Cagar Budaya, Warisan Yang Diabaikan

Pilbox Jepang Kenegarian Kuranji Hilia, Kecamatan Sungai Limau, Padangpariaman, Sumbar,

Padang-today.com__Kenegarian Kuranji Hilia, Kecamatan Sungai Limau, Padangpariaman, Sumbar, merupakan salah satu dari sekian banyak bangunan pertahanan yang dibuat oleh tentara Jepang pada masa pendudukannya ( 1942 – 1945) di wilayah pesisir Barat Sumatera pada era Perang Dunia II. Bangunan Pilbox peninggalan Jepang tersebut sudah tidak terawat, bahkan hampir punah.

Pilbox bangunan Jepang ini berdiri dengan ketinggian bangunan dari tanah adalah 1,5 meter dengan ketebalan bangunan rata – rata 25 cm dan berbentuk segi enam dengan masing-masing sisi berukuran 2,10 m dengan diameter atas 4,3 m.

Pilbox bangunan ini arah hadap ke arah Barat dengan pintu masuk berada di sisi timur. Pintu masuk ini berukuran lebar 90 cm, tinggi 1,8 m. Pada bangunan juga terdapat 5 buah lubang tembak pada masing masing sisi (kecuali pintu masuk) yang berukuran panajang 1,3 m x 30 cm. Namun kondisi Bangunan Pilbox jepang saat ini sudah tidak terawat, bahkan dijadikan kandang kambing bagi warga yang bermukim di kawasan tersebut.

“ Bangunan benteng peninggalan Jepang saat ini sudah banyak yang hilang dan banyak dijadikan gudang atau tempat kandang ternak bagi warga yang tinggal dikawasan itu, “ kata Nurdin salah satu warga setempat menuturkan kepada awak media, senin 16-04-2018 di Sungai Limau.

Katanya, peninggalan Jepang di sekitar Sunggai Limau ini ada tiga bangunan benteng pertahanan yang berbentuk pilbox tersebut, kemudian satu berbentuk goa atau lubang persembunyian yang lokasinya tidak jauh dari Pasar Sungai Limau.

Menurutnya, Goa atau lubang peninggalan penjajahan Jepang di Nagari Kuranji Hilir, Sungai Limau, Kabupaten Padangpariaman, Sumbar, salah satu bukti sejarah dan beberapa Pilbox masih minim perhatian pemerintah dan masyarakat setempat. Lokasi tersebut berada sekitar 100 meter dari pasar Sungai Limau, dengan memiliki panjang 30 meter.

Konon lubang tersebut, kata dia,  dahulunya difungsikan sebagai tempat persembunyian sekaligus posko utama penjajah Jepang. Dalam Lubang, terdapat 8 kamar sebagai ruang istirahat. saat ini, lubang tersebut telah banyak mengalami kerusakan dan pergeseran tanah akibat bencana gempa beberapa waktu lalu.

“Bangunan tersebut luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat setempat. Padahal kehadiran bukti sejarah tersebut dapat menjadi cagar budaya dan edukasi pariwisata sejarah Padangpariaman,” kata dia.

Hingga kini, lanjutnya, kondisi peninggalan penjajahan Jepang tersebut sudah ada sekitar tahun 1946. Dahulunya, sekitar tahun 1980-an dan 1990-an, anak-anak masih sering bermain dan mengunjungi bangunan dan goa tersebut.

Sejak Gempa 2009 lalu, kondisi lubang yang sudah mulai merosot akibat getaran dan pergesran tanah, lokasi dianggap tidak layak dan terlihat membahayakan pengunjung. Jarangnya kunjungan, membuat lokasi yang berada di antara perbukitan itu semakin merimba. “ Apalgi Pilbox atau bangunan benteng Jepang sudah mulai hilang,” ujarnya.

Al Muktadir, Sekretaris Nagari Kuranji Hilir mewakili Walinagari Janar Beyen menyebutkan, Pemerintah Nagari telah berusaha maksimal agar lokasi tersebut dapat termanfaatkan menjadi peningkatan perekonomian masyarakat.

Ia mengatakan, pihaknya berupaya untuk menjaga dan merawat peninggalan jepang tersebut. Namun, karena pihaknya terikat dengan sistim yang mengatur tentang peninggalan bersejarah ini.  “ Tidak semua UU otonomi daerah yang berpihak kepada daerah setempat, yang jelas pemerintah setempat dapat ikut turut serta menyelamatkan Kelestarian Cagar Budaya Peninggalan Penjajahan Jepang tersebut agar tidak hilang.

Dalam hal ini, lanjutnya, Peran Niniak Mamak, Pemerintah Nagari, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Padangpariaman diharapkan dapat menjaga dan merawat peninggalan bersejarah tersebut. (suger)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*