Artis Ini Hindari Fitnah Dengan Taaruf

Risty Tagor dan Stuart Collin.

Risty Tagor dan Stuart Collin.

Jakarta, PADANGTODAY.COM-Artis peran Risty Tagor (25) punya jawaban untuk menampik anggapan miring tentang dirinya yang dinilai terlalu terburu-buru untuk memutuskan menikah dengan rekan seprofesinya, Stuart Collin (24), pada 19 April 2015. Asal tahu saja, Risty baru tujuh bulan lalu resmi bercerai dengan Rifky Balweel (25).

“Enggak ada yang terburu-buru. Kenapa aku harus lalui pacaran yang sudah jelas dalam Islam bahwa itu tidak boleh. Jadi kalau orang bilang kenapa Risty cepet banget, mungkin mereka orang-orang yang terbiasa pacaran,” kata Risty dalam jumpa pers di Mercantile Club, Gedung WTC, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2015).

Karena alasan tersebut, akhirnya Risty dan Stuart memutuskan untuk taaruf atau perkenalan singkat tanpa pacaran sebelum proses lamaran dilangsungkan pada Sabtu 4 April 2015.

“Sebelum aku kenal Stuart aku bilang, ‘Ma, aku enggak mau lama-lama jadi janda karena enggak enak rasanya’. Karena bener-bener aku pelajarin Islam, ternyata kami sangat rentan dari zinah dan fitnah,” ucap Risty.

“Kenapa saya mau nikah buru-buru sama Risty karena dalam Islam memang bener enggak ada pacaran. Kami hindari zinah dan fitnah. Karena menunda yang baik itu tidak bagus, mempercepat suatu baik itu bagus. Apalagi perkawinan bukan main-main,” timpal Stuart.

Risty mengatakan, lagipula kedekatannya dengan Stuart terjadi setelah tiga bulan dirinya resmi bercerai dengan Rifky. Kondisi tersebut sesuai dengan masa idah atau masa tunggu bagi wanita yang berpisah dengan suami, baik karena ditalak maupun bercerai mati.

“Enggak tahu kenapa yang ada Stuart. Enggak tahu kenapa yang bisa sangat dekat sama Arsen (anak Risty dan Rifky) itu Stuart. Kalau dibilang terlalu cepat, masa idah kan tiga bulan 10 hari. Kenapa aku harus menunggu, aku takut ada kesalahan dan fitnah lagi,” kata Risty.

Menurut Stuart, dia dan Risty tak berniat untuk merahasiakan proses lamaran dari publik. Hanya saja, mereka ingin mencipta suasana lamaran yang khidmat dan kekeluargaan tanpa publikasi di media.

“Kami pengin itu cuma ada keluarga doang dalam satu rumah saling mendoakan. Sebenarnya kami nyari khusyuknya. Kan ada keluarga tidak terbiasa dengan kamera. Kami hindari itu. Ini kabar baik kok, kenapa harus kabur,” tutur Stuart.

(im/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas