Febby Datuak Bangso, Jangan Sampai BUMDes terjebak dengan istilah Tangan Dibawah

Padang-today.com__Jumlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang terbentuk hinga saat ini jumlahnya cukup spektakuer. BUMDes telah mencapai 42.000 unit yang bergerak di berbagai usaha.

“Dari jumlah tersebut telah banyak BUMDes yang pendapatannya naik signifikan,” kata Ketua Forum Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Febby Datuak Bangso usai memberikan sambutan pada rapat koordinasi BUMDes se-Kota Pariaman di Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) beberapa hari lalu.

Meskipun demikian, ia mengakui bahwa masih banyak desa yang belum mengerti arah dan tujuan BUMDes yang telah terbentuk tersebut. Dirinya tak ingin pembentukan BUMDes hanya semata-mata menjadi wadah agar dana desa disalurkan sesuai program prioritas.

Tapi banyak juga BUMDes yang sudah mencapai miliaran rupiah keuntunganya. BUMDes telah menjadi ikon di desa. Kami ingin BUMDes ini menjadi semacam penada bahwa kebangkitan desa, kemadirian desa ditopang oleh BUMDes yang ada di desa itu.

Menghadapi minimnya pemahaman desa tentang BUMDes, kata dia, Kemendes PDTT mendirikan wadah pembelajaran online yang dapat diakses gratis oleh seluruh elemen masyrakat melalui program Akademi Desa. Program tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang pengembangan kewirausahaan khususnya BUMDes.

“Jangan sampai BUMDes terjebak dengan istilah ‘BUMDes tangan dibawah’ Artinya selalu bergantung pada dana desa. Kita ingin BUMDes mandiri, salah satunya dengan menyiapkan edukasi melalui akademi desa,” tegasnya.

Hingga kini BUMDes sangat signifikan pertumbuhannya di Indonesia, Ia menyebutkan adapun BUMDes tersebut yaitu di antaranya Desa Kutuh di Bali dan Desa Ponggok di Klaten, Jawa Tengah yang bergerak di bidang pariwisata, serta badan usaha desa lainnya yang bergerak di bidang pertanian.

Selain itu, lanjutnya pihaknya juga menilai salah satu BUMDes di Sawahlunto, Sumbar yang bergerak di bidang pengelolaan rempah-rempah juga sudah mulai menunjukkan perkembangan.

“Agar BUMDes di sini semakin berkembang, maka kami akan menjadikan sembilan BUMDes di Sumbar sebagai percontohan nasional,” ujarnya.

Ia menyebutkan adapun BUMDes yang akan dikembangkan menjadi percontohan nasional tersebut yaitu di antaranya BUMDes bersama di Pesisir Selatan yang bergerak di bidang parwisata.

Lalu BUMDes Kembayau di Sawahlunto yang bergerak di bidang pengelolaan rempah-rempah, BUMDes Pekandangan Emas di Padang Pariaman yang bergerak dalam berbagai usaha, serta BUMDes di Batu Sangkar yang mengurus pasar.

Pihaknya akan ikut campur untuk membantu mengembangkan BUMDes percontohan tersebut sehingga badan usaha tersebut lebih berkembang.

Sedangkan untuk Kota Pariaman, lanjutnya pihaknya menunggu desa dan pemerintah setempat untuk membuat BUMDes bersama agar pihaknya dapat ikut campur dalam hal membantu pengelolaan badan usaha tersebut.

Sementara itu, Wali Kota Pariaman, Genius Umar mengatakan pihaknya membuat surat keputusan pengembangan kawasan guna membangun BUMDes bersama.

“Kami berharap upaya ini disokong oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi,” ujar dia.

Ia menyampaikan pada 2018, sepuluh BUMDes di Pariaman mendapatkan bantuan dana senilai Rp50 juta per unit badan usaha.

“Mudah-mudahan tahun ini BUMDes bersama juga dibantu oleh pihak terkait,” ujarnya.

Pihaknya menyebutkan hingga saat ini di kota itu telah terbentuk 32 unit BUMDes dari 50 desa yang mana dari jumlah tersebut 19 unit badan usaha desa aktif. (suger)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas