Jayanis, Membangun Padang Pariaman dengan Konsep Pemimpin Pengelola Kota Cerdas 

 

Padang-today.com__Asosiasi Prakarsa di berbagai daerah telah melahirkan sebuah program kebijakan untuk membangun Kota Cerdas (smartcity). Kebijakan yang dilahrikan itu selalu dihadapkan dengan berbagai pertanyaan bagaimana membangun Kota Cerdas itu dengan kondisi daerah.

“Untuk mewujudkan smartcity para pengambil kebijakan selalu menanyakan, bagaimana membangun kota cerdas, dimulai darimana? Teknologi, Infrastruktur atau Manusianya. Membangun Command Center, membuat aplikasi atau bagaimana? Pertanyaan ini selalu timbul dikepala mereka,” kata Jayanis salah satu Pemerhati Padang Pariaman, Kamis (07/11) di Jakarta.

Menurutnya, untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu diperlukan suatu kerangka kerja yang jelas, bagaimana mendekati, memulai dan melakukan prioritas pembangunan kota cerdas tersebut.

Artinya, suatu kerangka Kerja membangun Kota cerdas dengan memulai suatu model Kota Cerdas, dibagi dalam 3 layer yaitu, sumber daya, pemungkin (enabler) hingga domain dengan tujuan utama adalah peningkatan kualitas hidup warga kota.

Domain pembangunan kota cerdas, kata dia, dibagi dalam 3 domain sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goal) yaitu ekonomi, sosial dan lingkungan.

Masing masing domain dibagi lagi menjadi beragam layanan seperti smart health, smart energy, smart mobility hingga smart people. Masing masing kota mungkin berbeda penekanannya sesuai dengan peluang dan tantangannya.

Pemungkin atau Enabler adalah faktor utama dalam pencapaian layanan cerdas di domain atau sektor. Kerangka kerja ini mengusulkan 3 faktor utama pemungkin yaitu Insan Cerdas, Tatakelola Cerdas serta prasara dasar dan teknologi informasi.

“Sumber daya adalah modal dari suatu kota, baik itu sumber daya alam, sumber daya manusia, waktu hingga sumber daya tak terwujud peninggalan nenek moyangnya,” kata dia.

Perlu diperhatikan bahwa kebutuhan dasar kota harus terpenuhi dulu sebelum kebutuhan lain terpenuhi, seperti keperluan pangan, sanitasi, air, energi hingga transportasi. Banyak kota ingin melompat kepada suatu kondisi kekinian tetapi tidak memperhatikan kebutuhan dasar.

Terkait dengan hal itu, kembali kepada konsep pimpinan pengelola kota cerdas, apa, mengapa dan siapa CSCO? Jika kita memahami definisi dan kerangka kerja di atas, kerumitan atau kompleksitas pengelolaan kota sangat tinggi, mulai dari pemahaman kualitas kehidupan masyarakat, birokrasi, inovasi, teknologi hingga sarana dan prasarana kota,” kata dia..

Chief Smart city Officer (CSCO) dapat diartikan sebagai pimpinan strategis pengelola kota yang mampu melakukan inovasi, integrasi, investasi hingga interaksi dalam pengelolaan kota secara cerdas.

Pimpinan tersebut harus mampu memahami kondisi nyata dan dinamika kota, mencari solusi melalui inovasi dan mengintegrasikan semua komponen kota untuk berkolaborasi memberikan peningkatan kualitas hidup kota.

Selanjutnya mampu juga mencari solusi pembiyaan baik dari anggaran internal kota hingga kerjasama pemerintah dan swasta. Ada jiwa birokrat, inovator hingga entrepreneur.

Sementara itu di kelembagaan kota sudah ada Badan, Dinas dan perangkat kota lain yang selama ini mengelola kota jaman “Old”. Jaman “Now” memerlukan berbagai pendekatan untuk solusi di atas.

Semua akan bermuara di pemimpin Kota, Walikota dan Bupati, tetapi bagaimana Kantor Pimpinan Kota Cerdas bisa menjadi Orkestra. Apakah didelegasikan kepada satu unit yang ada tetapi mempunyai fungsi semuanya? (herry suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas