Inilah Surat Permohonan Perlindungan Hukum Marshanda

Marshanda-nangis-Yazir-846x475Jakarta, PADANGTODAY.com – Kasus pemasungan yang dilakukan Ibunda Marshanda, Riyanti Sofyan kini telah masuk ranah hukum. Pengacara OC Kaligis menyampaikan 11 fakta hukum dan 3 alasan yang mungkin menjadi motivasi sang ibu.

Advertisements

Karena Marshanda dianggap telah dewasa, pengacara tersebut percaya bahwa tidak ada wewenang dari Riyanti untuk merampas hak kliennya. Merasa kasus ini telah masuk ranah pidana, OC Kaligis meminta kepolisian menyelidiki ibu Marshanda dan sejumlah pihak yang terkait.

Berikut surat permohonan perlindungan hukum yang dibuat oleh Marshanda melalui pengacaranya:

Jakarta 3 Agustus 2014

Kepada Yth
Kapolres Jakarta Pusat

Kami, Prof. Dr. O.C. Kaligis, S.H., M.H., Advokat dan Pengacara, berkantor di kantor hukum OTTO CORNELIUS KALIGIS & ASSOCIATES, beralamat di Jl. Majapahit 18-20 Komplek Majapahit Permai Blok B 122-123, Jakarta Pusat, dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Klien kami, Andriani Marshanda, umur 25 Tahun yang pada saat ini menempati Kamar 106 RS. Abdi Waluyo, Jakarta Pusat. Berdasarkan Surat Kuasa Khusus (L-13, dengan ini menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

FAKTA HUKUM:

1. Pada Tanggal 26 Juli 2014, ketika Klien kami dengan anaknya hendak meninggalkan tempat tinggalnya di kawasan Puri Casablanca, tiba-tiba oknum tidak dikenal menahan mobilnya memaksa Klien kami kembali ke tempatnya dan ketika Klien kami menanyakan ada apa, ternyata oknum tersebut adalah polisi (L-2) diperalat oleh Ibunya yang bernama Riyanti Sofyan memaksa Klien kami untuk diterapi. Kejadian ini disaksikan oleh Sandy dan Lia.

2. Setelah kejadian di atas semua orang tidak diijinkan masuk kecuali perawat. Berdasarkan keterangan dari Klien kami, dirinya disuntik paksa yang membuat dirinya lemas;

3. Pada 26 Juli 2014 sekalipun Klien kami di bawah dokter pribadinya yaitu Dr. Richard mustinya berobat di Dharmawangsa, akan tetapi dibawa paksa ke RS. Abdi Waluyo dan sekarang menempati kamar 106

4. Yang bisa masuk ke dalam kamar Klien kami hanyalah 11 orang, orang-orang tersebut di antaranya Riyanto Sofyan (paman), Adrian (adik), Alyssa (adik), Amalia (tante), Walan (tante), Ian (supir), R Hidayat (paman), Lucy Soemiatno (tante), Dr. Henry Riyanto (sepupu), Afdal

5. Pada 2 Agustus 2014, kami bertemu dengan Pemimpin RS Abdi Waluyo. Alangkah kagetnya Pemimpin RS Abdi Waluyo ketika melihat pernyataan tersebut karena Dr. Jimmy dan Suster Dewi menandatangani surat tersebut sebagai saksi. Mengapa kami, selaku kuasa hukum dari Klien kami, tidak berkunjung sedangkan jam kunjungan ada dan Klien bukan masuk ke dalam bagian gawat darurat. Atas perintah dari RS. Abdi Waluyo, kami pun berhasil bertemu dengan Klien, dan Klien sangat keberatan dan ingin segera keluar dan ingin mencari dokter lain untuk second opinion

6. Pada 2 Agustus 2014 kami sempat berbicara dengan dokter Richard, dari uraian dokter Richard, kami melihat ada perbedaan dengan keterangan klien kami yang sepanjang ceritanya kepada kami tidak mengalami gangguan jiwa, berbicara secara runut, bisa mencatat semua kejadian atas dirinya dan permintaan yang sangat masuk akal supaya pemeriksaan atas dirinya tidak subyektif, klien kami meminta second opinion (L-3)

7. Melalui konsultasi dengan dokter Richard, kelihatannya dokter Richard setengah hati untuk menunjuk dokter lain untuk second opinion sesuai dengan permintaan klien kami. Permohonan kami juga kami tunjukkan untuk RS Abdi Waluyo, karena klien kami ingin segera keluar, karena klien kami sudah membayar RS Abdi Waluyo, akan tetapi sampai hari ini tidak dikabulkan (L-4)

8. Klien kami sangat mengharapkan bantuan aparat keamanan dalam hal ini polisi untuk supaya klien kami dapat membuat berita acara sebenarnya mengenai pemasungan dirinya oleh ibunya yang mungkin bekerja sama dengan dokter, karena klien kami tidak rela masuk ke RS Abdi Waluyo karena merasa dirinya sehat. Kemudian tanggal 3 Agustus 2014 siang kami mencoba mengunjungi RS Abdi Waluyo, ternyata ibunya telah menyuruh dua bodyguard, beruntung ketika kami di depan kamar 106 dan dilarang masuk oleh kedua bodyguard tersebut akhirnya klien kami keluar kamar dan meminta kepada kami agar klien kami dapat keluar dari RS Abdi Waluyo dan dikawal oleh aparat kemanan dan klien kami bersedia untuk diperiksa oleh dokter lain.

9. Setelah berkali-kali bertemu dengan klien kami, kami telah mengirimkan surat yang telah ditandatangani oleh klien kami kepada dokter Richard dan kepala RS Abdi Waluyo.

10. Setelah berkomunikasi dengan dokter Richard melalui SMS untuk meyakinkan bahwa tindakan dokter Richard tidak benar karena bukan klien kami yang meminta untuk dirinya dirawat di rumah sakit, melainkan kemauan dari ibunya dan setelah klien kami menulis sendiri surat untuk keluar dari rumah sakit dan memilih dokternya sendiri, maka sekitar pukul 16.00, klien kami dikeluarkan

11. Bahwa klien kami ternyata diikuti oleh beberapa preman yang adalah suruhan dari ibu klien kami, kami meminta bantuan dari Polsek Menteng untuk melindungi klien kami dan disetujui. Bantuan yang diberikan oleh Polsek Menteng sangat kooperatif dalam melindungi klien kami.

MOTIVASI PEMASUNGAN YANG DILAKUKAN IBU DARI KLIEN KAMI:
1. Sejak kecil klien kami telah dijadikan mesin ATM oleh ibunya
2. Sejak klien kami ganti manajer, ibunya mulai membuat kegaduhan
3. Agar timbul kesan publik, bahwa klien kami mengalami gangguan kejiwaan terkait perkara perceraian dan hak asuh anak klien kami yang sedang diperiksa di pengadilan Agama Jakarta Pusat

PERMOHONAN

Dalam hal ini orang yang tidak menderita sakit apa-apa, malah diperiksa masuk ke rumah sakit di luar kehendaknya. Jelas hal ini adalah perbuatan pidana dan silakan penyidik dalam hal ini polisi untuk menyelidiki
1. Memeriksa ibu Riyanti Sofyan
2. Memeriksa pihak-pihak yang terkait (kpl/nol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*