Indonesia Bebas Polio, Payakumbuh Pusat PIN Polio 8-15 Februari 2016

Kadinas Kesehatan Payakumbuh Elzadaswarman

Kadinas Kesehatan Payakumbuh Elzadaswarman

Payakumbuh, PADANG-TODAY.com-Kota Payakumbuh sedang mempersiapkan Pekan Imunisasi Nasional Polio bersama Kabupaten Padang Pariaman sebagai pusat kegiatan ini di Sumbar. Pelaksanaan mulai 8-15 Februari itu sedang dipersiapkan dengan matang oleh Kadinas Kesehatan Kota Payakumbuh Elzadaswarman SKM MPPM beserta jajaran.

”Sebab, Indonesia telah dinyatakan bebas polio bersama dengan negara anggota WHO di South East Asia Region (SEAR) pada bulan Maret 2014. Untuk mempertahankan keberhasilan tersebut, dan sebagai bagian melaksanakan komitmen mewujudkan Dunia Bebas Polio, Indonesia perlu memperkuat pelaksanaan program imunisasi rutin polio dan kegiatan imunisasi tambahan yaitu Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang akan dilaksanakan pada tanggal 8-15 Maret 2016,” jelas Elzadaswarman SKM MPPM di Payakumbuh saat dikonfirmasi.

PIN Polio adalah pemberian imunisasi tambahan polio kepada balita tanpa memandang status imunisasi polio sebelumnya. Tujuan PIN Polio antara lain mengurangi risiko penularan virus polio yang datang dari negara lain, memastikan tingkat kekebalan masyarakat terhadap penyakit polio cukup tinggi dan memberikan perlindungan secara optimal serta merata pada balita terhadap kemungkinan munculnya kasus polio.

Penyakit Polio merupakan penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus Polio. Secara klinis penyakit polio adalah anak dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut. Penyebaran penyakit ini melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam,nyeri otot dan kelumpuhan pada minggu pertama sakit. kemudian bisa terjadi karena kelumpuhan otot pernafasan yang tidak ditangani segera.

”Berdasarkan Analisa para ahli didapat data yang menunjukkan cakupan imunisasi Polio dosis keempat nasional telah melebihi 90 persen namun tidak merata diseluruh provinsi dan Kabupaten/Kota. Dengan demikian para ahli merekomendasikan agar dilaksanakan PIN Polio dengan sasaran balita (anak usia 0-59 bulan) untuk memberikan perlindungan optimal bagi seluruh anak terhadap virus polio,” papar Elzadaswarman SKM MPPM.

Belum diperoleh keterangan lengkap tentang kegiatan yang akan dilakukan. Panpel sedang berkoordinasi dengan pihak pusat tentang detail kegiatan.

Eradikasi Polio

“Memang sudah tidak ada lagi kasus polio di Indonesia sejak tahun 2006 dan Indonesia juga sudah dinyatakan bebas polio 27 Maret 2014, namun virus ini bisa menyebar lagi ke Indonesia karena ada dua negara yang belum bebas polio yaitu Afganistan dan Pakistan,” kata Elzadaswarman SKM MPPM.

Ia menjelaskan, bahwa PIN 2016 akan dilaksanakan 8 – 15 Maret 2016 dengan pemberian vaksin aktif melalui mulut dua tetes setiap anak usia 0 sampai 59 bulan tanpa melihat status imunisasinya.

Setelah kegiatan itu maka pada April 2016 akan dilakukan penggantian jenis vaksin trivalent oral polio vaccine (tOPV) ke bivalent oral polio vaccine (bOPV) artinya mengganti jenis vaksin polio dari tiga tipe virus ke dua tipe virus.

Kemudian pada Juli 2016, dilakukan introduksi jenis vaksin Inactivated Polio Vaccine (IPV) atau vaksin dengan virus inaktif yang diberikan melalui suntikan kepada bayi usia empat bulan.

“Imunisasi wajib diberikan pada anak dan merupakan hak anak. Tidak boleh ada orangtua yang melarang sang anak mendapat vaksin. Bahkan, orang lain pun tidak boleh menghalang-halangi anak diimunisasi,” kata Elzadaswarman SKM MPPM menutup pembicaraan.(dsp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*