Basapa, Wasilah Sang Murid kepada Sang Guru

Padang-today.com__Tradisi ‘Basapa’ merupakan wisata sejarah islam tidak asing lagi bagi masyarakat Padang Pariaman. Tepatnya di Kecamatan Ulakan Tapkis, khususnya.

Setiap tahun, setelah tanggal 10 Syafar masyarakat di daerah itu selalu memperingati meninggalnya Syekh Burhanuddin yang dikenal dengan sebutan ‘Basapa’.

‘Basapa’ karena kegiatan ini hanya dilaksanakan pada bulan Syafar Tahun Hijriah. Pada bulan itulah ribuan jamaah tarekat Syatariah dari berbagai daerah melaksanakan tradisi ‘Basapa’.

Meyakini kemulian dan keagungan guru menjadi salah satu kunci seorang murid agar selalu berbaik sangka kepada gurunya. Memuliakan dan mengagungkan guru juga menjadi wasilah bagi seorang murid untuk selalu patuh dan tunduk terhadap segala hal yang diperintahkan oleh gurunya tersebut.

“Tradisi Basapa adalah kegiatan ziarah ke Makam Syekh Burhanudddin di Ulakan. Kata Basapa sendiri diambil dari kata Syafar yang merupakan nama bulan dalam kalender Hijriah. Selain itu, tradisi Basapa merupakan penghormatan kepada Syekh Burhanuddin yang telah membawa dan mengajarkan agama Islam ke Minangkabau,” kata Tuangku Herry Firmansyah sebagai Khalifah XV dari Syekh urhanuddin.

Tradisi Basapa biasanya dilaksankan pada tanggal 10 Syafar atau pada hari Rabu minggu kedua dan Minggu ketiga bulan Syafar. Basapa ini dilakukan masyarakat sebagai ungkap rasa syukur dan terimakasih terhadap Syekh Burhanuddin atas jasanya mengembangkan ajaran Islam di Minangkabau.

Tarekat Syatarriah yang dibawa Syekh Burhanuddin mendapat tempat di hati masyarakat Minangkabau pada waktu itu, sehingga berkembanglah agama Islam di Ranah Mianang. Tanggal 10 Safar sendiri diyakini sebagai hari diamana meninggalnya Syekh Burhanuddin yaitu 10 Syafar 1111 H/1691 M.

Syekh Burhanuddin adalah salah seorang murid kepercayaan Abdul Rauf Singkel (w 1694) yang membawa ajaran tarekat Syatariah ke daerah Piamanan ketika itu. Ia lahir pada tahun 1646, dan meninggal pada tahun 1693 di Ulakan Padang Pariaman yang bertepatan pada bulan Syafar 1111H, dalam hal ini Syekh Burhanuddin dikenal sebagai tokoh yang berpengarauh dalam mengembangkan ajaran Islam versi Tarekat Syatariah di Minangkabau.

Sebelumnya, masyarakat atau jamaah dan murid-murid dari Syekh Burhanuddin untuk melakukan tradisi ‘basapa’ sering melaksanakan tradisi itu di bulan bulan lain. Dengan kesepakatan yang telah dilahirkan oleh para ulama-ulama di berbagai daerah, maka disepakati tradisi Basapa dilaksanakan pada bulan Syafar.

“Pada10 bulan Syafar itulah Syekh Burhanudddin meninggal dunia. Jadi artinya, setiap pada hari Rabu diatas tanggal 10 bulan Syafar jamaah dan masyarakat dan murid murid beliau selalu melakukan tradisi basapa tersebut,” ujarnya.

Tujuan dari jamaah untuk melakukan ziarah ke makam guru Syekh Burhanuddin pada bulan Syafar, salah satu bentuk atas kecintaan murid terhadap guru yang telah meninggal, maka dikenal dengan istilah Basapa di Ulakan itu.

“jadi artinya Basapa adalah menziarahi guru baik semasa hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Dengan istilah sakral bahasa dari ulama-ulama terdahulu, taragak jo guru yang hiduik, rumah tanggo nyo dijalang, suraunyo ditingkek, kaji nyo dituntuik.  Kemudian, Taragak jo guru yang telah meninggal dunia, kuburannyo dan peninggalanyo yang diziarahi,” kata dia.

Dengan menziarahi guru yang masih hidup akan mendapatkan keberkahan dan ilmu yang bermanfaat. Sedangkan menziarahi guru yang telah meninggal dunia bagi jamaah menyakini untuk menambah keimanan dan ketajaman marifaat kepada Allah S.W.T.

“Ziarah ke makam guru, kata dia, merupakan penghormatan atas jasanya sehingga ilmu yang diperoleh direstui Allah SWT, sedangkan mendatangi guru yang masih hidup akan mendapatkan ilmu yang berguna di dunia dan akhirat. Selain itu, Ziarah ke makam dapat memberikan pelajaran kepada kita bahwa kita tidak hidup selamanya,” kata dia.

Setiap hari orang-orang berziarah ke makam Syekh Burhanuddin, namun pada acara ‘Basapa’ orang-orang akan lebih banyak datang, karena pada saat tersebut Syekh wafat dan sekaligus sebagai ajang bersilaturahmi bagi para murid-murid beliau.

Sementara itu, salah satu panitia pelaksana tradisi ‘Basapa’ Rangkayo DT Bandaharo menambahkan, sebelum hari ‘Basapa’ jamaah tarekat Syattariyah akan datang baik secaara perorangan maupun rombongan datang ke Ulakan. Orang-orang yang datang tidak saja dari Sumbar namun juga dari provinsi lain bahkan ada dari luar negeri.

“Saat ‘Basapa’ para peziarah akan menginap beberapa hari di sejumlah mushalla dan masjid yang ada di daerah itu serta ada pula yang langsung kembali ke daerahnya masing-masing,” kata dia.

Ada beberapa kegiatan yang dilakukan peziarah dalam kegiatan ‘Basapa’ yaitu berzikir, membacakan tahlil dan tahmid. Rangkaian acara ‘Basapa’ dilakukan di Tanjung Medan, dan di Ulakan. Pada hari pertama tiba di Ulakan, para peziarah biasanya berkunjung ke Palak Gadang. (suger)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas