Bedah Otak Dengan Laser Pertama di Dunia

Otak manusia.

Otak manusia.

Advertisements

PADANGTODAY.COM-Para dokter bedah sering menggambarkan rumitnya proses operasi pengangkatan tumor otak seperti “mengambil jaring laba-laba di lapisan agar-agar”.

Mengambil sedikit bagian jaringan kanker bisa menyebabkannya tumbuh kembali, sementara jika terlalu banyak bisa merusak jaringan yang sehat dan membuat pasien cacat permanen.

Untuk menyiasati hal tersebut, salah satu rumah sakit di Inggris melakukan uji coba operasi otak menggunakan laser yang memiliki sensor suara (seperti yang terdapat pada sensor parkir di mobil), ketika pisau bedah mulai mendekati bagian tepi sel kanker.

Dengan adanya sensor tersebut para dokter bedah bisa mengetahui kemungkinan kesalahannya. Metode ini pertama kali dilakukan di dunia.

Alat tersebut adalah probe yang berbentuk seperti pena yang disebut Core, untuk melakukan pemeriksaan dengan cahaya inframerah yang langsung menyinari tumor dan memindai untuk mengetahui apakah jaringan tersebut jaringan sehat atau jaringan tumor.

Alat ini mampu mendeteksi atau melihat suatu perbedaan dalam waktu kurang dari satu detik dengan memberikan sinyal melalui suara peringatan, jika ahli bedah mendekati jaringan yang sehat.

Salah satu kendala utama yang dihadapi para dokter bedah saat ini adalah batas antar tumor dengan jaringan otak yang sehat sangat sulit untuk dibedakan, bahkan dengan menggunakan mikroskop operasi.

Saat ini, para ahi bedah harus melakukan proses pembedahan dengan mengambil beberapa potongan kecil jaringan untuk memastikan adanya kanker atau tidak. Proses biopsi ini dapat memakan waktu hingga 90 menit yang selanjutkan akan dilakukan pengujian.

Hasil dari pengujian akan dikembalikan ke ahli bedah yang menangani kasus tersebut, sementara pasien tetap berada dalam ruang operasi.

Alih-alih ingin mengambil sampel fisik, Core yang sedang digunakan untuk mengoperasi bagian yang mengalami tumor mengeluarkan sinar dari ujung alat tersebut, lalu pemindaian otak segera dilakukan untuk mengetahui perubahan komposisi kimia pada jaringan otak.

Molekul tumor akan bergetar saat berada di bawah sinar laser jika dibandingkan dengan molekul yang sehat, hal ini akan menyebabkan cahaya sinar akan melambung kembali dengan cara yang berbeda.

Cahaya ini akan segera ditangkap dan diinterpretasikan oleh komputer, dengan memberikan penjelasan singkat apakah molekul tersebut kanker atau bukan.

“Dengan menggunakan Core mampu menghemat waktu pembedahan hingga 30 menit, dari rata-rata waktu operasi yang biasanya memakan waktu hingga 3 jam,” kata ahli bedah Babar Vaqas.

Vaqas juga menambahkan, dengan memiliki suatu perangkat yang dapat membedakan antara jaringan yang sehat dengan jaringan kanker kurang dari satu detik, akan berpotensi untuk menghindari proses biopsi yang tidak perlu serta pelaksanaan operasi yang lebih dari sehari.

Pembuat alat Core, Canadian company Verisante Technology, berharap hal ini akan terus memacu keberhasilan lebih lagi, dengan berpedoman pada percobaan yang telah berhasil mendeteksi kanker kulit pada 1.000 pasien di rumah sakit Kanada.

Tumor otak telah menyebabkan sebagian besar orang dewasa di bawah umur 40 tahun meninggal dunia.

Para ahli bedah berharap Core yang telah terbukti berhasil dalam mengatasi kanker kulit di Canada, dapat menghambat bahkan menghentikan laju pertumbuhan sel kanker, serta mampu untuk mempersingkat jalannya proses pembedahan.

(Monica Erisanti/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*