Ketertiban Administrasi dan Tata Kelola Disorot

Wakil Bupati Ferizal Ridwan saat meresmikan Masjid Nurul Yaqin di Nagari Mungo Kecamatan Luak.

Wakil Bupati Ferizal Ridwan saat meresmikan Masjid Nurul Yaqin di Nagari Mungo Kecamatan Luak.

Advertisements

Limapuluh Kota, PADANG-TODAY.com-Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Limapuluh Kota terus mengupayakan penataan dan pembenahan kinerja aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan birokrasi. Setelah masalah disiplin pegawai, kini persoalan ketertiban administrasi dan tata kelola pemerintah yang menjadi sorotan kepala daerah yang terbilang masih muda tersebut.

Wakil Bupati (Wabup) Ferizal Ridwan dalam apel pagi yang dipimpinnya, Senin (23/5), mengapresiasi mulai membaiknya kinerja para pegawai di seluruh intansi Pemkab, baik di lingkungan instansi perangkat kerja (SKPD) maupun di sekretariat daerah.

“Saya apresiasi semua rekan-rekan yang sudah mulai merubah budaya kerja,” ucapnya bangga.

Namun demikian, Wabup Ferizal mengaku masih banyak yang perlu dibenahi. Salah satunya, terkait ketertiban administrasi dan tata kelola pemerintahan. Terhadap administrasi, kata Wabup, saat ini para aparatur terbilang masih banyak yang lalai alias tidak teliti.

Wabup mencontohkan kelalaian dan ketidaktelitian tersebut, seperti halnya proses membuat surat resmi maupun laporan kegiatan.

“Masih banyak aparatur kita yang janggal membuat surat. Padahal, pemeriksaannya sudah melalui 6 sampai 7 kali paraf unsur pimpinan. Ada kesalahan pada penulisan nama Bupati, ada pula kesalahan penulisan tahun RPJMD kita,” singgung Ferizal.

Wabup yang dikenal dengan gaya bicara “ceplas-ceplos” tersebut, pagi itu ikut menyinggung proses administrasi para aparatur di Badan Perencanaan Daerah (Bappeda). Ini karena adanya kesalahan penulisan tahun RPJMD, di mana pada kop surat ditulis tahun RPJMD 2015-2020, yang seharusnya ditulis tahun 2016-2021.

Di Dinas Pendidikan (Disdik), Ferizal menyebut, ia juga menemukan ada beberapa kesalahan dalam membuat kop surat undangan. Di mana, nama Bupati yang seharusnya dibuat dengan ketikan, namun oleh aparatur administrasi di Disdik ditulis menggunakan tulisan tangan.

“Parahnya, ini tidak di-crosscheck, tapi sudah diparaf,” sebutnya.

Ferizal juga menyentil pembuatan tema dari beberapa spanduk dan baliho yang dibuat oleh Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora). Di mana dari beberapa spanduk sosialisasi yang dipajang pada beberapa tempat, pada gambar spanduk dibubuhi foto keindahan laut, sebagai background-nya. Sehingga, bagi masyarakat atau pendatang yang melihat pesan dari spanduk itu, katanya, akan menangkap pemaknaan yang berbeda.

“Kalau melihat spanduk, masyarakat atau pendatang akan menangkap pesan, jika di Limapuluh Kota ini ada tempat wisata bahari seperti pantai dan laut. Ini yang belum dimengerti serta harus dipahami oleh kita semua,” tuturnya.

Menurut Ferizal, persoalan administrasi bisa berakibat fatal jika terjadi kesalahan. Terlebih lagi seperti kesalahan dalam administrasi keuangan. Terhadap penulisan angka, misalnya, seperti tanda titik (.) atau pun koma (,) sangat jauh berbeda. Jika terjadi kesalahan dalam penulisan angka atau titik-koma, maka akan berakibat buruk, seperti ketika mengentri data.

“Makanya, kami ingatkan ke semua jajaran, cobalah, diteliti betul seluruh surat, baik surat masuk atau surat keluar. Jangan lagi terjadi kesalahan. Saya akan mengawasi dan memberikan resume, bagi setiap kesalahan administrasi yang kami temukan. Kalau perlu ada sanksi. Saya akan siapkan ‘pena merah’ buat peringatan,” tegasnya.

Begitu pula terhadap prosedur tetap (protap) dalam penyelenggaraan kegiatan resmi setingkat nasional, seperti halnya kegiatan upacara Hari Kebangkitan Nasional yang dilaksanakan di GOR Singa Harau.

“Persoalan tempat duduk, aturan berbaris, itu harus kita atur sesuai protab yang ada. Harus teliti dan profesional. Ini harus menjadi perhatian kita semua,” tutur Ferizal Ridwan.(rel/dsp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*