Andi Mallarangeng Divonis 4 Tahun Penjara Atas Kasus Korupsi

AndiJakarta, PADANGTODAY.com – Majelis hakim pada Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, menjatuhkan hukuman empat tahun penjara kepada mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Alifian Mallarangeng. Hakim menyatakan mantan Sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat itu terbukti mengarahkan proses penganggaran dan pengadaan barang/jasa dalam pembangunan proyek Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di Desa Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, serta merugikan keuangan negara dan memperkaya diri sendiri, korporasi, dan atau orang lain.

Advertisements

“Menjatuhkan putusan terhadap terdakwa Andi Alifian Mallarangeng dengan pidana penjara selama empat tahun. Dikurangkan dari masa tahanan seluruhnya,” kata Ketua Majelis Hakim Haswandi saat membacakan amar putusan Andi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (18/7).

Hakim juga mengganjar Andi dengan pidana denda sebesar Rp 200 juta. Jika tidak dibayar, maka dia harus menggantinya dengan hukuman kurungan selama dua bulan.

Pertimbangan memberatkan Andi adalah tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme. Sementara pertimbangan meringankan adalah sopan selama masa persidangan, belum pernah dihukum, memiliki tanggungan keluarga, pernah mendapat bintang jasa utama dari pemerintah, dan belum menikmati hasil dari perbuatannya.

Hakim menyatakan perbuatan Andi terbukti dalam dakwaan alyternatif kedua. Yakni Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jnctoo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juncto pasal 65 ayat (1) KUHPidana.

Menurut Hakim Haswandi, Andi bersama-sama dengan Deddy Kusdinar, Teuku Bagus Mochammad Noor, Machfud Suroso, Wafid Muharam, Saul Paulus David Nelwan alias Paul Nelwan, Andi Zulkarnain Anwar alias Choel Mallarangeng, Muhammad Fakhrudin, Lisa Lukitawati Isa, dan Muhammad Arifin antara Oktober 2009 sampai Desember 2011 secara melawan hukum mengarahkan proses penganggaran dan pengadaan proyek P3SON Hambalang.

Pengadaan itu meliputi Jasa Konsultan Perencana, Pengadaan Jasa Konsultan Manajemen Konstruksi, dan Pengadaan Jasa Konstruksi buat memenangkan perusahaan tertentu. Akibat perbuatannya negara merugi hingga Rp 464,391 miliar.

Selanjutnya, Hakim Haswandi mengatakan, Andi terbukti melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri melalui Andi Zulkarnaen Anwar alias Choel Mallarangeng sebesar Rp 4 miliar dan USD 550 ribu. Duit itu diberikan bertahap sebanyak empat kali oleh pihak berbeda. Yakni USD 550 ribu diterima Choel Mallarangeng di rumahnya dari Deddy Kusdinar, Rp 2 miliar diterima oleh Choel Mallarangeng di kantornya dari PT Global Daya Manunggal (GDM), Rp 1,5 miliar diterima oleh Choel Mallarangeng dari PT GDM melalui Wafid Muharram, terakhir Rp 500 juta diterima oleh Choel Mallarangeng dari PT GDM melalui staf ahli Menpora, Muhammad Fakhruddin.

Selain itu, Andi terbukti memperkaya orang lain, yakni Deddy Kusdinar, Teuku Bagus Mochammad Noor, Machfud Suroso, Wafid Muharram, Anas Urbaningrum, Mahyudin, Olly Dondokambey, Joyo Winoto, Lisa Lukitawati Isa, Anggraheni Dewi Kusumastuti, Adirusman Dault, Imanullah Aziz, dan Nanang Suhatmana.

Andi juga terbukti memperkaya beberapa korporasi. Yaitu PT Yodya Karya, PT Metaphora Solusi Global, PT Malmas Mitra Teknik, PD Laboratorium Teknik Sipil Geoinves, PT Ciriajasa Cipta Mandiri, PT Global Daya Manunggal, PT Aria Lingga Perkasa, PT Dutasari Citra Laras, Kerjasama Operasi Adhi Karya-Wijaya Karya, dan 32 perusahaan/perorangan subkontrak KSO Adhi-Wika.

(mr/nol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*