Batasi Konsumsi BBM Bikin Pertamina Dilema

kelebihan-kuota-tidak-dibayar-rev1Jakarta, PADANGTODAY.com – Diamanatkan oleh pemerintah untuk menjaga kuota, Pertamina sebagai perusahaan BUMN yang diamanahi menyalurkan BBM subsidi, melakukan berbagai langkah penghematan. Ternyata, langkah tersebut tidak semulus yang diperkirakan. Ada kepanikan di lapangan, sehingga orang ramai-ramai beli bensin.

Advertisements

Kuota Pertamina sendiri, yang dialokasikan oleh pemerintah hanya 45,355 juta kiloliter dengan rincian Premium 29,29 juta kiloliter, solar 15,16 juta kiloliter dan minyak tanah 900 ribu kiloliter.

Antrean yang panjang di setiap SPBU, membuat pemerintah memerintahkan Pertamina untuk menggelontorkan BBM subsidi, agar antrean dan kepanikan masyarakat mereka. Hal ini, seolah membuat Pertamina berada pada posisi terjepit. Berikut yang membuat Pertamina menjadi dilema.

1.Takut Kuota Jebol
Dengan kuota yang dialokasikan pemerintah sebesar 46 juta kilo liter, diperkirakan tidak akan mencukupi konsumsi BBM subsidi sampai akhir tahun.

Berdasarkan data yang ada, kebutuhan rata-rata premium yang disalurkan Pertamina per hari sampai akhir 31 Juli, mencapai rata 81.132 kiloliter. Padahal, dari kuota dalam APBNP 2014 kalau dihitung dibagi jumlah hari maka didapatkan angka 80.240 kiloliter. Jumlah tersebut telah melebihi kuota harian.

2.Program stiker BBM tidak jalan
Pembatasan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi kini tengah dicabut oleh PT Pertamina. Normalisasi pasokan ?BBM bersubsidi diharapkan membuat masyarakat tidak perlu lagi membeli secara berlebih.

Tetapi, kebijakan pemerintah yang tidak konsisten terutama dalam penerapan larangan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi untuk kendaraan dinas dan Badan Usaha Milik Negara, menambah beban konsumsi tidak berkurang. Padahal, saat itu, pemerintahan SBY sesumbar dan melarang kendaraan dinas menggunakan BBM subsidi dengan memasang stiker di setiap kendaraan.

3.Penghilangan Premiun di tol sia-sia
Pertamina mengakui pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dengan menghapuskan premium di jalan tol tidak berjalan secara efektif, untuk menekan konsumsi demi menjaga kuota. Padahal, volume penjualan BBM subsidi mencapai 700 kilo liter per hari.

Tetapi, efek dari pembatasan BBM di jalan tol ini ialah peningkatan konsumsi di luar tol. Jumlahnya persis sama seperti kuota BBM subsidi di dalam tol.

“Jadi terjadi efek balon. Itu berdasarkan data yang kita evaluasi dalam waktu satu pekan sampai 25 Agustus 2014,” paparnya.

4.Kelebihan kuota tidak dibayar
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya mengatakan keputusan pencabutan pembatasan BBM merupakan arahan pemerintah. Pemerintah menjamin akan bertanggung jawab jika kuota BBM melonjak dan jebol.

Pemerintah, menurutnya, juga meyakinkan Pertamina bahwa tidak akan mangkir pembayaran kelebihan kuota. CT sendiri akan menugasi menteri keuangan untuk mengalokasikan dana.”Kata CT tidak, nanti saya (CT) sampaikan ke menkeu. Kebijakan ini tidak akan merugikan Pertamina kata CT,” ungkapnya.(mr/nol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*