Inilah Yang Meminta Prabowo Dan Jokowi Gelar Rekonsiliasi

pbnuJakarta, PADANGTODAY.com – Hingga kini belum ada ucapan selamat yang dilontarkan langsung oleh Prabowo Subianto.Prabowo bahkan dikabarkan berada di luar negeri sejak beberapa pekan terakhir. Sementara tim hukumnya berjuang hingga kini masih mempertimbangkan gugatan di Mahkamah Agung, anggota koalisi Merah Putih masih menggalang kekuatan untuk membuat Pansus Pemilu 2014 di DPR.

Hatta Rajasa sendiri sudah bertemu langsung dengan Jokowi di kediaman Surya Paloh dan mengucapkan selamat. Keesokan harinya, pimpinan parpol koalisi Merah Putih bertemu dengan Presiden SBY untuk menyatakan Koalisi Merah Putih menerima hasil pilpres meski akan terus berjuang menjadi penyeimbang.

Sikap Prabowo yang belum mengakui hasil pilpres ini mengundang komentar beragam. Banyak yang meminta agar Jokowi dan Prabowo bertemu untuk rekonsiliasi. Ada juga yang meminta Prabowo untuk legowo.

Siapa saja yang meminta Prabowo dan Jokowi untuk segera bertemu dan menggelar rekonsiliasi? Berikut rangkumannya:

1.Presiden SBY
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan presiden terpilih periode 2014-2019 Joko Widodo dapat melakukan rekonsiliasi dengan kubu kekuatan politik pendukung Prabowo Subianto.

“Saya berharap pemerintahan Bapak Joko Widodo tidak harus terus menerus menjaga jarak. Bagus kalau melaksanakan rekonsiliasi,” kata Presiden Yudhoyono dalam jumpa pers dengan sejumlah media Indonesia di Singapura, Kamis (9/4). Demikian dikutip antara.

Menurut Yudhoyono, kekuatan politik Prabowo Subianto juga merupakan bentuk kekuatan yang besar mengingat tipisnya perbedaan jumlah suara yang diperoleh kedua sosok tersebut dalam Pemilihan Presiden 2014.

Dia berpendapat bila antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo “saling menyapa” dengan baik dan konstruktif maka akan terjadi rekonsiliasi yang bakal berdampak kepada semakin teduh dan damainya kondisi politik di Tanah Air.

Selain itu, ujar dia, dengan adanya rekonsiliasi maka pemerintahan baru mendatang juga diyakini akan lebih mulus dalam menerapkan kebijakan karena dapat mengatasi tekanan yang keras seperti dari pihak DPR.

“Lebih bagus lagi ajaklah pihak yang lain. Itu bagus, itu mulia,” katanya.

2.Muhammadiyah
Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengimbau, Prabowo Subianto dan Joko Widodo beserta pendukungnya untuk sama-sama menciptakan kondisi damai pascapemilu presiden 2014. Din Syamsuddin, mengatakan, pemilu presiden adalah proses demokrasi untuk memilih pemimpin nasional. Tetapi kompetisi pada pemilu presiden 2014 yang saling menyerang antar kedua pasangan capres-cawapres, telah membuat bangsa Indonesia terbelah.

“Saya mengimbau kedua capres dan pendukungnya bersikap negarawan untuk dapat menerima kemenangan maupun kekalahan,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Belahan kedua pendukung pasangan capres-cawapres tersebut, diakui Din, merambah ke semua elemen masyarakat, termasuk kiai dan ulama. “Ini terjadi karena kedua kelompok pendukung capres saling menyerang dengan kampanye hitam, SARA, dan sebagainya, sehingga membuat luka yang dalam di masyarakat,” katanya.

Menurut Din Syamsuddin, guna mencegah terjadinya perpecahan bangsa yang lebih serius, ada baiknya kedua capres untuk saling bersilaturrahmi guna menciptakan suasana sejuk sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya perpecahan bangsa.

Bangsa Indonesia, kata Din, membutuhkan sikap legowo dan kenegarawanan dari kedua calon presiden untuk dapat menerima kemenangan tanpa eforia berlebihan serta menerima kekalahan dengan jiwa besar.

