Beruk Dapat Menarik Wisatawan

Padang-today.com__Piaman Laweh sebuah daerah yang cukup dikenal oleh pedagang bangsa portugis semenjak tahun 1500 an. Hal itu dibuktikan dengan catatan tentang Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446 – 1524) seorang pelaut Portugis yang bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia.

Ia mencatat telah ada lalu lintas perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku, Tiagan Air Bangis dan Barus. Sebagai pusat penyebaran Islam di Minangkabau, Pariaman mempunyai keistimewaan tersendiri di bidang pendidikan yang tidak ada ditempat lain. Pendidikan yang dimaksud bukanlah pendidikan buat manusia, melainkan buat hewa..

Untuk daerah Lampung dikenal dengan sekolah Gajah, maka di Pariaman ada sekolah beruk. Di Pariaman, sistem pendidikan yang diberikan kepada beruk itu tidak seperti pendidikan sekolah atau akademi laninya.

Namun di Pariaman, pendidikan beruk yang diajarkan manusia mempunyai sistem dengan metode pratek langsung ‘hands-on learning. Hal ini, jelas sangat berbeda dan sangat memakan waktu dan tempat.

Zainal, (67) salah satu warga Gadur, Padang Pariaman, Sumbar mengatakan, untuk melatih sekor beruk ia menghabiskan waktu hanya 3 bulan. Itu pun beruknya telah memasuki masa produktif. Artinya, seekor beruk yang akan dilatih untuk mampu dan siap memetik kelapa diperlukan di usia dini, yaitu usia antara 1 – 2 tahun.

“ Untuk melatih beruk, sebaiknya pada saat usia masih muda. Yaitu usia 1 tahun. Setelah beruk beruisa diatas 30 tahun, beruk tersebut tidak produktif. Karena, pada usia tua itu timbul kemalasan pada beruk,” kata Zainal di Pariaman.

Untuk sebuah pendidikan beruk itu, kata dia, di Kota Pariaman dan Pemkab Padang Pariaman telah menyediakan pendidikan dan pelatihan memanjat kelapa (beruk). Pendidikan rumah beruk itu dapat di temui di Pasir Pariaman dan di Paguah Dalam Padang Pariaman, Sumbar.

 

Dalam pelatihan yang di ajarkan rumah beruk itu, tentu saja keahlian beruk itu tidak instan. Dengan adanya pendidikan seperti itu, para pelatih harus dituntut keahliannya dalam hal ini. Nah, disinlah peran para pelatih yang sebelumnya dilakukan secara informal, hingga saat ini menjadi semi formal.

Beruk yang masih muda dan liar, lanjutnya, perlu melakukan pelatihan yang cukup panjang. Untuk melatih beruk liar itu menghabiskan waktu 6 bulan – 1 tahun.

” Yang membutuhkan waktu relatif lama adalah saat beruk liar berumur 1-2 tahun. Beruk tersebut layak disekolahkan untuk memeperkenalkan dengan pohon kelapa dan buahnya, termasuk bersosialisasi dengan pelatihan dan lingkungan,” kata dia.

Dipihak lain, Khudri (59) mengatakan, Pariaman memiliki luas tanah yang banyak di tumbuhi oleh kelapa. Kendatipun demikian, untuk sebuah beruk memang sudah suatu keharusan dimiliki oleh warga yang bertani guna memetik kelapa.

Menurutnya, Beruk adalah hewan peliharaan berekor di Pariaman. Bukan dilatih untuk beratraksi topeng monyet, namun untuk memetik pohon kelapa yang di perintah oleh majikan atau ‘tuan’ beruk.

Katanya, jasa sebuah memetik kelapa di Pariaman sangatlah bervariasi. Maka beruk yang sudah ahli memetik buah kelapa selalu mendapat tawaran dari petani yang mempunyai hasil taninya dibidang kelapa.

“ Ada yang dibayar dengan uang, ada pula dibayar dengan mendapatkan sepertiga atau seperempat dari seluruh buah kelapa yang berhasil dijatuhkan beruk kepada pemiliknya,” ujarnya.

Pendidikan Beruk memanjat kelapa itu sebaiknya dilestarikan, karena merupakan kekayaan budaya lokal dan bisa dijual sebagai objek wisata di Pariaman. “Sayangnya sekarang sepertinya belum terkoordinir. Sehingga ada wisatawan yang menanyakan hal itu untuk ditonton, pihak daerah sudah barang tentu bisa menyajikan aktrasi panjat buah kepala tersebut,” tandasnya menghakiri. (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas