HSN, Santri Dalam Perpolitikan

Padang-today.com__Santri atau pesantren telah mengambil peran yang sangat besar sebelum kemerdekaa, pasca kemerdekaan dan saat ini.

Peran sejarah para santri kini harus diaktulisasikan kembali dalam konteks kekinian, dimana sentimen identitas keagamaan kian mengental.

“Para santri agar mampu dan bisa untuk mengambil peran-peran strategis dalam perpolitikan,” kata Amir Azli pendiri Pondok Pesantren dan pendiri Rumah Tahfiz Al-Maari di Sungai Lomau, Rabu 23/10

Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober kemaren, adalah sebuah tantangan bagi santri dalam mengenang sejarah itu.

Peran sejarah para santri kini harus diaktulisasikan kembali dalam konteks kekinian.

“Resolusi Jihad inilah menjadi pemantik yang disuarakan oleh KH. Hasyim Asy”ari membuat santri ikut dalam pergejolakan politik,” kata dia.

Resolusi Jihad inilah membangkitkan semangat juang para santri untuk mempertahankan NKRI.

Oleh karena itu, selain pendidikan dakwah, santri harus di berikan pendidikan politik, berbangsa dan bernegara dipandang merupakan sarana yang efektif untuk mengubah kesadaran rakyat dan membangkitkannya untuk bergulat pada era kekinian.

“Dengan diberikan pendidikan perpolitikan, para santri akan tau apa itu berbangsa dan bernegara dalam gejolak politik yang berkembang saat ini,” kata dia.

Artinya, pendidikan politik sangat perlu diberikan kepada santri. Namun, pendidikan politik itu sifatnya ilmu politik filosofis dan Teortis bukan aplikatif.

Selain itu, ia mengajak para santri agar bisa mengambil peran-peran strategis dalam perpolitikan.

“Santri dapat berkontribusi bagi perkembangan demokrasi di daerah ini. Salah satunya dengan cara memberikan pendidikan politik kebangsaan secara formal maupun informal,” kata dia.

Dewasa ini demokrasi yang sesungguhnya terwujud karena masyarakat bebas bersikap, bersuara dan memilih sehingga yang dipilih adalah sesuai yang diinginkan.

“Selain pendidikan pendidikan politik baik yang formal maupun informal, perlu adanya pendidikan kader politik kebangsaan,” kata dia.

Untuk itu, ia berharap Hari Santri bisa diperingati siapapun yang merawat tradisi intelektual Nusantara pada dirinya. Unsur utama tradisi ini adalah dinamika kecendekiaan.

Ciri dinamika kecendekiaan ini adalah gagasan-gagasan intelektual besar yang membentuk peradaban Nusantara ini. (Herry Suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas