Bangunan Belanda Yang Akan Menjadi Kenangan

Pemerintah menjanjikan merevitalisasi Pasar Pariaman, di Kota Pariaman, Sumatra Barat mengingat kondisi pasar yang telah berusia lebih dari 100 tahun itu sudah tidak layak lagi.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita beberapa hari lalu mengunjungi pasar tersebut, mengakui kondisi bangunan pasar sudah mengkhawatirkan akibat goncangan gempa di daerah itu, sehingga perlu dilakukan revitalisasi.

Pembangunan pasar terbesar di Kota Pariaman tersebut akan dibangun melalui dana alokasi khusus (DAK) pada anggaran 2019. Perencanaan tersebut sudah pasti kalau disetujui oleh orang nomor satu di Indonesia.

Keinginan pemerintah setempat sudah berupaya untuk mewujudkan pembangunan pasar tersebut dengan cara loby-loby dengan pihak terkait. Seperti Menteri Perdagangan, PUPR dan lainya.

Pasar Pariaman sendiri telah berusia lebih dari 100 tahun. Pasar Pariaman dibangun awalnya sejak zaman Belanda. Kemudian, atas kebijakan pemerintah pada saat itu terjadi pemugaran pada pasar tersebut yang di pimpin Bupati Padang Pariaman Sutan Hidayat Syah (1945-1946).

Selanjutnya Pasar Pariaman kembali dipugar dalam beberapa kepemimpinan Bupati diantaranya Syamsu Anwar, JB Adam dan Muhammad Noer dalam rentang medio 1960 hingga 1975. Di awal pemerintahan Bupati Anas Malik, Pasar Pariaman terbakar yang menghanguskan hampir seluruh kios yang ada.

Kemudian Pasar Pariaman yang bertahan hingga sekarang dan pengelolaan Pasar Pariaman diserah kelolakan kepada Pemko Pariaman tanpa menghilangkan sejarah pasar serikat milik beberapa nagari.

Mengingat kondisi pasar yang telah berusia lebih dari 100 tahun itu sudah tidak layak lagi, pemerintah setempat berupaya merevitalisasi Pasar Pariaman dengan gaya bangunan jauh berbeda dengan gaya klasik yang dibangun oleh belanda tempoe doloe.

Dengan bangunan gaya baru itu, sedikit membuat perhatian pengunjung dengan hilangnya sebuah sejarah di Kota Pariaman. Atau sebaliknya, pengunjung dan warga Pariaman akan dimanjakan dengan gaya bangunan yang akan dibangun pada tahun 2019 ini.

Pertanyaanya, akankah gaya klasik bangunan yang ada di Kota Pariaman akan dilindas oleh dinamika zaman, atau hilang satu persatu demi sebuah pembangunan baru. Pertanyaan bodoh ini hanya bisa dijawab oleh yang tidak bisa mengambil kebijakan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas