Catatan 2: Perjalanan Hidup Zul Ifkar Rahim Sang Anak Desa Meraih Cita-Cita, Kebenaran Pasti, Tegak Sendiri

H Febby Dt Bangso - Zul Ifkar Rahim ST

H Febby Dt Bangso – Zul Ifkar Rahim ST

Uda Ifkar, Sosok Cawawako Bukittinggi Pendamping H Febby Dt Bangso

KISAH DUA/ CATATAN PINTO JANIR

Suatu kali saya dituduh bersalah, hingga dikeluarkan dari sekolah saya di SD Balaigurah. Tersebutlah seorang kawan sama besar yang mencari-cari lilik kepada saya. Badan saya ditulak-tulaknya. Tinjunya diarah-arahkan kepada saya

Tiba di kampung halaman, saya masuk kembali ke kelas dua SD. Kebiasaan anak lelaki di Minangkabau harus pandai mengaji pandai bersilat pula. Sambil sekolah saya mengaji di surau. Setelah mengaji, belajar bersilat agak sedikit. Kata guru mengaji saya yang juga guru bersilat itu: “ lahirnya silat mancari kawan, bathinnya silat mencari Tuhan”.

Bersilat itu melatih kearifan kita. Melatih rasa. Melatih tenggang. Dan melatih selera. Orang bersilat adalah orang yang arif dalam artian “belum terkilat sudah terkalam. Belum belompat ikan dalam tebat, sudah jelas jantan betinanya”.

Tapi kini saya melihat, anak kemenakan kita sekarang tak lagi gemar bersilat, mereka lebih suka bermain gadget,HP, atau yang lain sebagainya. Olahraga beladiri mereka tak lagi olahraga yang mengakar di tengah kebudayaan awak, melainkan menggemari beladiri orang Jepang.

Saya ingin benar, generasi saat ini suka dan kembali cinta dan bangga pada nilai-nilai tradisinya sendiri, ketimbang ‘tradisi’ luar yang kadang tak sesuai dengan tingkah ‘alam’ kita, alam mana  yang merupakan “alam takambang manjadi guru”.

Suatu kali saya dituduh bersalah, hingga dikeluarkan dari sekolah saya di SD Balaigurah. Tersebutlah seorang kawan sama besar yang mencari-cari lilik kepada saya. Badan saya ditulak-tulaknya. Tinjunya diarah-arahkan kepada saya. Tapi saya berusaha untuk bersabar. Karena kata Apak, orang yang mulia di sisi Allah adalah orang yang sabar dan tawaqal.

“Manga ko ha….alah mah….alah tu…mambana den ha….!” kata saya sambil meletakkan tangan di kepala.

“ Mambana-bana apo dek ang ko ?” katanya dengan suara tinggi dan secara tiba-tiba ia terajang saya sekuat ia menghuja. Reflek, saya elakkan. Malang yang akan timbul datang padanya, tubuhnya tersungkur surang.Ia masuk tebat. Kepalanya terantuk ke batu di tebat itu. Darah mencoroh. Lalu saya julurkan tangan saya, saya angkat ia ke atas. Dia menangis tersadu-sadu.

“Wa-ang tungok-an wa-aden. Den kadukan ka amak den, caliak dek ang!”

Saya hanya diam saja.

Besoknya di sekolah saya dipanggil Buk Guru yang juga Etek dari paja yang kemarin menerajang saya itu.

“ Kamu dipecat dari sekolah ini karena mendorong kawan masuk tabek!”

Tidak dapat membela diri saya dibuatnya. Baru saya akan bicara, dilapuknya tangan saya oleh Buk Guru dunsanak paja itu pakai rol kayu. Saya diam saja. Dalam hati, sungguh; saya sedih. Tapi saya tak ingin menangis. Sebenarnya, ingin benar saya mengatakan bahwa “ saya tidak bersalah”. Tapi saya sadar, menyampaikan kebenaran dalam keadaan lemah dan ‘kecil’ itu adalah sesuatu yang tak mungkin. Kami adalah bukan siapa-siapa, kami orang biasa. Dalam keadaan begitu, saya sebenarnya tak ingin membiarkan orang berlantas angan pada diri kita, tapi teringat pada ajaran Apak, bahwa kita harus sabar. Kebenaran pasti akan tegak dengan sendirinya.

