Cerita Si Sahat Dari Pulau Samosir

Atiqah Hasiholan.

Atiqah Hasiholan.

Advertisements

PADANGTODAY.COM-Ini cerita tentang si Sahat, anak Samosir yang suka menulis dan bercerita. Anak muda yang memiliki pikiran ke masa depan, yang membuatnya kepingin pergi dari kampungya di tepian Danau Toba.

Kebetulan Sahat memenangi sebuah sayembara novel. Alasan itulah yang meguatkan dirinya untuk segera merantau, pergi ke Jakarta untuk mengejar impiannya sebagai seorang penulis besar. Bersama kawannya, Si Tigor, Sahat pun pergi merantau.

Oleh emak, Sahat dipesankan jangan kiranya dia lupa diri. Jangan lupa dari mana dia berasal. “Kalau kau sukses, sukseslah kau dengan karya-karyamu,” begitu pesan Emak.

Sebab tahu keputusan si Sahat sudah bulat, Emak pun hanya bisa merestuinya. Esoknya, pagi-pagi benar, Emak pergi ke pasar terbesar di Samosir sambil membawa kain-kain yang dia punya untuk dijual, sekedar untuk memberi Sahat bekal.

Sahat dan Tigor pun menyeberang Danau Toba meninggalkan Samosir. Tak ada yg tahu apakah Sahat bakal kembali atau tidak. Sepasang sahabat itu pun menumpang bus membelah pulau Sumatera menuju Jakarta dengan tujuan untuk mengambil hadiah kemenangannya sebagai juara menulis novel, sekaligus memulai hidup baru sebagai warga ibu kota.

Tapi alangkah terkejutnya saat menemui alamat yang dituju, ternyata rumah seorang calon presiden republik ini yang juga seorang koruptor. Untunglah ada Mona di sana, puteri si koruptor yang rupanya tak cuma jatuh cinta dengan tulisan Sahat, tapi juga sekaligus cinta kepada penulisnya.

Kecewa oleh kenyataan yang dihadapinya, Sahat dan Tigor pun terdampar di rumah Sabar, perantauan dari Samosir yang sudah lebih dulu menghuni kota Jakarta. Oleh si Sabar, Sahat pun diakomodasi. Dibelikannya komputer agar Sahat menghasilkan karya-karya besar, yang darinya akan mendatangkan uang dan kemakmuran hidup.

Begitulah, kisah kaum urban yang mengambil judul dari puisi Sitor Situmorang “Bulan di Atas Kuburan” ini melengkapi kisah-kisah sebelum ini tentang warga perantauan yang berjuang keras demi megejar impian di kota Jakarta.

Di panggung bergantungan baju, celana, dan kain-kain ulos. Baju-baju dan celana-celana itu punya Minar isteri si Sabar yang memuka jasa laundry. Sementara kain-kain ulos itu milik emak si Sahat. Di tengah, ada meja kerja milik Mona.

Menyaksikan jalanya dramatic reading yang berlangsung 1,5 jam ini rasaya kurang mulus jalannya. Bisa jadi karena para pemerannya belum lama memegang naskah, sehigga pada beberapa bagian masih terbata-bata mengeja suasana batin naskah yang dibaca. Walhasil, emosi yang coba dibangun oleh Ria Irawan yang jadi isteri Sabar, Atiqah Hasiholan yang berperan jadi Mona, dan Mutiara Sani yang berperan sebagai emak si Sahat, rasanya tak pernah tuntas. Sebab berkali-kali para pemeran itu harus menundukkan kepala untuk “mengeja” naskah.

Apalagi pergelaran ini tak menggunakan musik sebagai ilustrasi untuk memperkuat bangunan suasana, maka jadilah tontonan ini pun jadi terasa lamban dan menjemukan.

Dramatic reading ini berlangsung pada Sabtu, 4 April 2015 di Galeri Indnonesia Kaya, Jakarta, pukul 15.00 hingga 16.30 WIB.

(jy/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*