Jenuh Bekerja Sebagai Karyawan Thomas Rohedi Banting Setir Menjadi Wirausaha

ilustrasi karyawan

ilustrasi karyawan

PADANGTODAY.COM– Jenuh lima belas tahun bekerja sebagai karyawan sebuah bank swasta membuat Thomas Rohedi banting setir menjadi wirausaha penyedia tenaga sopir. Berkah rezekinya ini mulai moncer berawal dari idenya membuat rental mobil.

Pada 2013, pria berumur 41 tahun ini mulai menekuni bisnis rental mobil. Sepanjang perjalanan bisnisnya dia mendapat banyak keluhan para pelanggan kekurangan tenaga sopir harian.

“Kebutuhan tenaga sopir semakin banyak, permintaan juga semakin meningkat, apalagi tahun depan ada masyarakat ekonomi ASEAN, banyak orang asing ke Indonesia, tentunya bisnis ini menciptakan lapangan kerja yang baru,” ujarnya

Menurut dia, bisnis penyedia jasa sopir ini memiliki risiko cukup tinggi. Pasalnya, bisnis ini menyangkut kecakapan dan sikap sopir saat berkendara. Maka dari itu, dia sangat selektif dalam mempekerjakan pegawai. Minimal lima tahun berpengalaman mengendarai mobil mewah dan memiliki data diri yang dijamin asli dan jelas asal usulnya.

“Memang rata-rata yang menyewa jasa ini dari kalangan menengah ke atas, kalau misal itu tidak bisa bawa Alphard bagaimana,” jelas dia.

“Kami pernah mengalami pengalaman, di mana sopir itu punya ikatan dengan perusahaan lain, lalu sopir itu punya utang, tagihan-tagihan dikirimkan ke kantor kami, jadi itu terkadang proses rekrutmen memang ketat,” tambahnya.

Thomas pun mematok jasa sopir dengan harga Rp 180.000 per 10 jam. Angka berbeda jika pelanggan juga menyewa kendaraan. “Tergantung mobil apa yang disewa, rata-rata memang jenis Avanza, untuk include supir Rp 350.000 per hari, sementara jenis Innova sekitar Rp 450.000 per hari,” kata dia.

Sayangnya, sejauh ini, Thomas hanya bisa melayani jasa sopir untuk sekitar Jakarta dan Bekasi saja. “Permintaan juga semakin banyak, tingkat ekonomi kelas menengah juga semakin meningkat sehingga hal itu yang mendorong kami membuka cabang di Bandung dan Surabaya,” katanya.

Meski baru beroperasi di Jakarta dan Bekasi, Thomas mengaku sudah bisa mengantongi omzet hingga Rp 10 juta per bulan dari bisnis penyedia jasa sopir ini. “Saat kami punya 17 tenaga sopir yang aktif, setiap harinya pasti mereka keluar untuk menerima orderan,” tutur dia.

Selama dua tahun menjalani bisnis ini, Thomas melihat tren peningkatan permintaan tenaga supir terjadi pada bulan-bulan menjelang Lebaran. Sementara, sangat sepi saat awal tahun.

“Saat ini ada 17 supir harian yang aktif. Paling tidak sehari pasti keluar minimal 3 supir, biasanya 15 super per harinya,” ungkapnya.

(bim/uil)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas