FMN Gelar Ngobrol Kebangsaaan “Kepemimpinan di antara Dualisme Kekuasaan”

 Foto bersama welcome speech dan pemateri Ngobrol Kebangsaan "Kepemimpinan di antara Dualisme Kekuasaan" di Ruangan Perpustakaan Lantai VI Universitas Andalas, Sabtu (6/11).

Foto bersama welcome speech dan pemateri Ngobrol Kebangsaan “Kepemimpinan di antara Dualisme Kekuasaan” di Ruangan Perpustakaan Lantai VI Universitas Andalas, Sabtu (6/11).

Advertisements

PADANG, PADANGTODAY.com-Beberapa waktu sebelum dilantiknya Presiden RI Joko widodo, rakyat Indonesia disuguhkan dengan pertunjukkan persaingan di antara dua kubu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP). Mereka memperebutkan kursi kepemimpinan legislatif. Hingga kini, persaingan dan perselisihan keduanya masih terus menjadi buah bibir.

Menyikapi hal tersebut, Forum Negarawan Muda (FNM) yang merupakan para Etoser Padang (penerima Beastudi Etos Dompet Dhuafa-red) gelar Ngobrol Kebangsaan dengan tema ”Kepemimpinan di antara Dualisme Kekuasaan”, Sabtu (6/11). Ngobrol Kebangsaan ini dilakukan FNM di tiga daerah terpisah yakni Padang, Purwokerto, dan Makassar.

Dikatakan Panitia Acara, Riangga Bayu Hanafi, disadari atau tidak kepemimpinan nasional kini terbelah menjadi dua kubu. Kubu pemerintahan, KIH dan kubu legislatif, KMP. Beberapa kalangan berpendapat bahwa pemerintahan Jokowi tidak akan berjalan efektif karena tidak didukung oleh kekuatan legislatif yang notabene dikuasai oleh koalisi oposisi. Bahkan sempat beredar isu akan terjadi upaya penggagalan pelantikan presiden oleh kubu KMP walaupun pada akhirnya hal tersebut tidak terbukti. Dari sini kita dapat melihat ada semacam bentuk kekhawatiran yang muncul dengan adanya dualisme kekuasaan yang terjadi di negeri ini.

“Hal tersebutlah yang didiskusikan mendalam dalam Ngobrol Kebangsaan ini, kegiatan ini menjadi penting agar kita tidak terlarut dalam hiruk pikuk politik dan lupa pada agenda-agenda perbaikan kondisi bangsa” katanya di Ruangan Perpustakaan Lantai VI Universitas Andalas.

Sementara itu, Branch Manager Dompet Dhuafa Singgalang, Musfi Yendra mengatakan bahwa sebagai civil society, publik harus aktif mengontrol pemerintah baik legislatif maupun eksekutif.

“Untuk mengisi pembangunan, semua elemen masyarakat harus menggunakan akal sehat, kepentingan golongan dan sikap emosional harus dikesampingkan demi kepentingan bersama,” tuturnya.

Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut yakni, Pakar Psikologi Politik Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si., membahas tentang “Situasi dan Kondisi Elit Kepemimpinan Pasca Pilpres dan Pelantikan Presiden”, Gubernur Sumbar, Prof. Dr. H. Irwan Prayitno, M.Sc., membahas “Teladan Kepemimpinan Generasi Awal Pembentukan NKRI”, dan materi “Apa yang harus kita lakukan sebagai Pemuda?” dibahas oleh Dosen Fisip Unand, Dr. Asrinaldi, M.Si..

Hadir membuka acara, Wakil Rektor III Unand, Aprisal. Dia mengungkapkan apresiasinya kepada panitia yang telah menggelar acara positif dalam menyikapi kondisi kebangsaan dewasa ini.

Peserta diskusi, Syakira, juga mengatakan bahwa Ngobrol Kebangsaan mengajak mahasiswa untuk tidak hanya mampu berpikir kritis tapi juga memiliki kepribadian yang mampu membangun bangsa. “Kondisi kebangsaan sekarang tidak patut menjadikan generasi muda lemah dan gegabah dalam mengambil sikap,” katanya. (winda)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*