H Khazanatul Israr Jadi Pangulu Sakato Kaum di Limapuluh Kota

 

Sisipkan Keris

Sisipkan Keris

Limapuluh Kota,PADANGTODAY.COM -Tagak pangulu sakato kaum, bukan dengan sepakat kaum. Niniak mamak tidak dipilih. Sako turun temurun dan ada barih balabeh. Bupati Limapuluh Kota Alis Marajo Dt. Sori Marajo dalam sambutannya pada acara pengukuhan dan pelantikan H Khazanatul Israr, SE Dt. Gindo Pangulu Nan Babudi kampuang Pitopang Darek Suku Pitopang Nagari Sungai Kamuyang Kecamatan Luak, Senin (27/10).

”Memilih pemimpin DPRD bisa dipilih dengan voting. Memilih wali nagari bisa dilakukan dengan musyawarah dan mufakat, tapi niniak mamak tidak bisa dipilih seperti itu,” ungkap Alis.

Sako adalah turun temurun, ada barih dan balabeh. Sakato kaum dan tidak ada sepakat kaum. Tidak diperlukan organisasi mengukuhkan karena kepemimpinan Minangkabau majanjang naiak batanggo turun.

Dikatakan, soko berbeda dengan gala (gelar). Soko datuak tidak bisa dipakai bila tidak sesuai dengan bari balabeh.

”Niniak mamak mempunyai jabatan bukan karena ia pintar, bukan karena ia insinyur atau dokter. Tetapi karena sako turun temurun. Umur 5 tahun sekalipun boleh menerima soko, Jadi berbeda soko dengan gelar,” ulang Alis.

Dalam kesempatan itu bupati juga mengatakan, setiap suku dan niniak mamak harus basurau. Sebelumnya, pucuk pimpinan LKAM Sumbar M Sayuti Dt. Rajo Pangulu dalam penyampaiannya berharap niniak mamak yang dilantik benar-benar melihat dan mendengarkan anak kemenakannya. Jangan sampai niniakmamak tidak tahu dengan anak kemenanak.

”Hasil penelitian menunjukan dari seribu niniak mamak yang diwawancarai sekitar 70% diantaranya tidak tahu berapa anak kemenakannya. Ini berarti niniak mamak itu tidak tahu lagi dengan fungsinya,” ujar Sayuti.

Ia juga meminta niniak mamak berada di baris terdepan dalam gerakan ke surau seperti yang telah digerakan Bupati Alis Marajo di Kabupaten Limapuluh Kota.

Seperti disampaikan Bupati sebelumnya, Sayuti juga berharap setiap kaum memiliki surau dan berusaha membuat rumah gadang. Jangan seperti sekarang, dalam pesta perkawinan pasangan pengantin tidak lagi bersanding di atas rumah gadang.

”Kini pengantin tak jarang yang bersanding di bawah tenda yang terpasang di pinggir jalan raya dan mengganggu kelancaran arus lalu-lintas,” ujar Sayuti.(malin​)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*