BOLEH BERBEDA TAPI JANGAN SALING MARAH DAN BENCI Catatan: Yanti Elvita SE

 

Bila perbedaan yang kita cari-cari.Bila perbedaan yang kita kemuka-kemukakan, maka kecendrungan yang akan timbul adalah pertentangan-pertentangan. Pada akhirnya yang muncul adalah “lawan” dan “perlawanan”.

Mengapa kita tak mengemukakan “persamaan”. Bukankah terbentuknya sebuah bangsa dan negara karena diawali unsur “persamaan”. Sama-sama senasib.Sama-sama seperangai. Sama-sama seperjuangan. Sama-sama sepandangan. Tuah kita adalah “persamaan”. Karena rasa persamaan yang membuat kita berkeseiyaan, bukan berketidak-an. Kita menjadi sekata.Sekata dalam ikatan NKRI yang kucinta.

Saya prihatin kalau kita sebangsa dan setanah air ini tegerus dalam sikap keseiyaan.

Prihatin kalau kita saling berlawanan satu sama lain, ulah beda “pilihan” semata.

Saya ingat pada perkataan orang bijak, satu lawan teramat banyak- tertamat berat, seribu kawan belumlah cukup.

Unsur berlawanan itu adalah “tekanan”. Sementara, perlawanan adalah saling menekan satu sama lain. Saling menyerang. Saling hantam.Saling sikut. Saling caci maki. Saling hujat. Akhirnya kita ‘berdarah-darah’ dan lelah sendiri. Ujungnya; dendam kesumat!

Banyak di antara kita yang acap kali lepas kontrol ketika saat melakukan “perlawanan”. Akibatnya, pertentangan makin tajam. Segala “senjata” yang dapat melumpuhkan lawan dikokang, siap ditembakkan untuk ‘melenyapkan’ eksistensi lawan.

Saling membunuh karakter berapi-api dari mulut senjata yang memuntahkan segala sesuatu yang tajam-tajam dari lidah yang tak bertulang. Ia menghunus hulu hati dengan kata-kata yang tak termakan oleh telinga.

Was-was dan kecurigaan berlebihan menyelimuti pikiran-pikiran yang makin memburuk. Pikiran kalau diselimuti dengan hal-hal yang buruk-buruk maka hasilnya adalah ‘kejatuhan berpikir’ yang membuat segala elemen dalam diri menjadi lumpuh dan runtuh. Sehingga tak ada lagi indra yang cerdas dan indra yang jujur.

Mata melihat menjadi salah pandang. Karena melihat dengan dan dari tempat berdiri yang buruk. Sehingga apa-apa yang tampak di ruang mata, jelek semua.Buruk semua. Tak tersisa sedikit kebaikan di mata.

Telinga mendengar menjadi salah dengar, karena anak telinga tersumbat dari segala kebenaran. Akibatnya terjadi multitafsir.Penafsiran menjadi jauh.Meleset. Kebenaran ia terjemahkan sesuai dengan kepuasan hatinya sendiri.

Lidah menjadi salah rasa, karena ujungnya penuh dengan segala benci dan dendam.

Kaki melangkah menjadi salah arah karena dilangkahkan dengan segala itikad yang buruk. Sepanjang jalan, bukan kenikmatan perjalanan yang bersua, namun derita-derita yang mengantarkan langkah pada alamat yang salah.

Jantung yang berdebar tak lagi harmonis. Detaknya dipicu oleh kegelisahan-kegelisahan sehingga talinya makin menyempit, lama-lama menjadi putus.

Hati yang hakikatnya tempat bersemayamnya segala sesuatu yang putih menjadi keruh karena dugaan-dugaan negativ. Lama-lama ia menjadi kumuh. Lalu rusak. Inilah apa yang disebut dengan sakit hati kronis.

Kekhawatiran makin tajam. Lama-lama , ujung kekhawatiran itu mengarah pada hulu hati sendiri. Ini sakit dan ngilu. Cukam lukanya.

Gara-gara mengemukakan perbedaan-perbedaan tajam , kita menjadi orang yang sia-sia yang selalu melangkah dalam gamang dalam berbagai ketakutan-ketakutan yang berlumut di pikiran yang tak jernih.

Dan saat itu kita memandang hidup dan kehidupan dengan segala cita rasa negatif karena diri sudah kita siapkan menjadi supermarket kepesimisan.

Insan pesimis mirip dengan perumpamaan; hidup segan, mati pun enggan.

Kalau dunia kita tatap dalam kepesimisan maka hati rusuh. Hati yang rusuh, muaranya airmata kesedihan. Dalam sedih hati sakit.Amarah yang menyulut kebencian akan membuat kita menderita sendiri dan benar-benar jatuh sakit.

Marah merusak emosi dan otak. Ketika kita marah, darah akan langsung mengalir ke frontal cortex dan mengurangi kemampuan berpikir secara rasional. Marah, banyak membuat orang bertindak tidak rasional dan akhirnya menyesal.

Keputusan dan sikap yang diambil dalam keadaan marah, pastilah tidak rasional. Dan ini, berbahaya bagi lingkungan dan diri sendiri.

Kalau kita sebagai anak bangsa terjebak bersikap saling marah dan benci , itu alamat buruk bagi keutuhan bangsa sendiri.

Dan sebenarnya, berbeda itu biasa. Tapi jangan sampai terjadi, berbeda pendapat menimbulkan jurang permusuhan sesama kita. Itu sebagai salah satu ciri dari demokrasi.

Demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya; pemerintahan rakyat.Demokrasi adalah gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.

Demokrasi itu banyak jenisnya.Ada demokrasi absolut, demokrasi yang memberikan kekuasaan tertinggi secara langsung kepada rakyat. Demokrasi parlementer,liberal dan demokrasi terpimpin dan lain sebagainya.

Negara kita pernah memakai sistem demokrasi terpimpin yang untuk pertama kali diumumkan secara resmi di dalam pidato Presiden Soekarno pada tanggal 10 November 1956 ketika membuka Konstituante, yaitu corak demokrasi yang mengenal satu pemimpin menuju tujuan suatu masyarakat yang berkeadilan sosial. Tapi demokrasi terpimpin runtuh akhirnya, karena tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita

Lalu demokrasi kita demokrasi apa?

Ya, inilah demokrasi Pancasila. Yakni; demokrasi yang berdasarkan sila pancasila yang dilihat sebagai suatu keseluruhan yang utuh. Bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tapi tepat satu dan bersatu di wilayah NKRI.

Untuk itu, mari kita saling berjabat dan berbimbing tangan untuk kejayaan bangsa dan negara.

Boleh berbeda, tapi awas jangan saling marah dan benci.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas