Demokrasi Digital dan Kekuatan Golput Pada Pemilu 2019

Padang-today.com__Ungkapan kekecewaan masyarakat terkait isu politik pada pemilu dan pilpres terus bermunculan. Salah satunya berupaya untuk tidak ikut dalam pemilu dan Pilpres kali ini, atau disebut Golput.

Kekecewaan masyarakat didasari dengan isu demokrasi yang serba cepat , namun tidak dapat dipertanggung jawaban atas kebenara isu tersebut atau disebut Hoax. Hoax yang menghujat satu sama lain pada era demokrasi saat ini.

Fenomena golongan putih alias Golput kerap terjadi menjelang penyelengaraan pemilu di Indonesia. Golput bisa terjadi akibat ketidak percayaan masyarakat terhadap poltik baik dalam bentuk partai maupun kandidat pemimpin yang akan bersaing.

“ Hoax sebuah pemberitaan bohong dengan tujuan untuk mempengaruhi pembaca untuk mempercayai seuatu,” kata salah satu masyarakat Sungai Limau, Suherman Effendi, Sabtu 02-03-2019, di Pariaman.

Menurutnya, dengan timbulnya kekecewaan masyarakat terhadap media sosial dan media lainya, seakan-akan menyudutkan masing-masing kontestan dalam menghadapi pemilu, baik itu pileg dan pilpres yang akan dilangsungkan pada tahun 2019 di negeri kita ini.

Dengan fenomena seperti itu, masyarakat yang telah ikut dalam daftar pemilihan, baik pileg dan pilpres  sangat tipis kemungkinan pemilu dan pilpres berjalan sukses. Kenapa tidak, kekuatan untuk tidak ikut dalam pemilu kali ini ‘Golput’ juga sangat banyak.

“ Masyarakat sudah muak dan bosan dengan disuguhkan oleh medsos dan media lainya yang berhubungan dengan dunia digital saat ini. Dengan lahirnya berita bohong, ujar kebencian, sangat kental akan timbul Golput pada pemilu kita kali ini,” kata dia.

Ia menyatakan dengan keyakinan dengan adanya fenomena seperti itu, untuk pemilihan presiden ‘pilpres’ 2019 cukup tinggi golput di masing-masing daerah. “ Ketika KPU melahirkan pasangan calon presiden dan wakil presiden di umumkan, timbul berbagai pertanyaan dalam masyarakat. Sehingga terbentuk opini publik yang menimbulkan kekecewaan d tengah-tengah masyarakat kita yang lahir dari demokrasi galau saat ini,” kata dia.

Artinya, masing-masing pasangan calon presiden dan wakilnya yang akan berkompetisi pada 2019 ini, hanya mengkedepankan dan menunjukan superrioritas dan saling hujat menghujat satu sama lainya. “ Semua ini dapat kita lihat dari komunitas-komunitas medsos masyarakat kita yang terbelenggu dalam sistem demokrasi digital, alias demokrasi galau,” kata dia.

Kenapa demikian, kata dia, dewasa ini masyarakat kita disuguhkan dengan berita bohong dan ujar kebencian yang mewarnai demokrasi kita ini. Atas dasar itulah semangkin menguatnya golput pada pemilu 2019.

“ Jadi artinya, demokrasi kita ini seperti apa…? mari kita surut kebelakang, demokrasi kita tumbuh dan berkembang pada saat penjajahan belanda, masyarakat berdemokrasi untuk bersama dan milik bersama, dengan bermusyawarh dan mufakat yang mempunyai etika bersama,” kata dia.

Nah, lanjutnya, kekecewaan masyarakat tidak hanya berhenti pada pilpres, kekecewaan masyarakat berkembang hingga pada pemilihan legislatif, Pileg. “ Masing-masing caleg saling sikut menyikut, saling hujat menghujat dan bahkan ada terjadi pembunuhan karakter pada pemilu kali ini,” kata dia.

Dipihak lain, Khairunsyah, salah satu pemerhati kemasyarakatan Pariaman terkait dengan hal diatas mengatakan, pada era millenial terbuka bebas. Namun, rentan diserang benalitas informasi. Begitulah perubahan, akan memberikan distorsi. Perubahan-perubahan yang cepat membuat akan menjadi malas berpikir.    “Kalau sudah nyata ada, tidak usah berpikir bagaimana ia ada, ataukah benar-benar ia ada,” kata dia.

Generasi millenial selalu dihadapakan dengan informasi serba cepat. Semuanya ini tidak terlepas dengan tekhnologi digital. Begitu pesatnya perkembang aplikasi dan konten-konten di dalam smartphone untuk sebuah informasi, perdagangan dan jasa.

Terbukti kata filosuf, perubahan itu mutlak, ia adalah keaabadian, yang tak berubah akan punah, yang tak produktif akan hilang dan mati. Untuk sebuah generasi millenial, mereka tidak ingin terikat, bebas. Namun rentan diserang benalitas informasi.

