Bahasa Rakyat Ade Rezki Pratama, Irfendi Arbi dan Bung Hatta

Catatan: Pinto Janir*

Pinto Janir

Pinto Janir

Pemimpin yang jauh dari rakyatnya akan tersingkir. Jarang ruang yang bisa memberi tempat kepada pemimpin yang berat. Berat hati. Berat kaki. Berat tangan. Berat bicara.

Berat menyapa. Berat melihat.Berat tersenyum. Berat mendengar. Pemimpin yang berlaku dengan segala keberatannya maka dengan ringan pula waktu akan melemparkannya ke ruang yang jauh dari rakyat.

Ketika pemimpin berhati seringan kapas, maka di ruang dadanya tak ada beban. Dadanya lapang, hatinya ikhlas. Pemimpin yang kakinya ringan melangkah, jalannya senang dan menyenangkan. Irama kakinya tidak senjang. Tidak pincang. Langkahnya harmonis dalam irama yang enak. Tangannya adalah alat yang diulurkan untuk membantu orang banyak.

Ketika pemimpin bicara dalam bahasa dan lagak yang berat, maka telinga rakyat akan panik mendengar.Apalagi bila isi perkataan yang disampaikan itu termakna ringan atau kosong maka yang didapat adalah kepercumaan. Untuk apa bicara kalau hanya akan mengerutkan kening pendengar? Orang hebat adalah orang yang ringan dalam penyampaian, berbobot berat dalam pelaksanaan. Bukan sebaliknya. Kesederhanaan penyampaian adalah cita rasa yang berkesan.

Bagi orang yang berhati lapang, menyapa adalah kebaikan. Pemimpin yang jarang menyapa, ia akan lengang sendiri. Seorang penyapa adalah seorang yang tulus.Ia pemilik senyum yang manis. Senyum adalah bahasa yang menjadi obat di hati orang banyak.

Pemimpin yang matanya berat untuk melihat, maka ruang pandangnya sempit. Ia rabun sosial. Pemimpin yang memiliki rabun sosial, cendrung untuk gampang ‘dibohongi’. Karena ia melihat atas laporan mata orang lain, maka keputusannya acap tak tepat. Sasarannya meleset melulu.

Tapi, pemimpin yang melihat dengan matanya sendiri.Melangkah dengan kakinya sendiri. Berjalan dengan segala ketulusan dalam sentuhan hati untuk menjawab persoalan dan mencari solusi, maka itulah pemimpin yang dinanti.
Ade dan Irfendi Arbi, saya suka dua tokoh ini. Mereka mirip dalam pikiran saya. Mirip seperti pikiran saya di atas. Mereka tokoh sederhana, santun,sopan dan ikhlas.

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti kunjungan Ade Rezki Pratama (Anggota DPR RI) ke Kabupaten 50 Kota untuk menyerahkan bantuan kepada masyarakat korban bencana banjir.

Di Payakumbuh sudah menunggu, bupati terpilih yang baru saja dilantik. Ia Irfendi Arbi.

Ade dan Irfendi adalah pemimpin rakyat yang asik di hati masyarakatnya.

Ade tipe anak muda yang kakinya ringan melangkah karena ia memiliki daya sentuh nurani yang dalam. Selama saya mengenal Ade, ia adalah anak muda yang tidak pernah membuat jarak atau membuat garis dengan masyarakatnya. Ade dan pemilihnya.Ade dan rakyat, adalah Ade dan hatinya. Memang, salah satu alasannya mengapa menjadi politisi, karena Ade ingin berpolitik dengan ‘hati’.Dengan santun. Dengan jujur. Dengan bersih. Dan dengan segala kecerdasan untuk kemanfaatan bagi orang banyak.

Politik santun, politik bersih, politik jujur, adalah nilai-nilai politik yang barangkali saja susah kita memperolehnya. Ia bukan tak ada, tapi langka. Untuk mewujudkannya, nilai-nilai perjuangan, nilai-nilai kejuangan harus bertahta di hati. Setirnya adalah pikiran, hati dan akal. Adatnya pikiran adalah logika.Adatnya hati adalah rasa.Adatnya akal adalah kebijaksanaan dan kebenaran yang mutlak.
Politik bersih, politik santun, politik jujur; langka memang.

Sekali lagi, langka bukan berarti tak ada. Sejarah perjalanan bangsa, pernah memunculkan dan melahirkan seorang Bung Hatta. Tipa seratus atau lima puluh tahun, biasanya sebuah ruang memunculkan tokoh dalam karakter yang mirip di konteks yang berbeda.

Tanpa berlebihan, dalam pandangan saya, atau mungkin juga dalam pandangan kita; Ade adalah Bung Hatta muda di ruang kini. Mereka sama-sama memulai pergerakan di kancah nasional dalam usia muda, dalam masa 20-an tahun. Usia Ade kini memasuki 28 tahun. Dilantik jadi anggota DPR RI termuda saat usia 26 tahun.

Bung Hatta adalah tokoh yang low profile. Penuh dengan kesederhanaan. Penuh dengan kerendah-hatian.Penuh dengan kesantunan. Dan ia sopan serta terpuji.