Saya sampaikan kepada Apak dan amak akan kejadian ini.Kejadian yang mengakibatkan saya dikeluarkan dari sekolah akibat perbuatan yang tak pernah saya lakukan. Apak dan Amak menerima dengan sabar pula. Mereka sebenarnya sedih juga, tapi kesedihan itu tak diperlihatkannya kepada saya. Mungkin mereka khawatir bila kesedihan itu mereka perlihatkan, tentu saya akan terpukul dengan sendirinya.

“ Kalau begitu, wa-ang pindah sekolah saja ke SD 02 Baso. Ada dunsanak awak jadi guru di sana…….”, kata Apak.

SD 02 Baso itu jauh dari rumah. Jaraknya mungkin ada sekitar 4 atau limo kilometer. Jarak tentu harus saya lalui dengan berjalan kaki atau menunggu kereta api. Ya, pagi-pagi buta saya harus menunggu kereta api di stasiun. Kalau telat bangun, saya terpaksa berjalan kaki. Pulang sekolah jam 12 tengah hari. Sementara kereta api tiba pukul 4 sore. Menanti keretaapi empat jam saya manfaatkan waktu itu dengan bermain-main sendiri atau membaca-baca buku pelajaran. Atau bila ada kereta api langsir, saya sudah siapkan paku sebesar tunjuk. Paku itu dibentangkan di atas rel sampai licak. Tiba di rumah saya asah. Tangkainya saya kasih kayu. Nanti pisau buatan saya itu dijadikan amak untuk ke dapur. Senang saya, pisau saya berguna bagi emak. Bahkan pisau dari paku itu sering saya kasih kepada kawan-kawan untuk dikasihkannya pula kepada amaknya.

Pada saat ini saya terkenang pada kawan sesama pergi dan pulang sekolah kadang jalan kaki dan kadang naik keretaapi itu. Saya terkenang kepada konco palangkin saya Benhrad yang kini mempunyai beberapa petak tokok di Blok M Jakarta, juga Edi Semok yang pagarah yang kini tinggal di Dumai. Ia PNS. Bersama konco palangkin ini kami sering bermain-main hingga ke sungai janiah. Di sini kami sering berlumbo-lumbo alias mandi-mandi.

Pada masa-masa itu, Apak merantau ke Jakarta. Kami berlima beradik-kakak ditinggal di kampung. Kami mendapat kabar, usaha bapak belum kunjung naik di Jakarta.Masih sangat pas-pasan. Kiriman bapak belum mencukupi untuk kami hidup bersama dengan Amak. Akhirnya, kami beradik kakak sering membantu amak mengambil upah ke sawah orang.(***)

N a m a : ZUL IFKAR RAHIM. ST

Tempat dan Tanggal Lahir : Bukittinggi, 10 Januari 1958

Kewarganegaraan : Indonesia

Jenis Kelamin : Pria

Agama : Islam

Status Perkawinan : Kawin

Alamat : Jl. Sudirman No 25 A. Birugo Bukittinggi

PENDIDIKAN : 1992 : Sarjana Teknik Planologi Unisba Bandung 1997 : Politeknik Pekerjaan Umum/ITB Bandung 1978 : Sekolah Teknik Menegah Negeri – I – Padang

PENGALAMAN KERJA : 1979 – 1984 : Departmen Pekerjaan Umum Jakarta 1984 – 1999 : Departmen Transmigrasi & Pemukiman Perambah Hutan Jakarta 1999 – 2003 : Departmen Transmigrasi & Tenaga Kerja Jakarta 2004 – 2014 : Pemda Kota Bukittinggi Pengalaman Organisasi 1987 : Mendirikan Organisasi Minang ”Utasebumi (Unit Pecinta Seni Budaya Minang) di Unisba – Bandung 1992 : Penyelenggara Seminar Budaya Minangkabau di Unisba Bandung 2008 : Penyelenggara Lokakarya Pengembangan Bukittinggi Koto Rang Agam di Istana Bung Hatta. Bukittinggi 2011 : Penyelenggara Seminar Bukittinggi Salingka Agam di Istana Bung Hatta.

Sambungan catatan dari:

1. Uda Ifkar, Sosok Cawawako Bukittinggi Pendamping H Febby Dt Bangso

2. Zul Ifkar Rahim, Impian Anak Desa Meraih Cita-Cita / catatan PINTO JANIR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas