah Nofri termasuk anak yang rajin dan pintar. Rangkinya selalu masuk tiga besar. Akan tetapi tingkahnya sehari-hari, tidak seceria kawan-kawanya. Ia sering terlihat murung.

Nofrianto adalah potret anak-anak di Solok Selatan yang mendambakan pendidikan. Tapi kemiskinan menghantam keluarga mereka. Kepada siapa lagi mereka menggantung harapan, kalau bukan pada para dermawan di negeri ini. (*)


Bookmark and Share counter