Inilah Lima Perpustakaan Paling Langka Di Dunia

mesin-peminjaman-buku-otomatis-amerika-serikatPADANGTODAY.com – Saat ini perpustakaan dirancang dan dikemas sedemikian rupa agar tampak semenarik mungkin, sekreatif mungkin supaya orang-orang tak enggan untuk menyambanginya lagi. Berikut ini kami tampilkan 6 contoh perpustakaan dengan konsep paling kreatif di dunia.

Advertisements

1.Perpustakaan keledai Biblioburro, KolomKonsep perpustakaan yang satu ini adalah mengantarkan sumber bacaan kepada pembaca melalui keledai. Ya, benar, keledai. Perpustakaan yang diberi nama Biblioburro ini digagas oleh Luis Soriano, seorang guru sekolah dasar di La Gloria, Kolombia. Karena daerah tempatnya mengajar memiliki infrastruktur yang tidak memadai akibatnya anak-anak tidak punya akses terhadap berbagai bacaan. Karena itulah Soriano memutuskan untuk membawakan buku-buku kepada anak-anak tersebut.

Dalam menjalankan program Biblioburro, Soriano dibantu oleh kedua keledai miliknya, Alfa dan Beto. Biasanya sebelum berangkat pak guru ini memenuhi kantong yang disampirkan di punggung Alfa dan Beto dengan buku kemudian ia melakukan perjalanan hingga empat jam untuk mengunjungi anak-anak di desa-desa sekitar. Sesampainya di sana, Soriano lantas membacakan buku kepada anak-anak, meminjamkan koleksi bukunya, bahkan membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah.

Kepada CNN Soriano mengatakan kalau ia mendapatkan ide perpustakaan keledai tersebut pada tahun 1990. Ia hanya ingin mengaryakan keledai-keledainya yang menganggur di rumah. Tetapi berkat dedikasinya sejauh ini sekitar 4.000 anak di daerahnya jadi melek huruf.

2.Mesin peminjaman buku otomatis, Amerika Serikat
Bagaimana jika tengah malam buta Anda ingin meminjam buku, tetapi terlalu malas untuk berkunjung ke perpustakaan umum atau persewaan buku yang kemungkinan besar sudah tutup? Peminjaman buku online? Kalau yang satu itu sudah cukup banyak ditemui, bahkan di Indonesia. Tetapi bagaimana dengan mesin peminjaman buku otomatis yang ditempatkan di sudut-sudut jalan?

Di Amerika Serikat konsep peminjaman buku melalui mesin serupa mesin penjual rokok atau sof drink otomatis sudah ada sejak tahun 1930-an. Dan dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak perpustakaan yang memanfaatkan mesin seperti ini untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses buku bacaan. Di California, mesin-mesin yang bisa meminjamkan buku selama 24 jam penuh ini ditempatkan di sudut jalan-jalan yang sibuk, stasiun kereta api, dan di pusat-pusat perbelanjaan. Di Beijing, China mesin-mesin seperti ini juga sudah mualai banyak yang diperasikan.

3.Perpustakaan dalam perahu, Norwegia
Konsep perpustakaan yang satu ini mirip dengan Biblioburrow yang dirintis Luis Soriano di Kolombia, mendistribusikan buku kepada para pembaca yang tidak punya akses ke perpustakaan dengan sumber daya seadanya. Tetapi kalau Soriano memanfaatkan keledai, perpustakaan ini menggunakan perahu sebagai sarana untuk mendistribusikan buku kepada warga Norwegia yang tinggal di fjord (pulau-pulau kecil dengan karakteristik tebing curam dan salju di Norwegia) terpencil.

Perahu bernama Epos ini mengirimkan buku ke lebih dari 250 komunitas kecil di berbagai fjord setiap tahunnya, terutama ketika musim dingin tiba antara bulan September sampai April. Layanan ini dimulai pada tahun 1959, didanai oleh perpustakaan umum di 3 daerah. Kapal ini memiliki koleksi sekitar 6.000 buku, seorang nakhoda, koki, beberapa pustakawan, dan satu penghibur. Pada musim panas, perpustakaan terapung tersebut difungsikan menjadi kapal penumpang untuk tujuan wisata pelayaran.

4.Perpustakaan unta, Kenya
Di Kenya, giliran para unta yang berjasa mengantarkan sumber bacaan kepada masyarakat. Unta-unta ini mengenakan tas yang kedua sisinya penuh berisi buku dan kemudian melakukan perjalanan bersama para pustakawan melintasi padang pasir yang tandus. Unta-unta ini kemudian mampir ke komunitas-komunitas nomaden di gurun pasir untuk meminjamkan buku kepada anak-anak atau orang dewasa.

Program ini dirintis oleh Kenya National Library Service pada tahun 1985 untuk menanggulangi tingkat buta huruf di kalangan warga Kenya yang hidup secara nomaden, sebab kurangnya akses terhadap pendidikan dan sumber bacaan. Sejauh ini program tersebut sudah melayani antara 5.000 hingga 6.000 pelanggan. Menyusul kesuksesan program tersebut mulai banyak pihak yang meminta agar cakupan program ini diperluas ke daerah-daerah lain. Tetapi kurangnya jumlah unta jantan yang tersedia menyebabkan rencana tersebut belum bisa terealisasi dalam waktu dekat.

5.Perpustakaan mikro Little Free Library, AS
Perpustakaan ini mendapat label ‘mikro’ karena ukurannya yang memang sangat mini. Tak ada gedung atau ruangan berisi rak-rak kayu menampung deretan buku. Hanya ada sebuah kotak kayu sebesar kotak pos yang didirikan di depan rumah. Penggagas ide perpustakaan unik ini adalah Todd Bol. Pemuda ini mendirikan perpustakaan mikro pada tahun 2009 untuk menghormati mendiang ibunya.

Todd menempatkan sebuah rumah kayu kecil penuh buku di luar rumahnya disertai tulisan yang menunjukkan kalau orang-orang yang lewat bisa mengambil atau meninggalkan sebuah buku di sana. Ide book swap Todd ini ternyata cukup berhasil sebab gagasannya kemudian diadopsi oleh banyak pihak. Empat tahun kemudian, Publishers Weekly melaporkan sekitar 6.000 perpustakaan mikro telah berdiri di sekitar empat puluh negara di seluruh dunia.

Tak berhenti sampai di sana, Todd kemudian mengembangkan konsep Little Free Library dengan mendirikan perpustakaan 24 jam yang dibuat dengan mendaur ulang boks telepon.(mr/nol)