BNN Kembangkan Kasus Jaringan Narkoba di Lapas Pariaman

Padang-today.com__Indonesia saat ini tidak hanya sebagai negara yang menjadi salah satu tempat peredaran narkoba, bahkan ditemukan beberapa pabrik pembuatan narkoba. Ini menunjukan bahwa begitu besarnya pasar narkoba di Indonesia.

Di Sumatera Barat, khususnya Padang Pariaman dan Kota Pariaman salah satu daerah yang menjanjikan tempat peredaran narkoba bagi kalangan sindikat narkoba. Beberapa terjerumus sebagai pengguna karena faktor lingkungan dan pergaulan yang kurang tepat.

“ Dampak dari narkoba justru sangat membahayakan karena dapat merusak kesehatan diri, ikatan sosial masyarakat, merusak masa depan dan generasi mendatang,” kata Azmali salah satu pemerhati dampak kecanduan narkoba di Pariaman, Jumat 21-06-2019.

Menurutnya, banyak dari pengedar narkoba sudah tertangkap dan mendapatkan hukuman. Bahkan ada yang di hukum seumur hidup dan hukuman mati. Namun peredaran narkoba masih tetap banyak. Penjualan narkoba sepertinya begitu menguntungkan bagi sebagian orang, sehingga rela melakukannya walaupun di ancam dengan hukuman berat.

Salah satu permasalahan peredaran narkoba adalah beredarnya narkoba di lembaga pemasyarakatan (lapas). Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, LAPAS itu pengawasannya ketat dan peredaraan narkoba di Lapas jelas kegiatan ilegal.

“ Lapas di Indonesia menjadi semakin penuh oleh pemakai dan pengedar narkoba yang juga mengkonsumsi narkoba di dalam lapas itu sendiri,” kata dia.

Namun yang perlu diperhatikan adalah Lapas di Indonesia pada umumnya, Sumatera Barat khususnya adalah salah satu pasar bagi pengedar narkoba. Pemakai narkoba banyak ditahan di lapas dan mereka rata-rata mempunyai uang.

Realitanya saat tertangkap seringkali mereka belum dalam kondisi sembuh tapi masih ketergantungan pada narkoba. Kondisi ini menyebabkan mereka akan berusaha menggunakan segala cara untuk mendapatkan narkoba.

“ Bagi pecandu narkoba di dalam Lapas berupaya untuk dapat mengkosumsi kembali narkoba itu dengan cara mneyogok oknum sipir lapas, menyelundupkan narkoba lewat pegunjung, melempar bungkus narkoba dari luar tembok lapas dan modus lainya agar narkoba beredar didalam Lapas,” ujarnya.

Permasalahan yang terjadi saat ini, kata dia, kalau pemakai narkoba itu dianggap memiliki karakter seperti penjahat biasa. Sehingga bisa di campur dengan narapidana lainya, padahal mereka yang memakai narkoba adalah dalam kondisi ketergantungan obat yang sakit secara fisik dan psikologis.

“ Mereka itu membutuhkan rehabillitasi media untuk memulihkan kondisinya. Saat dimasukkan Lapas tanpa ada terapi medis maka ini tidaklah menyelesaikan masalah mereka karena mereka masih dalam kondisi ketergantungan obat,” katanya.

Segala upaya akan mereka lakukan untuk mendapatkan obat karena efek toleransi obat yakni untuk mendapatkan efek tertenu mereka membutuhkan dosis yang selalu bertambah. Sehingga mereka tidak akan ragu untuk membayar mahal untuk mendapatkan obat.

Kesempatan inilah yang dilihat oleh oknum tertentu yang ingin mendapatkan uang dengan menjualk obat kepada mereka. Salah satu cara bijak adalah sembuhkan dahulu mereka dari ketergantungan obat sehingga kegiatan jual-beli ini bisa terhenti.

Sementara Kepala Lembaga Pemasyarakan (Lapas) Kelas II B Pariaman, Sumatera Barat, Pudjiono Gunawan, pihaknya dalam melakukan pencegahan, peredaran didalam Lapas II B Pariaman dengan memperketat pengawasan di dalamnya.

“ Saat ini Lapas tersebut sudah kelebihan kapasitas namun untuk memperketat pengawasan di dalamnya pihaknya memasang kamera pengintai atau CCTV di 24 titik serta memeriksa petugas dan pengunjung ketika memasuki Lapas. Namun jumlah CCTV itu tentu belum mencukupi dengan banyaknya narapidana,” ujar Kalapas Pariaman.

Baru baru ini, kata dia, pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) akan melakukan pengembangan dua tersangka kasus narkoba di wilayah Pasaman dan Bukittinggi, Sumatera Barat yang merupakan jaringan Lapas Pariaman.

Terkait hal diatas,kata dia, menyatakan pihaknya siap memfasilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) guna mengembangkan kasus narkoba yang melibatkan dua tersangka diamankan Kamis malam yang merupakan jaringan Lapas tersebut.

“ Dua tersangka yang berhasil diamakan yakni Angga dan Bob pada hari Kamis malam sekitar pukul 19.00 WIB. Kasus tersebut dalam pengembangan pihak BNN Pusat,” tandasnya menghakiri.

Menurut pantauan di lapangan dan kutipan media lokal, keduanya diamakan di Jalan raya Pasaman – Bukittinggi dengan barang ekstasi dengan logo superman warna hijau dan logo crown warna hijau sebanyak 24 ribu butir dalam tiga bungkus dan satu bungkus sabu dengan berat satu kilogram.

Terkait dengan hal ini, pihak BNN masih dalam tahap pengembangan ke Lapas Pariaman untuk menjemput target salah satu warga binaan Lapas pariaman selaku pemesan atau pemilik narkotika tersebut. (Herry Suger)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas