Bencana Dalam Pariwisata

Padang-today.com__Belakangan, bencana alam seperti gempa dan tsunami menimpa Indonesia. Pariwisata jadi salah satu sektor yang kena imbas. Pengalaman menghadapi bencana gempa bumi yang melanda Indonesia menimbulkan kesadaran, khususnya di kalangan para pelaku wisata.

Berkaca dari pengalaman beberapa bulan lalu saat terjadi peristiwa bencana gempa bumi,Lombok Timur, Palu, sejumlah pelaku pariwisata di Indonesia menyadari akan pentingnya pemahaman dasar tentang bagaimana sikap dan tindakan apa yang perlu dilakukan ketika menghadapi bencana alam.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, terjadi gempa bumi dengan durasi singkat. Pilihan terbaik bagi masyarakat yang berada di zona merah pesisir pantai ialah menyiapkan diri untuk evakuasi, baik vertikal maupun horizontal dengan membawa seadanya.

“Bencana seperti pepatah untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, semuanya itu tak bisa dihindari. Yang terpenting, bagaimana kita memanfaatkan waktu yang mempunyai durasi begitu singkat dengan semaksimal mungkin selaku pengunjung wisata pantai,” kata salah satu pengunjung objek wisata pantai, Sukhary di Pariaman, Minggu 17-02-2019 beberapa hari lalu.

Senyampang terjadi gempa, kata dia, ia bersama keluarganya harus mampu untuk menyelamatkan diri dari bencana tersebut. “Sekiranya datang gempa dan Tsunami kami berupaya untuk cari selamat dari bahaya bencana itu,” kata dia.

Tingginya resiko kematian, kata dia, akibat warga berlari untuk menyelamat diri ada yang mengunakan kendaraan dan ada yang berjalan kaki. Sehingga, bagi warga yang berupaya menyelamatkan diri dengan berlari, terlindas oleh kendaraan yang sedang melaju kencang.

Ia berharap, kepada pihak pengelola wisata dan pemerintah setempat, untuk dapat meminimalisir akan terjadinya risiko gempa dan tsunami di daerah itu. “Seharusnya pihak pengelola wisata dan pemerintah cepat tangap dalam hal bencana ini. Misalnya, menyediakan perahu karet, pelampung dan shalter untuk menyelamatkan da evakuasi pengunjung wisata di pantai ini,” kata dia.

Terkai dengan hal itu, pihak pemerintah harus menyiapkan alat teknologi tanda-tanda terjadi bencana. Artinya, pihak pemerintah dan pegelola wisata tersedianya alat teknologi yang mumpuni akan deteksi poyensi bencana.

“Seperti harus tersedia lengkap water level di berbagai titik destinasi, supaya bisa mengukur ketinggian air,” terangnya.

Dipihak lain, salah satu traveling asal Jambi, Marjohan mengatakan, masyarakat yang ada disekitar bibir pantai di daerah itu harus mengetahui dan dibekali dengan pemahaman bagaimana menghadapi bencana gempa dan tsunami.

“Dari pengalaman beberapa peristiwa gempa Tsunami di berbagai daerah yang di Indonesia, sejumlah pelaku pariwisata di tanah air kita ini, terutama guide dan porter menyadari akan pentingnya pemahaman dasar tentang bagaimana sikap dan tindakan apa yang perlu dilakukan ketika menghadapi bencana alam,”

Menurut dia, para pelaku wisata perlu diberikan pelatihan mitigasi bencana terutama para guide dan porter. Selain itu, warga yang berada di sekitar pantai ini yang menjajakan dagangnya, perlu juga dibekali dengan pelatihan.

“Sebagai orang yang bersangkutan langsung di lapangan tentu mereka perlu dibekali dengan pemahaman tentang bagaimana langkah-langkah penanganan tamu ketika ada bencana, sehingga dapat meminimalisir hal-hal yang tidak kita inginkan,” kata dia.

Kesadaran akan pentingnya pengetahuan mitigasi bencana, menurut Marjohan bermula dari pengalaman ketika terjadi gempa bumi beberapa bulan yang lalu di berbagai daerah, seperti Lombok dan Palu.

Sementara Walikota Pariaman, Genius Umar dalam website resminya menyebutkan, masyarakat yang ada di sekitar pesisir pantai di daerah itu tidak usah terganggu dengan adanya isu yang berkembang saat ini.

“ Masyarakat tidak usah terganggu dengan isu bencana yang beredar di media sosial akhir-akhir ini. Isu bencana yang tidak jelas sumbernya sangat mengganggu masyarakat. Ditambah lagi Kota Pariaman sedang giat-giatnya membangun pariwisata. Wajar ada kecemasan masyarakat terhadap bencana, namun sebagai manusia beriman masyarakat tidak usah risau karena gempa maupun bencana lainnya adalah kekuasaan Allah SWT,” kata Genius.

Kota Pariaman, merupakan kota wisata yang siaga bencana. Pemko Pariaman rutin melaksanakan sosialisasi bencana ke sekolah-sekolah dan desa di Kota Pariaman.

“Saya mengimbau jangan takut berwisata ke Kota Pariaman, Saya pun selalu rutin melihat kondisi Pulau Ansu Duo dan Pulau Tangah serta wilayah pantai hampir setiap minggu,” kata dia.

Untuk jalur evakuasi, pihaknya telah membenahi dengan dengan shelter-shelter seperti di Kantor bersama Karan Aur. Dan rencana Pasar Pariaman yang akan dibangun juga akan memiliki fasilitas shelter. (*)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas