Kadis Pendidikan Keberatan Jika Polisi Sebut Kepsek Adlis Kena OTT

Fhoto : Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tanah Datar Abrar. (ddy)

 

Tanah Datar, www.padang-today.com,- Kasus dugaan pungutan liar yang terjadi di SMPN 2 Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar memasuki babak baru. Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Polres Tanah Datar dikatakan tidak tepat.
“Kami keberatan jika kejadian yang menimpa Kepala Sekolah Adlis dikatakan OTT, karena tidak sesuai dengan aturan dan ketentuan, dan bahasa OTT ini menyebabkan psikis sejumlah guru terpukul,” ucap Kepala Dinas Pendidikan Tanah Datar Abrar kepada www.padang-today.com melalui selularnya, Rabu (07/02/18).
Katanya, yang dilakukan oleh pihak sekolah saat itu bukanlah OTT, namun ia menyesali pemberitaan yang ada di beberapa media tentang kasus yang menimpa Kepsek dan salah seorang majelis gurunya.
“Seharusnya, pihak kepolisian harus bisa menilai mana yang OTT dan mana yang tidak, hal ini juga terjadi pada media yang menulis OTT, padahal itu tidak,” kata Abrar.
Sementara itu Kasat Reskrim Polres Tanah Datar AKP. Edwin ketika dikonfirmasikan masalah ini mengatakan jika itu adalah hanya sebuah bahasa opini saja, walaupun OTT atau tidak kata Kasat itu terjadi pada saat pemeriksaan oleh tim saber pungli.
“Saat tim melakukan pemeriksaan kepada kepala sekolah SMPN 2 Lintau Adlis, kami menemukan barang bukti yang diakui berasal dari wali murid berupa uang,” ucap Kasat Reskrim.
Edwin mengatakan, pihaknya tengah mendalami kasus ini, dan akan meminta keterangan dari seluruh pihak, termasuk tim ahli dan kalau perlu kadis itu sendiri.
“Tidak usah mengiring opini, ikuti proses yang kami lakukan. Pertanyaannya apakah ini tindak pidana atau bukan? kalau bahasa OTT jadi masalah itu terkait bahasa hukum setelah adanya tindak pidana apakah akan kita biarkan,?” tutur kasat Edwin.
Sementara itu, salah seorang wali murid M. Yasir menyesali keputusan yang diambil oleh pihak sekolah dalam memberhentikan proses belajar mengajar terhadap murid di SMPN 2 Lintau Buo Utara ini.
“Jangan libatkan anak didik, ini masalah kepsek dan bukan murid. Saya harus berhutang setiap pagi untuk menyekolahkan anak, tapi sampai disini disuruh pulang dengan alasan yang tidak jelas,” ungkap Yasir.(ddy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas