Berkunjung ke Bumdes Menginspirasi (3) : “Semangatnya Patut Ditiru…”

Empat hari perjalanan, mengunjungi sejumlah Bumdes di Yogjakarta dan Jawa Tengah, membuka mata dan menghadirkan optimistis pengelola Bumnag, Tenaga Ahli, Pendamping Desa, serta dinas yang mengelola pembangunan desa di Sumbar. Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Ikuti catatan tiga dari perjalanan tersebut.

Catatan Perjalanan : Firdaus Abie

Berkunjung ke Bumdes Menginspirasi (3) : “Semangatnya Patut Ditiru...”

Berkunjung ke Bumdes Menginspirasi (3) : “Semangatnya Patut Ditiru…”

Berkunjung ke Bumdes Menginspirasi (3) : “Semangatnya Patut Ditiru...”

Berkunjung ke Bumdes Menginspirasi (3) : “Semangatnya Patut Ditiru…”

Sebuah kawasan. Namanya, Puri Mataram. Puri Mataram berukuran seluas 4,5 hektar, berdiri di atas tanah kas desa, di Desa Tridadi, Slemen, Yogjakarta. Diberi nama Puri Mataram lantaran pengelola kawasan itu, Bumdes Tridadi Makmur memiliki impian bahwa wilayah mereka tersebut akan dikembangkan sebagai obyek wisata berbudaya Mataram.

Puri Mataram terus bersolek. Kondisi kekinian, diakui Direktur Bumdes Tridadi Makmur Raden Agus Choliq, kunjungan ke destinasi yang mereka kelola tersebut sudah mampu mendatangkan 1.000 hingga 2.500 pengunjung, setiap akhir pekan.

 

Baca juga : Berkunjung ke Bumdes Menginspirasi (2) : Beli Minyak Goreng Bekas Warga, Sampah pun Jadi Idola

 

Katanya, diberi nama Puri Mataram adalah sebuah impian. Berangkat dari filosofi budaya Mataram yang dijalani masyarakat setempat. Filosofinya adalah keindahan, ketenangan dan nuansa yang damai.

Kini, selain ada warung makan yang menyediakan makanan spesifik dan bangunan rumah adat jawa, juga ada taman bunga, taman kelinci, wisata air di Embung Mesem. Embung Mesem sama halnya seperti danau buata. Ada kolam pancing. Saat ini sedang dibangun tiga wahana lagi, termasuk penginapan.

Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebuah tebing tinggi menjulang. Ketika rombongan sampai di saja, menjelang salat ashar, panas terasa menyengat. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak tebing, sejumlah orang tampak mencari tempat berteduh. Sulit didapatkan.

Memandang tebing itu, saya teringat Ngarai Sianok. Teringat juga Lambah Harau. Bedanya, kawasan bukit ini gersang. Hanya ada beberapa tumbuhan di kawasan parkir bus. Cerita masyarakat setempat, wilayah bukit tersebut sudah mulai berkurang. Sejak tahun 1980-an sudah ditambang masyarakat. Bukit tersebut ditambang untuk dijadikan pondasi bangunan, dinding, lantai dan sebagainya.

Sebuah tim penelitian menemukan fakta penting. Bukit tersebut adalah endapan abu vulkanik letusan gunung api purba Nglanggeran di Gunung Kidul. Bukit yang kemudian diberi nama Tebing Tebing Breksi, dimasukkan dalam situs warisan geologi karena dinilai memiliki kepentingan untuk keilmuan, pendidikan, budaya, dan estetika, Tebing Breksi lalu dimasukkan dalam daftar situs warisan geologi. Penambangan pun dihentikan.

Belakangan Tebing Breksi menjadi  objek geowisata. Kemegahannya memberikan pesona untuk lokasi selfi dan foto pranikah. Dari kawasan itu, pemandangan akan lepas ke bawa. Terlihat jelas  Panorama Candi Ijo, Candi Ratu Boko, dengan latar Gunung Merapi dan Merbabu.

Kini Tebing  Breksi dikelola Bumdes Sambimulyo. Dulunya dikelola Pemkab Sleman.  Langkah awal  setelah perpindahan pengelolaan tersebut, Bumdes Sambimulyo selanjutnya Perda Bumdes. Selanjutnya baru dilakukan langkah-langkah untuk program kemitraan demi pengembangan potensi yang dimiliki.

Ponggok, Klaten, Jawa Tengah. Kolam renangnya menjadi fenomenal. Ribuan orang berkunjung dan masuk ke kolam setiap pekan. Berenang di kolamnya seperti berenang di laut. Ada pasirnya. Ada ikannya.

Lalu, menyelamlah. Jangan lupa, berfotolah. Pasti menyenangkan. Banyak barang ditemukan di dasarnya. Bisa menyelam sambil berfoto di atas sepeda motor, sambil main game, nonton tv, tidur di kasur dan beragam aktivitas lainnya.

Bagi yang tidak memiliki kamera khusus, pengelola menyediakan kamera. Bisa disewa. Harga sewanya di luar tiket masuk. Soal air tak perlu kuatir.  Airnya mengalir terus. Kolam tersebut dikelola Bumdes Tirta Mandiri. Mereka memanfaatkan tanah kas desa. Semua bergerak dengan cara berpikir memanfaatkan potensi yang ada dan melakukan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

“Sebelumnya tak ada yang memiliki konsep seperti ini,” kata Yani Setiadi, Sekdes Ponggok.

Ketua Forum Bumdes Indonesia H. Febby Datuk Bangso menilai, semua yang dilakukan adalah terobosan.  Ia memberikan apresiasi terhadap terobosan tersebut. Ia juga menyebutkan, sebuah langkah positif, apalagi sudah tampak hasilnya, tidak salah kalau diadopsi.

“Minimal, semangatnya patut ditiru!” kata Datuk Febby. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*