Hendrizal Palo, Opini Lapau Dalam Pilkada Padang Pariaman

Padang-today.com – Tahapan pemilihan kepala daerah (pilkada) Padang Pariaman tahun 2020 telah dilakukan, dan masing-masing partai sebagai mesin politik pengusung Bakal Calon (Balon) Bupati dan Wakil Bupati Padang Pariaman mulai mewarnai di daerah itu.

Miskipun Pilkada serentak di daerah itu akan dilangsungkan tinggal hitungan bulan, namun sudah banyak nama-nama yang muncul untuk ikut ambil bagian dalam kontestasi tersebut, dari mulai politisi, pengusaha, birokrat sampai akdemisi tokoh-tokoh lama juga muncul, namun banyak menjadi perbincangan adalah munculnya tokoh ulama di daerah itu.

Pengamat politik dalam perbincangan kali ini adalah tokoh ulama membuat geger ketika adanya nada demokrasi lapau mengapungkan tokoh ulama didaerah itu, yakni Idarussalam berpasangan dengan Tosriadi Djamal akan diusung oleh 2 mesin politik mempunyai 8 kursi di DPRD setempat. Sampai pada hari ini, perbincangan lapau Idarussalam seorang staf ahli di ke pemerintahan Padang Pariaman itu, masih tegar berpasangan dengan Tosriadi Djamal.

Ketika kehidupan rakyat miskin begitu suram, tampaknya mereka harus berterima kasih pada para politisi karena telah disuguhkan sebuah drama politik yang sangatlah menggairahkan, yang setidaknya membuat kehidupan mereka sedikit lebih berwarna. Pemilihan kepala daerah mencerminkan sesuatu yang lebih dalam untuk daerah itu sendiri.

Hampir semua pandangan politik pilkada didaerah itu dan politisi dari masing-masing kubu mencoba menggambarkan warna pilkada Padang Pariaman “bagian dari dinamika politik,” sebagai hal yang biasa dalam politik.

Praktik-praktik yang dibeberkan oleh masyarakat dan tim relawan Balon adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika politik. Masyarakat terlalu terbiasa dengan praktik tim relawan Balon pemimpin daerah untuk saling menjegal, mengintrik, dan menikam di belakang, dan masyarakat  hanya bisa berkata “Ini sudah biasa.”

Masih ingatkah kita pada masa pemilihan Capres beberapa tahun lalu, Politik kelas penguasa selalu sarat dengan tarik menarik antar kepentingan, dengan saling menjegal, saling mengintrik, saling sogok, tetapi pada periode ini intensitasnya semakin tinggi. Para politisi pun tidak segan mempertontonkan drama politik ini di mata publik. Rakyat merasa sinis dan nihilis dengan drama politik ini, bahwa tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Hampir terjadi di setiap proses Pilkada dan Pilpres dengan kampanye mencerminkan alotnya transaksi politik di antara partai-partai dan kepentingan-kepentingan politik. Jabatan dan privilese dijual beli dan dipertukarkan dalam apa yang sekarang ini disebut “politik transaksional.”

Mereka merasa beginilah kenyataan politik, dan mau bagaimana lagi. Tetapi kelas penguasa akan salah kalau mengira sentimen ini akan terus melumpuhkan masyarakat dan mereka bisa terus melakukan apa yang mereka inginkan tanpa menggubris aspirasi masyarakat. Pada titik tertentu, akan ada lompatan, dan sang penonton akan jadi aktor dalam drama politik yang telah lama mengesampingkan mereka.

Sebut saja, Hendrizal Palo (49) salah satu Tokoh Muda menyebutkan, Pilkada kali ini sangat seru dan dapat sebagai pelajaran bagi massyarakat pemilih untuk menentukan kemanakah Padang Pariaman akan dibawa oleh pemimpin daerah yang menang pilkada itu.

Ia mengatakan, beberapa opini masyarakat dalam skenario Proses Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang terjadi, survei ini sekaligus memotret konstelasi calon ditinjau dari aspek psikologis, ideologis, dan kompetensi khusus yang dimiliki masing-masing kandidat. Yang menarik, skenario ini selalu menempatkan balon incumbent sebagai opsi utama.

Skenario lainya, kata dia, yakni pilkada hanya akan mengulang pertandingan usang layaknya pesta demokrasi sebelumnya. Pasangan Suhatri Bur dan M. Yusuf diperkirakan akan bertanding seru dalam perolehan suara. Tidak tertutup kemungkinan, pasangan Idrussalam akan membuat Tosriadi Djamal akan melenggang menduduki kursi No 1 di Padang Pariaman.

Skenario ini muncul seiring dengan perang wacana dan koalisi pilkada yang sudah mulai teraba. Sejumlah nama yang diperkirakan bersanding dengan Suhatri Bur yaitu Rahmang (50%) diusung oleh mesin poltik PAN – Nasdem, dan pasangan Refrizal – Hapy Naldi diusung partai Gerindra-PKS, pasangan Idarussalam-Tosriadi Djamal diusung oleh partai Golkar-PPP, dan pasangan M. Yusuf-Damsuar dari partai PKB dan Demokrat.

Nah, kata Hendrizal, dari hasil yang diusung oleh masing-masing mesin poltik itu, tersedia dua partai yang memiliki 3 kursi di DPRD, yakni Partai PDI 2 kursi dan Partai Hanura 1 kursi. Kemanakah arah kedua partai itu akan bersandar dalam usung mengusung bakal calon (Balon) bupati Padang Pariaman. Namun semuannya ini, kata Hendrizal, semuanya bermuara kepada masing-masing politik dan penyelenggara pemilihan kepala daerah.

“ Ya mari kita tunggu saja, sekenario berikutnya dalam proses pilkada Padang Pariaman, dan kita sebagai masyarakat Padang Pariaman harus pro aktif dalam mensukseskan pelaksanaan Pilaka kali ini dan bersikap bijak dalam menentukan pilihan,” kata Hendrizal, Rabu (22/7) di Pariaman. (SugerR)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas