Diduga Praktek Hipnoterapi, 9 Siswi SMP Menjadi Korba Pelecehan Seksual

 

Advertisements
Korban hipnoterapi siswi smp.

Korban hipnoterapi siswi smp.

PASURUAN, PADANGTODAY.com– Sembilan siswi sebuah SMP negeri di Kota Pasuruan mengaku menjadi korban pelecehan seksual alias pecabulan. Ironisnya, perbuatan memalukan itu dilakukan Ketua komite sekolah setempat.

Pukul 11. 30 kemarin (18/11), dengan didampingi orang tua salah satu korban, lima di antara sembilan korban tersebut mendatangi Mapolres Pasuruan Kota di Jalan Gajah Mada, Kota Pasuruan, guna melaporkan kejadian itu.

Berdasar keterangan yang dihimpun, sembilan siswa yang ditengarai mengalami pelecehan tersebut, antara lain, DCF, RDD, BM, SF, NL, FZ, DK, RT, dan KM. Mereka adalah siswa kelas IX (kelas tiga) di SMPN setempat. Dugaan pelecehan seksual itu mereka alami saat mengikuti kegiatan hipnoterapi di sekolah tersebut.

DCF, salah satu korban, mengungkapkan bahwa dirinya sempat diraba BSH saat mengikuti kegiatan hipnoterapi. Kebetulan, dalam kegiatan tersebut, BSH menjadi instrukturnya. “Jarinya itu masuk ke baju,” katanya. BSH disebut-sebut sebagai anggota Polres Pasuruan yang tengah bertugas di Polsek Kejayan.

Menurut DCF, pelecehan seksual itu terjadi saat jam pelajaran berlangsung. Modus yang dilakukan terlapor dengan memanggil siswa ke ruang OSIS untuk menjalani hipnoterapi. Konon, selain sebagai persiapan menjelang ujian nasional, hipnoterapi tersebut dilakukan untuk meminimalkan kenakalan siswa.

Dalam kondisi setengah sadar, para siswi yang dipanggil ditanya terlapor. “Ditanya pernah pacaran atau tidak,” ucap DCF. Siswi yang mengaku pernah pacaran diminta memperagakan gaya pacarannya. Bersamaan dengan itu, BSH mulai beraksi dengan memasukkan jarinya ke balik baju dan meraba-raba (maaf) bagian atas tubuh korban.

Kasus dugaan pelecehan seksual itu baru terungkap setelah DCF bercerita ke orang tuanya, NF. Tidak bisa menerima perlakuan yang dialami anaknya, NF lantas melaporkan itu ke bagian BK (bimbingan dan konseling) sekolah tersebut. Namun, laporannya tidak direspons.

Kecewa terhadap sikap pihak sekolah, kemarin bersama lima di antara sembilan siswi, NF mendatangi Mapolres Pasuruan Kota di Jalan Gajah Mada untuk melaporkan kasus tersebut. “Anak saya yang cerita kalau sudah digituin,” jelas NF saat mendampingi putrinya membuat laporan kemarin.

Di Polres Pasuruan Kota, lima siswa diperiksa di ruang PPA (perlindungan perempuan dan anak) satreskrim. Sayang, Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota AKP Bambang Sugeng yang dikonfirmasi terkait dengan hasil pemeriksaan itu menuturkan sedang tidak ada di tempat. “Saya masih belum dapat laporan,” ungkap Kasatreskrim yang mengaku masih di Polda Jatim. (dil/JPNN/)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*