Kepala HRD Google Ceritakan Hal Menyenangkan Mengetes Kemampuan Otak Kandidat Kerjanya

Logo Google.

Logo Google.

PADANGTODAY.COM-Perusahaan seperti apa yang sebenarnya diidamkan untuk jadi tempat kerja? Gaji besar, fasilitas lengkap, kredibilitas perusahaan, lingkungan yang kondusif, rekan yang progresif, pengembangan diri, atau jenjang karir? Google adalah satu dari perusahaan yang mengakomodir semua kriteria tersebut.

Gaji untuk anak magang di Google lebih besar dibandingkan gaji karyawan tetap di perusahaan-perusahaan ternama di Amerika. Untuk fasilitasnya, semua karyawan Google boleh menikmati camilan, makanan pagi, makan siang, dan berbagai macam minuman di kantin Google secara gratis.

Masih banyak fasilitas Google yang menggiurkan dan akan jadi panjang jika harus dibahas satu per satu. Yang jelas, semua fasilitas itu membuat raksasa teknologi ini begitu diminati para pencari kerja.

Tiap bulan, puluhan ribu pendaftar dari seluruh penjuru dunia berusaha masuk ke perusahaan yang didirikan Larry Page ini. Tapi, tentu saja hanya orang-orang cerdas, kreatif dan spesial yang diberi tempat di Google.

Kamis (9/4/2015) dari Dice, beberapa waktu lalu, Kepala HRD Google Laszlo Bock merilis buku berjudul “Work Rules!”. Dalam satu bahasan pada buku tersebut, Bock menceritakan bagaimana menyenangkannya mengetes kemampuan otak para kandidat pekerja.

Dibandingkan menanyakan hal-hal berbau teknis dan hitungan, Bock dan timnya cenderung menanyakan hal-hal yang menguji cara dan tindakan seseorang dalam bekerja.

“Tujuan wawancara kami adalah untuk memprediksi kandidat mana yang bakal unjuk gigi jika mereka bergabung bersama kami,” katanya.

Bock dan timnya menguji kualitas kerja para kandidat dengan menggabungkan struktur tindakan dan situasi. Hal itu dipadukan dengan penaksiran kemampuan kognitif, kepemimpinan, dan ketekunan.

Dalam mengklasifikasikan pertanyaan-pertanyaan wawancara, Bock dan timnya menggunakan sebuah alat yang secara otomatis bakal mengelompokkan jawaban-jawaban dengan kriteria-kriteria yang dicari.

Berikut beberapa contoh pertanyaan yang diajukan:

1. Ceritakan tentang pengalamanmu memberikan dampak positif bagi divisimu.
2. Ceritakan tentang pengalamanmu mengarahkan timmu untuk mencapai tujuan bersama. Bagaimana pendekatanmu?
3. Ceritakan tentang pengalamanmu kesulitan bekerjasama dengan rekan atau klien. Kenapa orang-orang tersebut bisa menyulitkan?

Bock secara gamblang membeberkan pertanyaan-pertanyaan yang kerap ia lontarkan saat mewawancarai pelamar kerja Google. Sesungguhnya, bukan pertanyaannya yang menentukan, tapi jawaban para kandidat.

“Kandidat yang keren akan punya jawaban yang kami butuhkan dan alasan yang banyak bagi kami untuk meloloskannya. Bisa terlihat jelas antara kandidat yang spesial dan yang standar,” pungkasnya.

(dice/mms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas