Dalam Subuh Mubarakah, Staf Khusus Kemristekdikti Gus Wahid: Kalau Ingin Berhasil, Banyaklah Berdoa

Dalam Subuh Mubarakah, Staf Khusus Kemristekdikti Gus Wahid: Kalau Ingin Berhasil, Banyaklah Berdoa

Dalam Subuh Mubarakah, Staf Khusus Kemristekdikti Gus Wahid: Kalau Ingin Berhasil, Banyaklah Berdoa

Padang, PADANG-TODAY.com-Staf Khusus Kemristekdikti Dr KH Abdul Wahid Maktub yang akrab disapa Gus Wahid mengatakan banyak berdo’a, bersadaqah, bersilaturrahmi, birrul Walidain, dan mengamalkan kebaikan-kebaikan lainnya serta berusaha dan berikhtiyar tanpa henti akan menghindari takdir buruk. Sebab amaliyah-amaliyah dan segala ikhtiyar tersebut bisa tergantikan dengan kebaikan-kebaikan dan keberhasilan.

“Sesungguhnya doa dan bencana itu diantara langit dan bumi, keduanya berperang dan doa dapat menolak bencana, sebelum bencana tersebut turun,” ujar Gus Wahid mengutip salah satu hadis Nabi Muhammad SAW dalam Kuliah Subuh di Masjid Raya-Azhar Universitas Negeri Padang dalam rangka program Subuh Mubarakah UNP 2017, Jumat (28/4).

Tapi sebagian orang masih ada memiliki anggapan yang salah dalam memahami takdir. Mereka ahnya pasrah terhadap takdir tanpa melakukan usaha sama sekali. Hal itu adalah kesalahan yang nyata.

“Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas? Apabila kita sudah mengambil sebab dan mendapat hasil yang tidak kita inginkan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuaanya sudah merupakan ketetapan Allah,” demikian Gus Wahid saat membawakan kuliah subuh yang dihadiri ratusan jamaah Subuh Mubarakah UNP 2017.

Di kesempatan itu KH Maktub berbagi pengalaman hidup berkisah tentang Mantan Presiden RI KH Abdul Rahman Wahid alias Gus Dur.Gus Dur tokoh panutan, banyak pesan-pesannya bisa dijadikan pedoman hidup termasuk di dunia pendidikan.

Dulu, ia pernah menjadi asisten Gus Dur, tiba-tiba tokoh pluralisme itu jadi presiden.

“Saya jadi dekat deng api, jadi banyak sekali dapat jabatan-jabatan strategis ini. Saya dapat jabatan komjen termuda lalu Dubes termuda, itu karena takdir” katanya.

Gus Dur mengalami kekurangan secara fisik tapi teryata nilai manusia bukan di ukur dari fisik saja. Gus Dur lemah fisik tapi dia penuh kasih.Jendral Sudirman pun cacat, sakit-sakitan tapi ditakuti Jenderal Belanda karena punya visi, punya semangat juang, dan tak pernah berhenti berpikir.

“Saya anak kampung tapi ibu saya berusaha saya sekolah karena ibu berpikir pendidikan adalah cahaya. Bayangkan kalau malam tak ada cahaya, siang tak ada cahaya. Jadi kita butuh cahaya lahiriah tapi kita juga butuh cahaya batiniah yaitu pendidikan,” sebutnya.

Sementara itu kepada wartawan mengatakan, pimpinan UNP mengupayakan terus agar tokoh nasional dapat mengisi jadi narasumber kegiatan rutin mahasiswa Subuh Mubarokah.

Ganefri menyebutkan tujuan dari pimpinan UNP untuk mendatangkan tokoh nasional ini guna memberikan kepuasan dan tambahan pengetahuan serta pengalaman bagi mahasiswa. Seperti tujuan awal Subuh Mubarokah untuk membentuk karakter mahasiswa, tentunya kedatangan tokoh nasional ini akan lebih mempertajam kemampuan tersebut.

“Sebagai contoh kedatangan Panglima TNI beberapa waktu lalu sebagai representasi kehadiran tokoh nasional tersebut,” tambahnya.

Tentunya, ujar dia, kedatangan Gus Wahid selain menambah ilmu agama namun juga informasi tentang pendidikan tinggi. Menurutnya kegiatan ini memiliki manfaat bagi mahasiswa dalam pengembangan karakternya serta juga menjadi pengendali dalam bersikap selama kuliah di kampus. Dia berharap dari kegiatan semacam ini akan terbentuk karakter mahasiswa yang memiliki jiwa kepemimpinan Islam di masa depan.

Hadir juga dalam Subuh Mubarakah UNP 2017, Jumat (28/4) kemarin, Para Wakil Rektor, Prof Yunia Wardi (WR1), Syahril,Ph.D,(WR2) Prof Ardipal (WR3) dan Prof Syahrial Bakhtiar (WR4), Para Dekan dan Dosen selingkungan UNP, Kabag dan Kasubag, dan tenaga kependidikan lainnya.(rel/Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas