Inilah Kisah Nazar Roro Anteng Dan Joko Seger

gunung-bromoJakarta, PADANGTODAY.com – Bentuk nazar beragam, mulai jalan kaki maju atau mundur, sedekah, hingga sekadar mencukur rambut hingga gundul. Seperti pada pilpres lalu, ketika banyak orang mencukur rambut hingga gundul karena calon presiden yang didukung menang.

Bahkan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum pun pernah bernazar meminta digantung di Monas bila terlibat kasus korupsi Hambalang. Namun ketika dia ditetapkan sebagai tersangka dan divonis penjara delapan tahun di Pengadilan Tipikor, nazar tidak pernah dilaksanakan.

Berbeda dengan Giman, warga Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Dia memilih membayar nazarnya berjalan kaki dari Malang menuju Jakarta. Sebelum pilpres, dia pernah bernazar akan berjalan kaki ke Jakarta jika Jokowi terpilih menjadi presiden. Dan janji itu benar-benar dia bayar lunas kemarin.

Cerita nazar ini memang sudah dikenal masyarakat di Indonesia, terutama yang beragama Islam. Dalam Islam, nazar ialah janji manusia kepada Allah SWT untuk menghargai nikmat yang diterima atau mendapat hajat yang dicita-citakan. Seperti halnya hutang, janji ini harus dibayar.

Dalam cerita leluhur orang Indonesia, nazar juga acapkali dipakai sebagai janji (yang akan dilakukan) bila doa terkabul. Misalnya dalam satu versi kisah legenda Roro Anteng dan Joko Seger di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.

Konon, dalam legenda Suku Tengger di sekitar Bromo, dikisahkan Roro Anteng (putri Majapahit) dan Joko Seger (anak pendeta) sudah menikah bertahun-tahun tapi tidak juga dikaruniai anak. Hingga akhirnya Joko Seger bernazar, bila dia dikaruniai 25 anak maka salah satu di antaranya akan dijadikan sebagai sesajen di Kawah Gunung Bromo.

Begitu selesai mengucap ikrar nazar itu, tiba-tiba api menyembur dari tanah di kawah Gunung Bromo sebagai tanda doanya didengar oleh Tuhannya. Beberapa lama kemudian Rara Anteng mengandung anak pertama, kedua, ketiga, hingga anak terakhir ke-25. Kedua pasangan suami istri itu bahagia dan membesarkan anak-anak mereka hingga dewasa.

Sayang Joko Seger lupa dengan nazar yang dia ucapkan ketika belum memiliki anak. Hingga akhirnya dia ditegur oleh Tuhan dalam mimpinya. Saat bangun dia gelisah dengan hutang nazar itu. Lalu dia mengumpulkan ke-25 anaknya dan menceritakan tentang mimpi tersebut. Dari seluruh anaknya, ternyata cuma Kusuma, anak terakhir yang mau dijadikan sebagai sesajen.

Masalahnya, Joko Seger dan Roro Anteng sangat mencintai anak bungsunya itu, lebih dari anak-anak lainnya. Tapi karena sudah menjadi kemauan Kusuma, akhirnya Joko Seger mengabulkannya. Namun Kusuma membuat syarat, yakni meminta diceburkan ke kawah pada tanggal 14 Kasada (tanggal Jawa). Dia juga meminta setiap tahun pada tanggal tersebut diberi sesajen berupa hasil bumi yang dihasilkan oleh ke-24 saudaranya.

Tradisi Kasada ini pun akhirnya dipenuhi hingga sekarang oleh masyarakat Tengger yang mengaku sebagai keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger.

Namun cerita versi lain, untuk mendapatkan 25 anak itu Roro Anteng dan Joko Seger bersemedi, hingga akhirnya mendapat bisikan dari Sang Hyang Widi Wasa yang menjanjikan 25 anak. Syaratnya, pasutri itu akan diberikan anak tetapi anak terakhirnya harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Tapi apapun versi ceritanya, hikmah yang bisa dipetik dari serangkaian kisah itu adalah keharusan membayar nazar. Bagaimana menurut anda?(mr/nol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*