Padang | Rabu, 28/07/2010 21:16 WIB
Wawako Besuk Korban Dugaan Malpraktek
Husnal Hayati -
Padang Today
Korban dugaan malpraktek Mardahayati dibesuk oleh Wakilwalikota Padang Mahyeldi Ansyrullah, Rabu (28/07/2010) di Rumah Sakit Umum M. Djamil. Dalam besukkannya mahyeldi memberikan dukugan semangat pada pasien (Mardahayari)dan sang suami (Masrial).
“Saat ini kita hanya berupaya untuk menyembuhkan korban. Karena korban keterbatasan dana. Saya yakin bisa dicarikan jalan keluarnya. Karena tidak bisa menggunakan jamkesmas, kita bisa mencarikkan dana pengobatan ini melalui donatur-donatur seperti Bazda atau PT Semen Padang," kata wawako.
Dikatakan, terkait soal pasien yang diisukaan karena malparaktek ini mahyeldi mengatakan sampai saat ini isu itu belum bisa dibenarkan.
“Kita sudah koordinasi dengan DKK,namun menurut DKK kejadian ini bukan karena malpraktek,” papar Mahyeldi.
Sementara itu suami korban Masrial dirinya meresa kecewa dengan dokter yang sudah membuat istrinya seperti ini. “Saya sangat menyayangkan dokter yang manangani istri saya, ketika saya membawa istri ke RSUD dokter tersebut menyarankan agar membawa ke tempat prakteknya saja, namun seperti ini jadinya istri saya, malah semakin parah. Jangankan untuk membantu biaya pengobatan untuk membesuk saja pihak dokter tersebut tidak pernah. Ketika saya mencari dokter tersebut malah menghindar dan tidak mau menemui saya,” beber Masrial.
Masrial mengaku saat ini sangat panik, karena besok adalah operasi kedua istrinya, namun uangnya tidak ada lagi. Untuk operasi pertama beberapa minggu lalu saja pria yang bekerja sebagai sopir ini mengaku masih berhutang.
“Terus terang saya panik sekali saat ini, untuk memikirkan biaya pengobatan istri. Belum lagi memikirkan anak dua orang di rumah yang sejak kejadian ini menjadi tidak terurus," paparnya.
Menanggapi hal tersebut Mahyeldi mangatakan, agar suami korban yang berasal dari Korong Gadang Kecamatan Kuranji ini bisa sabar menghadapi, untuk biaya pasti akan ada jalan keluarnya. Sedangkan untuk masalah dokter yang lepas tangan menurut Mahyeldi itu terjadi karena kurangnya komunikasi.
“Saya berharap agar dokter bersangkutan bisa menjalin kembali komuniksi yang baik dengan korban. Karena ini akan menyebabkan kekecewaan bagi korban, dan tentunya akan membuat kesan buruk bagi dokter sendiri. Jika dokter seperti ini pasti tanggapan buruk akan muncul," tutupnya. []