“ Begitulah perubahan,  akan selalu melahirkan suatu distorsi. Dan perubahan yang cepat membuat orang jadi malas berpikir,” kata dia.

Era millenial sangat terbuka bebas, peluang dan tantangannya selalu beriringiringan. Sama sekali tidak bisa diangab jalan mudah. Meraka yang siap untuk berkompetisi dan mereka akan melewati yang hanya sibuk memoles diri, atau mereka terlena dengan wajah-wajah gelamor.

Pada era millenial, masayarakat dihadapkan dengan kecangihan informasi melalui tekhnologi digital. Bahkan, dengan hadirnya digital dapat menyuguhkan infomasi secara cepat dan instan dikalagan generasi muda saat ini.

Namun sebaliknya, hadirnya digital ditengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara dapat menghambat kelancaran berdemokrasi. Hal ini dibuktikan dengan tumbuh kembangnya berita hoax dan ujar kebencian di medsos-medsos yang mewarnai demokrasi kita saat ini.

Dengan fenomena seperti itu, kata dia, tidak tertutup kemungkinan akan adanya pada diri masayarakat pemilih di Pemilu 2019 ini bersikap tidak memilih alias golput. “ Karena masyarakat sudah dikecewakan oleh tayangan-tayangan informasi yang tidak dapat dipertangung jawabkan dalam menyudutkan seseorang,” kata dia.

Jadi artinya, golput tetap ada pada demokrasi kali ini, tetapi berapa besar persentasenya tidak dapat ditebak, karena masayarakat kita sudah dewasa dan pintar dalam berdemokrasi. Artinya, masyarakat pemilih di tanah air ini sudah mempunyai keyakinan penuh untuk memilih pasangan dalam pemilu 2019 ini.

Di pihak lain, Apreleyni, salah satu penguna telepon pintar ‘Smartphone’ dalam sebuah komunitas whatssap nya mengatakan, masyarakat kita saat ini terbawa dan terhanyut dengan informasi-informasi yang disuguhkan oleh teman-temannya yang ada dalam komunitas itu.

“ Setiap bangun tidur, sudah pasti melihat HP Smartphone untuk mengetahui informasi kawan-kawan di Whatssapp ‘WA’, dalam komunitas WA yang sedang lagi  ngetren dibahas tentang pilpres dan pileg yang akan kita hadapi pada pemilu nanti,” kata dia.

Menurutnya, dengan digital mereka dapat berinteraktif dengan teman-temannya yang ada dalam komunitas tersebut.  “ Dengan kecangihan tekhnologi saat ini kita bisa dapat mensosialisaikan diri, baik itu secara kelompok, kaum, dan suku. Bahkan, dengan era digital kita dapat mengkempanyekan seseorang. Baik itu dalam bentuk pecitraan atau membawa komutas itu kearah yang mana disukai oleh banyak orang,” kata dia.

Diakui, keterbukaan informasi publik dapat membuat akan tumbuh kembangnya demokrasi kita ini. Namun sebaliknya, keterbukaan informasi dapat menghambat lancarnya demokrasi.

“ Generasi zaman now atau era millenial ini, mereka berdemokrasi cukup melalui Smartphoe. Dengan smartphone, seluruh informasi sudah ada didalamnya, tinggal kita memencet konten smartphone tersebut,” kata dia.

Jadi artinya, masayarakat kita ini berada pada era demokrasi digital. Demokrasi digital memiliki sifat yang interaktif. Proses interaktif mengandaikan adanya komunikasi dan semua semua warga negara dapat berdialog secara interaktif.

Lalu, kata dia, lewat demokrasi digital juga dijamin kebebasan berbicara, sehingga pengguna internet atau teknologi informasi dapat mengekspresikan dirinya tanpa kontrol yang signifikan dari penguasa.

Kemudian, lanjutnya, pada era demokrasi digital yang namanya berita hoax dan ujar kebencian tidak terlepas dari semuanya ini. “ Kenapa tidak, semua orang sangat bebas berekspresi dan berkarya mengeluarkan ide-ide dan pendapat dalam konteks demokrasi ala digital,”

Dengan lahirnya informasi dikalagan medsos-medsos itulah akan menguatnya terlahirnya suatu sikap yang diambil masyarakat pemilih untuk tidak memilih pada pemilu kali ini. Hinga isu meningkatnya angka golput pada pemilu 2019 nanti belum bisa mereda dikalangan medsos-medsos yang mempunyai komunitas kelompok itu sendiri.

Khekawatiran masyarakat dalam golput kali ini belum dapat dipastiakan akan mengancam demokrasi di negara kita ini. Kita dapat berkaca diri dari pengalaman sebelumnya, secara umum  tingkat golput di era orde baru cendrung lebih rendah dibanding era setelahnya. Hal ini terjadi karena pemilhan pada era saat ini berupa pengalaman mobilisasi, bukan partisipasi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas