Balita penderita penyumbatan pembuluh darah Dewi, Dapatkan Perawatan Yang Layak

Dewi, saat pemeriksaan tensi di Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang.

Dewi, saat pemeriksaan tensi di Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang.

Advertisements

PADANG, PADANGTODAY.com-Tubuh mungil itu panas dan tegang. Sulit memperlihatkan ekspresi tersenyum maupun menangis. Bicarapun tidak. Tak seperti balita lain yang leluasa bergerak kesana kemari.

Sarti (53), hanya bisa menangis di tepi jalan sambil memeluk putrinya, Dewi (4). Sarti berusaha berkeliling mencari pinjaman uang untuk membawa Dewi berobat.

Dewi tidak bisa menikmati masa kecilnya dengan normal. Pada usia sedini itu, ia harus menelan pil pahit, paracetamol, hampir setiap hari untuk sekedar menurunkan panasnya.

Semenjak umur dua tahun gadis mungil ini sering panas dan kejang-kejang. Sarti baru mengetahui kondisi kesehatan Dewi 1 tahun terakhir.

Dari pemeriksaan 1 bulan lalu di Puskesmas Padang Pasir, Dewi didiagnosa mengalami penyumbatan pembuluh darah disekujur tubuhnya. Hal ini membuat ia tak bisa beraktivitas normal layaknya balita lainnya. Untuk makan pun sulit. Dewi hanya bisa memakan nasi yang telah di tim.

Namun Sarti tidak bisa membawa Dewi berobat karena kendala biaya. Apa daya, Sarti hanya seorang buruh cuci yang memiliki penghasilan 600.000 per bulan. Untuk menopang kehidupan mereka berdua saja biaya itu tak cukup. Apalagi untuk pengobatan Dewi.

“300ribu untuk membayar kontrakan, sisanya untuk membayar utang warung dan listrik,” papar Sarti lirih.

Setiap kali Sarti bekerja, Dewi selalu dibawa. Syukur, kondisi Dewi telah dimaklumi ditempat Sarti bekerja. Sedangkan suami Sarti, telah meninggal kecelakaan kerja saat Sarti masih mengandung Dewi.

“Tiap kali panas dan kejang biasanya saya cuma bisa memberikan paracetamol 500mg, saya tidak punya biaya untuk berobat ke puskesmas,” tutur ibu kandung Dewi, Sarti.

Warga Koto Marapak ini berencana hendak membawa Dewi berobat herbal China. Biaya pengobatannya sekitar 250 ribu per bulan. Itu pun sudah mendapatkan keringanan atas biaya peralatan yang sepenuhnya akan ditanggung oleh pengobatan alternatif ini.

Ketika Sarti dilanda kebingungan mencari pinjaman, seseorang menyarankan agar Asri mencoba mendatangi Graha Kemandirian Dompet Dhuafa Singgalang. Kedatangan Sarti langsung mendapat sambutan positif dari Branch Manager, Musfi Yendra.

Kepada Musfi, Sarti menjelaskan perihal latar belakang kesulitan ekonomi yang dialaminya. Beruntung, minggu lalu ia bertemu dengan orang baik yang menawarkan kepengurusan BPJS bagi pengobatan Dewi.

Sebagai jalan keluar, Musfi menghubungi pihak RS. M. Djamil untuk merujuk kondisi kesehatan Dewi. Oleh pihak RS, Dewi direkomendasikan ke Poliklinik Anak, dan selanjutnya akan diteruskan agar mendapat penanganan dokter saraf.

“Langkah awalnya, kita harus menunggu penyelesaian pengurusan BPJS Dewi agar biaya pengobatan Dewi dapat ditekan,” Ujar Musfi.

Musfi menilai, dengan adanya penekanan biaya lewat BPJS, Dompet Dhuafa Singgalang bisa memfokuskan biaya lain terkait kebutuhan Dewi.

“Setelah BPJS Dewi keluar, kami akan mendampingi Dewi ke Puskesmas Padang Pasir untuk mendapat surat rujukan ke RS. M. Djamil. Dengan harapan Dewi segera mendapat penanganan agar Dewi bisa segera sehat dan ceria seperti anak-anak lainnya,” tutup Musfi. (nisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*