Selama saya mengenal anak muda yang tiada henti memperjuangkan aspirasi petani untuk membangun irigasi (dan alhamdulillah itu terwujud dengan terlaksananya sejumlah pembangunan tali irigasi di Agam dan Dapil 2 sekitarnya), membawa aspirasi masyarakat kota Bukittinggi untuk mengatasi persoalan air bersih ( dan alhamdulillah itu terwujudnya dengan adanya anggaran Pusat untuk kelancaran bidang air bersih bagi masyarakat kota wisata), Ade adalah anak muda yang berjuang dengan hati dan segala kesungguhan untuk membawa orang banyak ke ruang kesejahteraan.

Dalam kegiatan sosial. Ade mendirikan pondok pesantren yang dilengkapi dengan fasilitas bagus dengan masjid rancak dan ruang belajar ‘modern’. Apakah santrinya membayar mondok di sana?

Ini dia; tidak!

Santrinya adalah anak-anak miskin, anak-anak yatim, yang mempunyai keinginan belajar yang tinggi dan memiliki otak yang pintar. Semua santri, semua keperluan dan kebutuhan santri, dipenuhi Ade.

“ Bapak Ade, bolehkah kami memanggil Bapak dengan abang.Karena Bapak adalah abang kami. Abang kami yang juga sekalian pengganti ayah kami. Bolehkah Pak?” ujar beberapa santri dalam permintaan yang sama sewaktu Ade mengajak mereka berbuka puasa Senin beberapa waktu yang lalu.

“ Boleh…boleh….!” Ade menjawabnya dengan merangkul mereka satu persatu.Dan satu persatu pula , air mata haru santri jatuh menitik. “Terima kasih bang”, jadilah buka puasa Senin itu penuh haru.

Begitulah Ade.

Ah, ingatan saya terbang jauh bersama Ade. Dan saya menangkapnya kembali. Ketika Ade berkunjung ke Taram, masyarakat setempat, mulai dari yang muda hingga yang tua berdialog dengan bahasa dan hati.

Ada amak-amak tak tahan membendung haru ditemui Ade. Amak itu seperti mengadu pada anaknya.Tanpa jarak. Ade merangkulnya, bagaikan rangkul kasih sayang anak kepada orangtuanya.

Satu persatu, bantuan diserahkan Ade. Bantuan yang diserahkan Ade itu, adalah ‘bantuan jangka pendek’. Sekadar pelipur lara rakyat yang susah seusai dihantam bencana.

“ Bencana banjir akan datang terus menerus. Akan datang lagi tahun depan, tahun depannya lagi. Itu tiada henti. Karena menurut masyarakat, sejak dulu hingga kini, kawasan ini selalu banjir. Banjirnya selalu sebahu. Dan itu tak boleh kita biarkan berlama-lama.Kita harus cari solusinya Pak Bupati”, ujar Ade yang dalam kunjungan itu didampingi Bupati Irfendi Arbi yang dikenal dengan kesederhanaannya dan kesantunannya pada rakyat.

Mereka memang dua tokoh yang sederhana, tapi selalu berkehendak untuk mengeluarkan dan melepaskan rakyat dari kurungan kemiskinan yang membelenggu.

“ kita harus carikan bersama-sama solusi yang tepat Pak Bupati”, ujar Ade memandang aliran Batang Sinamar yang sebelumnya ganas yang kini tampak jinak.

“ Pak Bupati, Ade rasa, solusinya adalah normalisasi sungai. Barangkali saja, pada badan sungai ini ada penyempitan-penyempitan dan pendangkalan-pendangkalan. Ade akan ajak mitra kerja di kementerian PU untuk kemari guna solusi untuk normalisasi”, ujar Ade dalam kesungguhan bahasa hati.

Irfendi adalah sosok bupati yang cepat tanggap.Sewaktu banjir menimpa, bupati terpilih ini belum resmi dilantik. Tapi, atas gerakan hati, ia tak sampai hati membiarkan rakyatnya dalam bencana.Sekalipun belum dilantik, Irfendi mengomandoi tanggap darurat di lapangan. Ia ikut terjun.Ia ikut basah dan sama-sama dingin dengan rakyatnya.

Ade dan Irfendi, adalah dua tokoh kita yang sama-sama sederhana, santun dan sopan serta berkehendak ingin berbuat manfaat bagi orang banyak.

”Ya Pak Ade. Kita harus lekas memetakannya sehingga sampai pada solusi yang berarti. Ambo akan segera rapat staf PU. Kami akan segera membuat laporan dan usulan pada pemerintah Pusat. Dan tolong Pak Ade sampaikan,” ucap Irfendi dan Ade menyambutnya dengan senyum.

Pemimpin yang jauh dari rakyatnya akan tersingkir. Jarang ruang yang bisa memberi tempat kepada pemimpin yang berat. Berat hati. Berat kaki. Berat tangan. Berat bicara. Berat menyapa. Berat melihat.Berat tersenyum. Berat mendengar. Pemimpin yang berlaku dengan segala keberatannya maka dengan ringan pula waktu akan melemparkannya ke ruang yang jauh dari rakyat.(*/penulis senior)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas