Inilah Bentuk Pantai Pegadungan

Inilah Bentuk Pantai Pegadungan.

Inilah Bentuk Pantai Pegadungan.

PADANGTODAY.COM-Pantai Pegadungan berbeda dengan pantai pada umumnya karena dipenuhi bebatuan. Batu-batu berukuran sebesar ibu jari orang dewasa hingga seukuran bola basket tertata alami di pinggiran pantai. Batu-batu berbentuk bulat lonjong dengan permukaan cukup rata itu mengelompok sesuai ukuran.

Di salah satu sisi pantai, hamparan bebatuan yang menyerupai batu kali itu berganti dengan bebatuan tebing yang tajam. Sejumlah batu berukuran besar juga terhampar. Beberapa gugusan batu menjulang tinggi dan terjal.

Bentuk sejumlah batu yang meruncing ke atas itulah, menurut sejumlah orang, yang membuat daerah itu dikenal dengan sebutan Gigi Hiu. Kendati dikenal dengan nama Gigi Hiu, tak satu ekor ikan hiu pun terlihat berenang-renang di sekitar tempat itu.

Bagi sebagian orang, Gigi Hiu juga dikenal dengan nama Batu Layar karena sejumlah batu yang berjajar tampak seperti layar perahu. Bentuknya bak kain terkembang menahan tiupan angin laut.

Gigi Hiu terletak di Pantai Pegadungan, Kecamatan Klumbayan, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Jaraknya sekitar 90 kilometer dari Bandar Lampung, tak jauh dari Teluk Kiluan yang lebih dahulu terkenal dengan pesona lumba-lumba.

Pantai Pegadungan yang jauh dari permukiman warga menyimpan belasan rumpun tebing batu yang megah. Tebing-tebing itu memiliki lebar beragam, mulai dari 1 meter hingga 3 meter, dengan panjang mulai dari 3 meter hingga 10 meter dan tinggi 1 meter hingga 20 meter.

Saat didekati, bebatuan itu memiliki tekstur retakan-retakan panjang berbentuk garis lurus, mirip bekas goresan benda tajam. Batu-batu itu bak tertancap sangat dalam di lautan. Karena kuatnya, ombak sederas apa pun tidak akan membuat bebatuan itu jatuh atau bahkan miring sedikit pun.

Entah bagaimana, bebatuan tersebut muncul di Pantai Pegadungan. ”Ini kira-kira menyembul dari dalam tanah atau tertancap karena ada letusan gunung berapi, ya?” ujar Fajirn, seorang wisatawan.

Sebagian wisatawan biasanya sengaja mengunjungi Gigi Hiu saat sore menjelang petang. Saat itu, matahari yang kembali ke peraduan memancarkan rona jingga di ufuk barat. Inilah momen paling indah di Gigi Hiu.

Peristiwa terbenamnya matahari banyak dimanfaatkan pencinta fotografi untuk mengabadikan rona jingga di langit yang berpadu dengan birunya lautan yang mulai menghitam. Warna langit yang indah menambah megahnya bebatuan Gigi Hiu yang berdiri kokoh.

Pantai Pegadungan memang bukan tempat wisata untuk bermain air atau berlari-lari di pantai. Sebagian tamu yang datang ke Pegadungan ialah fotografer karena pantai dan bebatuannya cantik difoto,” ujar Solichin, warga setempat yang pertama membuka akses menuju ke Pantai Pegadungan.

Akhir pekan terakhir Februari lalu, memang tak banyak wisatawan mengunjungi lokasi itu. Hanya dua wisatawan yang menikmati keindahan tebing batu Gigi Hiu. Jumlah pengunjung berbeda jauh dengan jumlah wisatawan yang hendak menikmati sensasi wisata melihat lumba-lumba berenang bebas di Teluk Semangka. Pada hari yang sama, setidaknya ada puluhan wisatawan yang berangkat melihat lumba-lumba.

Belum banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Gigi Hiu diduga karena potensi wisata itu masih berada dalam kelompok wisata minat khusus. Selain itu, akses menuju ke lokasi itu juga terbilang cukup sulit.

Wisatawan yang masuk ke Lampung dari Pelabuhan Bakauheni harus menggunakan travel secara estafet. Dari Pelabuhan Bakauheni menuju Panjang, Lampung Selatan, menghabiskan biaya Rp 50.000. Sesampainya di Panjang, wisatawan berganti travel dengan tujuan Teluk Kiluan, biayanya Rp 75.000.

Di Teluk Kiluan tersedia sejumlah pemondokan milik warga yang disewakan dengan harga beragam, mulai dari Rp 400.000 hingga Rp 800.000. Lebih baik beristirahat terlebih dahulu atau sekadar meletakkan barang-barang bawaan di tempat ini karena perjalanan ke Gigi Hiu cukup ekstrem dan menantang.

Akhir musim kemarau merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Gigi Hiu. Pasalnya, jalanan tidak licin karena hujan dan cuaca di lautan sedang buruk. Saat cuaca buruk dan ombak besar, wisatawan akan disuguhi dahsyatnya ombak yang menerpa tebing batu. Musim kemarau juga menjadi pilihan tepat karena proses tenggelamnya matahari tidak akan tertutup awan.

Dari Teluk Kiluan, perjalanan ke Gigi Hiu hanya dapat ditempuh dengan sepeda motor. Perjalanan naik ojek dari Teluk Kiluan ke Pantai Pegadungan sejauh 12 kilometer menghabiskan waktu sekitar satu jam.

Perjalanan ke Gigi Hiu sebenarnya dapat ditempuh menggunakan perahu. Namun, hal itu membuat wisatawan tidak dapat merapat ke Gigi Hiu. Banyaknya tebing dan batu karang membuat kapal sulit bersandar di pantai. Selain itu, tidak semua nelayan berani mendekat karena khawatir kapalnya terempas ombak dan menabrak tebing batu.

Lebih baik menggunakan jasa ojek sepeda motor dengan biaya sesuai waktu kepulangan. Apabila Anda memilih berangkat pagi hari dan pulang pada siang hari, ongkos ojek Rp 150.000 per motor. Jika ingin mengabadikan momen matahari tenggelam, mau tidak mau Anda harus pulang petang dan membayar ojek sebesar Rp 200.000.

Biaya untuk ojek memang cukup mahal karena medan yang dilalui cukup berat. Wisatawan harus naik turun bukit melewati jalan berbatu yang terjal. Perjalanan menjadi lebih sulit jika hujan turun karena jalan menjadi licin.

Setibanya di Pegadungan, perjalanan menggunakan sepeda motor dilanjutkan dengan berjalan kaki. Wisatawan menyusuri semak belukar dan pantai berbatu sejauh 500 meter.

Tak hanya menikmati sensasi menyusuri semak belukar dan pantai berbatu, wisatawan juga dapat merasakan sensasi panjat tebing (rock climbing). Berhati-hatilah saat memanjat tebing-tebing karena celahnya yang sempit dan terkadang rapuh. Apabila sudah berada di atas tebing segera keluarkan kamera atau sejenisnya. Posisi dari atas tebing menjadi salah satu sudut pengambilan gambar favorit pencinta fotografi.
(ANGGER PUTRANTO/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*