Disaksikan Wakil Ketua DPR-RI, Gubernur dan Sejumlah Kepala Daerah di Sumatera Barat Presiden Silek Tuo Minangkabau dan Pesilat Serbia Saling Unjuk Kebolehan

Presiden Silek Tuo Minang Kabau David Suhu ketika unjuk kebolehan bersama pesilat Serbia Tamara pada pembukaan Silaturahmi Pencak Silat di Cottage Aia Angek.

Presiden Silek Tuo Minang Kabau David Suhu ketika unjuk kebolehan bersama pesilat Serbia Tamara pada pembukaan Silaturahmi Pencak Silat di Cottage Aia Angek.

Advertisements

Padangpanjang, PADANGTODAY.com-Pencak Silat memang sudah cukup dikenal di dunia internasional, olahraga beladiri asal Indonesia yang memperagakan kekuatan pisik yang dipadupadankan dengan kecerdasan intelektual itu. Memiliki makna tersendiri dalam setiap gerakan yang diperagakan, tak terkecuali oleh pesilat asal Serbia Tamara Mladanovic yang unjuk kebolehan bersama Presiden Silek Tuo Minangkabau David Suhu Dt.Rajo Alam, Padangpanjang.

Tak ada sepatah katapun yang terucap dari Wakil Ketua DPR-RI Fadli Zon, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Bupati Agam Indra Catri dan Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi serta undangan perguruan silat di Sumatera Barat dan Jawa Barat, ketika menyaksikan atraksi Pencak Silat yang diperagakan oleh Presiden Silek Tuo Minangkabau David Suhu Dt.Rajo Alam melawan pesilat asal Serbia Tamara Mladanovic, ketika pembukaan Silaturahmi Minangkabau dan Sunda di Rumah Budaya Fadli Zon, Selasa kemarin.

Dua pesilat beda usia dan beda kewarganegaraan itu, memang tampil sangat memukau seluruh hadirin acara itu. Betapa tidak, dari sejumlah serangan yang dilancarkan oleh kedua pesilat bisa ditangkis oleh keduanya, terlebih ketika menggunakan senjata tajam yang memang telah disiapkan sebelumnya. Atraksi Silat yang diperagakan David Suhu dan Tamara tersebut, memang diluar konsep acara yang telah disiapkan oleh panitia. Apalagi, adegan-adegan berbahaya yang diperagakan tersebut, syarat dengan kejelian pandangan dan kekuatan fisik dari kedua pesilat.

Presiden Silek Tuo Minangkabau David Suhu ketika ditemui usai acara pembukaan menyebutkan, peragaan silat yang ditunjukan oleh pesilat-pesilat dari Perguruan Kuciang Putiah Harimau Campo Tuan Gadang Batipuah itu, memang ditujukan untuk melestarikan kebudayaan bangsa. Apalagi, tema acara tersebut juga untuk menjalin silaturahmi perguruan silat yang ada di Sumatera Barat dan Jawa Barat khsususnya Silat Sunda.

“Dari beberapa jurus yang diperagakan oleh pesilat kita, seluruhnya adalah aliran dari silek tuo Minangkabau. Terutama, yang diajarkan di Perguruan Kuciang Putiah Harimau Campo Tuan Gadang Batipuah, termasuk juga yang diperagakan oleh Pesilat asal Serbia Tamara Bladanovic dan dua orang pesilat junior berdarah campuran Indonesia dan Serbia,” kata David Suhu, yang juga pembina di Perguruan Silat Kuciang Putiah Harimau Campo Tuan Gadang Batipuah.

Disampaikan David Suhu, meskipun hanya sebagai pengisi acara pembukaan dari kegiatan tersebut, tetapi dirinya sangat puas dengan penampilan dari pesilat-pesilat yang diturunkannya. Apalagi, sebagian dari pesilat yang diturunkan itu adalah pesilat yang telah meraih prestasi baik di Sumatera Barat maupun di pentas Nasional.

“Sebagai pecinta dan pelaku silat, kita terus menumbuhkan kecintaan silat terhadap generasi muda kita. Tidak hanya dari Sumatera Barat sendiri, malahan dari luar negeri pun mereka sengaja datang kesini untuk mempelajari tekhnik silat kita. Seperti yang diperagakan Tamara dan dua pesilat junior berdarah blasteran yang juga keponakan Fadli Zon tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, pemilik Rumah Budaya Fadli Zon yang juga Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon juga mengungkapkan rasa bangganya terhadap keanekaragaman budaya bangsa, salah satunya adalah Silat. Dimana, Silat ini akan memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter building yang hanya bisa dikembangkan melalui budaya.

“Pencak silat Minangkabau khususnya, merupakan salah bentuk kebudayaan yang telah mendunia melalui perfilman dan telah berhasil menciptakan suatu ketakjuban dan keyakkinan dunia kontenporer. Dan siltaruahim ini digelar adalah sebagai sketsa persamaan tujuan dalam keberagaman wujud gerak pada seni silat tradisi sebagai induk budaya,” ujar Fadli Zon.

Bahkan tokoh silat Sunda, Ki Jatnika menggambarkan pencak silat mengandung keterkaitan hampir 70 persen terhadap banyak sisi Hak Azazi Manusia (HAM). Pencak silat sebagai induk budaya tradisi, dapat ditarik benang merahnya seperti tak ada pencak—tak ada budaya, maka juga tak ada harga diri. “Jika suatu peradaban tidak lagi memiliki harga diri, maka yang akan dinikmati adalah kehancuran,” tutur Ki Jatnika.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno yang turut menghadiri khusus kegiatan silaturahim pencak silat Minangkabau dan Sunda di Rumah Budaya Fadli Zon tersebut menilai sebagai salah bentuk motivasi persamaan. Silat dipandang sebagai salah satu tradisi budaya, yang memiliki kekuatan dalam pembentukan karakter individu masyarakat.

“Di Minangkabau khususnya, di mana masyarakatnya sangat kental dengan kultur akar kebudayaan, sangat memahami besarnya manfaat pencak silat terhadap dirinya. Tidak hanya terhadap unsure pembelaan diri, namun dari banyak kandungan pada silat sangat penting untuk membentuk mental spiritual,” terang Irwan.

Demikian juga ditegaskan Bupati Agam Indra Catri yang juga hadir, menilai silat juga akan membentuk bahasa tubuh yang halus bagi individu masyarakat di tingkat segala usia. Terus terjadinya regulasi kebudayaan yang terjadi tanpa disadari, merupakan saat yang tepat untuk saatnya silat dikembangkan lebih terorganisir.

“Seperti di Agam, pemerintah setempat telah mencanangkan sekolah silat demi mencerdaskan mental spiritual. Silaturahim ini diharapkan bisa menjadi gerbang kebangkitan silat dalam makna sesungguhnya,” jelas Indra. (nto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*