DDS Kampanyekan Anti Kekerasan Seksual Anak

DDS Kampanyekan anti kekerasan seksual anak.

DDS Kampanyekan anti kekerasan seksual anak.

PADANG, PADANGTODAY.com-Sabtu (4/4) sekitar pukul 07.30 pagi, Palanta Rumah Dinas Walikota Padang telah diramaikan rekan guru dan beberapa mahasiswa. Mereka hadir meramaikan Seminar dan Workhsop SELARAS, yang diagendakan oleh Dompet Dhuafa Singgalang.

SELARAS merupakan singkatan dari ‘Selamatkan Anak dari Kekerasan Seksual’. Agenda ini diusung oleh Dompet Dhuafa Singgalang mengingat maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak yang angka pertumbuhan kasusnya melonjak naik setiap tahun.

Dompet Dhuafa Singgalang selaku pihak penyelenggara tak menyangka, apresiasi masyarakat, terutama rekan guru, ternyata begitu antusias untuk turut serta dalam kegiatan seminar dan workshop ini.

“Saya tak menyangka seminar ini mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat, mengingat isu tentang kekerasan seksual terhadap anak sudah terlalu banyak diangkat media,” ungkap Ketua panitia acara dari Dompet Dhuafa Singgalang, Fera Marleni.

Acara yang digawangi MC Deni Pratama ini, diawali dengan kata sambutan dari Branch Manager Dompet Dhuafa Singgalang, Musfi Yendra, yang berbicara tentang visi & misi lembaga serta tujuannya untuk mengangkat harkat kehidupan anak.

“Anak-anak merupakan generasi yang berperan penting dalam mengemban tanggung jawab negara di masa depan. Sebagai lembaga masyarakat, kami merasa memiliki kewajiban untuk menjaga dan mengayomi segenap masyarakat untuk menjaga, mendidik, dan mengarahkan anak-anak agar tumbuh menjadi generasi bermutu nantinya,” ujar Musfi dalam sambutannya.

Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah, turut memberikan sambutan yang menekankan dukungannya terhadap agenda yang dilaksanakan Dompet Dhuafa Singgalang ini.

Bagi Mahyeldi, edukasi mengenai seks tidak hanya ditujukan untuk melindungi anak-anak, namun terlebih penting bagi kaum pubertas ke atas mengingat kontaminasi media yang kini marak mengumbar hal-hal dibatas norma susila. Edukasi berupa pendidikan rohani dan agama sangat dibutuhkan untuk memperbaiki mindset masyarakat agar mengubah pola hidup menuju akidah yang benar.

Kelancaran acara berkat moderator, Wilda Qudsi Mirawati, membawa peserta dalam nuansa santai namun serius, serta melibatkan peserta dalam game ringan untuk memecah kekakuan peserta.

Seminar dan Workshop pencegahan kekerasan seksual terhadap anak ini, menghadirkan tiga pemateri. Tinjauan dari segi agama, dibawakan oleh Ketua TP PKK Padang, Harneli Bahar. Dari sisi psikologi anak, materi disampaikan oleh Siti Komariyah yang merupakan Pakar Psikolog dari Jakarta. Sedangkan dari segi kriminologi, materi disajikan oleh Kanit Reskrim Polresta Padang, Suwantri.

Bagi Harneli, anak harus di edukasi sedini mungkin, mengingat banyaknya paparan media dan kemajuan teknologi sehingga hal-hal berbau SARA mudah diakses tanpa batas oleh masyarakat dari segala kalangan usia.

“Di zaman sekarang, orangtua tidak boleh gaptek, orangtua harus mengikuti modernisasi yang berkembang. Jika orangtua gaptek, secara otomatis ia tak bisa megikuti isu publik yang mungkin akan mempengaruhi anak. Patutnya, orangtua-lah yang selalu update terhadap perkembangan teknologi agar bisa mengarahkan anak,” ujar Harneli dalam materinya.

Dari sisi psikologis anak, Siti Komarityah berbagi materi dalam bentuk video untuk mengedukasi anak untuk sedini mungkin mengenal ‘aurat’ nya. Sehingga anak bisa melakukan antisipasi, melindungi aurat mereka secara mandiri. Menjauhkan jangkauan orang-orang jahil dari aurat mereka. Jika ada gangguan terhadap aurat mereka, anak-anak diajarkan untuk berteriak, meminta tolong, maupun mengadu kepada orangtua, guru, ataupun pihak yang bisa mereka percaya.

Tak jauh berbeda dari Harneli dan Siti Komariyah, Suwantri dari sisi kriminologi menilai bahwa anak harus diajar sedini mungkin tentang etika, tatakrama bersikap dan berpakaian, sehingga tidak mengundang niat jahat orang lain. Dan kembali pada pendidikan orangtua, anak cenderung berteladan kepada orangtua. Peran orangtua sangat penting untuk memberi arahan bagi anak dengan mencontohkan serta menanamkan nilai-nilai kebaikan agar anak jauh dari hal-hal yang membawa pengaruh negatif.

Dalam gelaran seminar ini juga diakhiri dengan penggalangan dana untuk Jingga, balita 2,5 tahun penderita jantung bocor. Alhamdulillah, dalam penggalangan dana tersebut terkumpul dana sejumlah dua juta rupiah (penggenapan oleh ibu Harneli-red) untuk membantu biaya keberangkatan Jingga melakukan operasi tahap kedua di Jakarta. (nisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*