IHSG Akan Bertahan Pekan Ini

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Jakarta, PADANGTODAY.COM-Para investor di bursa saham mengabaikan data Badan Pusat Statistik pekan lalu bahwa neraca perdagangan Indonesia surplus 454,4 juta dollar Amerika Serikat. Indeks dan kurs rupiah masih saja melemah pada awal perdagangan Senin (18/5).

Pergerakan saham dipantau pialang di Dealing Room, Bank Negara Indonesia, Jakarta, Senin (18/5). Indeks Harga Saham Gabungan mengakhiri sesi perdagangan siang dengan pelemahan tipis 0,03 persen ke level 5.225,78. Sebelumnya indeks sempat menguat setelah dibuka melemah pagi ini.

Pergerakan saham dipantau pialang di Dealing Room, Bank Negara Indonesia, Jakarta, Senin (18/5). Indeks Harga Saham Gabungan mengakhiri sesi perdagangan siang dengan pelemahan tipis 0,03 persen ke level 5.225,78. Sebelumnya indeks sempat menguat setelah dibuka melemah pagi ini.
Diperkirakan, pada pekan ini indeks dapat bertahan menguat tipis. Para investor juga menantikan keputusan Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan bertemu pada Selasa (19/5) besok untuk menentukan tingkat suku bunga dan kebijakan moneter lainnya.

Pada akhir sesi pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tipis 1,31 poin atau 0,3 persen menjadi 5.225,78.

Sementara kurs rupiah juga melemah. Menurut data Jisdor, pada awal pekan ini rupiah berada pada posisi Rp 13.116 per dollar AS. Kurs rupiah pada Senin (18/5) melemah 0,19 persen dibandingkan dengan kurs rupiah pada Jumat (15/5) yang berada pada posisi Rp 13.090 per dollar AS.

Sementara di pasar spot, kurs rupiah berada pada level Rp 13.118 per dollar AS. Kurs itu melemah 0,25 persen dibandingkan dengan posisi Jumat (15/5) yang berada pada posisi Rp 13.084 per dollar AS.

Ekonom Mandiri Sekuritas, Leo Rinaldy, mengatakan, walaupun ada surplus, surplus neraca perdagangan mengendur. “Jumlahnya turun menjadi 454 juta dollar AS dari 1,03 miliar dollar AS pada Maret lalu. Walaupun demikian, surplus April lebih tinggi daripada prediksi kami di Mandiri Sekuritas dan prediksi konsensus masing-masing sebesar 124 juta dollar AS dan 77 juta dollar AS. Alasan penurunan surplus adalah kontraksi ekspor, sedangkan impornya naik tipis,” kata Leo dalam risetnya.

Terkait dengan surplus pada April tersebut, Leo juga memperkirakan tidak akan dapat menurunkan defisit neraca berjalan karena secara historis defisit neraca berjalan secara musiman akan rendah pada kuartal pertama setiap tahun. Pada periode ini, aktivitas impor, baik dari sisi barang konsumsi maupun investasi, belum terlalu besar pada awal tahun.

Percepatan impor biasanya mulai meninggi memasuki kuartal kedua dan kuartal ketiga sebagai konsekuensi dari aktivitas pengumpulan persediaan, baik dari impor modal maupun impor barang konsumsi, sebagai persiapan dari investasi dan konsumsi menghadapi periode bulan puasa.

“Kami meyakini defisit akan melebar karena repatriasi pendapatan yang memuncak pada kuartal kedua 2015 dan akan berlanjut sepanjang semester II-2015 karena kenaikan impor dari sisi investasi pada semester kedua 2015. Kami masih tetap pada prediksi defisit neraca berjalan sebesar 2,7 persen dari produk domestik bruto tahun ini dibandingkan dengan defisit aktual 2,86 persen produk domestik bruto pada tahun 2014,” ujar Leo.

Pada perdagangan pekan ini, menurut analis NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priambada, IHSG diperkirakan berada pada rentang support 5.169-5.200 dan resisten 5.242-5272. Indikator teknikal, seperti Resistance Strenght Index, Stochastic, dan William’s %R, mencoba berbalik naik.

“Laju IHSG dapat bertahan di atas area target support (5.050-5.133) dan juga sempat melampaui area target resisten (5.195-5.224). Meski masih terdapat aksi jual dan diselingi dengan hari libur, laju IHSG masih dapat bertahan melanjutkan kenaikannya dari pekan sebelumnya,” kata Reza.

Aksi beli sepanjang pekan kemarin yang masih berlanjut, papar Reza, membuat IHSG dapat bertahan naik. IHSG pun disebut sedang mencoba membentuk tren kenaikan secara bertahap. “Kami harapkan aksi jual dapat berkurang sehingga IHSG pun dapat melanjutkan membentuk tren kenaikannya. Kita harapkan adanya rilis data global yang dapat positif, setidaknya dapat membuat pelemahan menjadi tertahan,” kata Reza.

Sementara menurut analis Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi, IHSG sepekan ke depan berpeluang konsolidasi menguat dengan support 5.200 sampai 5.175 dan resisten pada level 5.264 sampai 5.300. Dia menyarankan investor melakukan buy on weakness ketika terjadi pelemahan dan investor tetap harus trading dengan disiplin.
(kompas/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*