3.Survei LSI: Rakyat minta capres kalah legowo
Mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada pemenang sudah menjadi tradisi di negara-negara demokrasi maju setelah pengumuman hasil pemilu. Hal ini juga yang diharapkan oleh mayoritas publik Indonesia setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan hasil Pilpres 2014 pada 22 Juli besok.

Menurut survei cepat (qick poll) Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dilakukan pada tanggal 18 19 April 2014, publik yang berharap capres berjiwa besar menerima kekalahan dan langsung memberi selamat kepada capres pemenang sebesar 93 persen.

“Hanya 4,5 persen publik yang berharap capres yang kalah untuk menggugat kekalahannya ke Mahkamah Konstitusi,” kata peneliti LSI, Fitri Hari, lewat siaran pers, Senin (21/7).

Fitri menjelaskan, kedua kubu pendukung pun meminta kedua pasangan calon untuk ‘legowo’ menerima kekalahan. “Rata-rata 9 dari 10 pemilih kedua capres berharap siapapun yang menang harus dihargai dan capres yang kalah siap memberi selamat,” ujarnya.

Jika dipersentasekan, papar Fitri, sebesar 92,08 persen pemilih Prabowo-Hatta berharap kedua capres siap menerima kekalahan dan langsung mengucapkan selamat kepada presiden baru yang terpilih melalui penetapan resmi KPU.

4.Pengusaha Minta Prabowo Legowo Terima Kekalahan
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendesak kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa untuk bisa menerima kekalahan dalam pemilihan presiden (pilpres) 2014.

“Nggak gampang lah (Prabowo) lewatin 8,4 juta suara atau untuk bisa melebihi suara itu. Bagaimana mau curang atau salah, kan sudah ada saksi masing-masing pasangan di setiap TPS,” ungkap Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanandi di Jakarta, Jumat (25/7/2014).

Namun demikian, dia mengaku, Apindo tak akan mengkritisi langkah Prabowo jika ingin menggugat hasil perhitungan suara resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) ke Mahkamah Konstitusi (MK)

“Kan hak konstitusinya boleh mengajukan ke MK, itu langkah yang baik dibandingkan mundur saja. Nanti di sana dibuktikan siapa yang benar. Tapi kayaknya sih dia masukkan ke MK,” tutur Sofjan.

Ada atau tidaknya gugatan Prabowo ke MK, menurut dia tak akan mengganggu arus investasi dari pengusaha di Indonesia. Pihaknya masih memberi izin kepada pengusaha yang ingin melakukan ekspansi.

“Kami memang wait and see, tapi kalau ada yang minta izin perluasan investasi ya jalan terus. Tapi pelaksanaannya baru dilakukan tahun depan,” ucap Sofjan.

Sofjan berharap, pemerintahan baru dapat segera merealisasikan program infrastruktur di dalam negeri.

5.PBNU anjurkan Prabowo-Hatta ucapkan selamat kepada Jokowi-JK
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamet Effendy Yusuf menganjurkan kepada pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa agar menerima keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dan memberi ucapan selamat kepada pasangan Jokowi-Jusuf Kalla.

“Saya menganjurkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengeluarkan pernyataan terbuka untuk menerima keputusan MK dengan mengucapkan selamat kepada pasangan Jokowi-Kalla,” katanya.

Dia mengatakan, situasi kompetitif yang seringkali eksesif selama Pemilu 2014, baik pemilu legislatif maupun pemilu presiden, harus diakhiri seiring dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

“Sebagai bangsa harus semakin dewasa dalam berdemokrasi. Kini saatnya seluruh anak bangsa kembali hidup rukun dan bahu membahu,” katanya.

Salah satu hal yang harus dikedepankan setelah proses pemilu usai adalah sikap “legowo” (ikhlas) dan saling memaafkan. Karena itu, dia memiliki anjuran untuk kedua belah pihak yang bersaing dalam Pemilu Presiden 2014.

“Saya menganjurkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mengeluarkan pernyataan terbuka untuk menerima keputusan MK dengan mengucapkan selamat kepada pasangan Jokowi-Kalla,” tuturnya.(mr/nol)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas