Ketika K.H Maruf Amin Merajut Benang Merah “Aswaja” di Minangkabau: Menjemput “Hubungan Darah” Sang Guru

Ketika K.H Maruf Amin Merajut Benang Merah “Aswaja” di Minangkabau:  Menjemput “Hubungan Darah” Sang Guru

Ketika K.H Maruf Amin Merajut Benang Merah “Aswaja” di Minangkabau:
Menjemput “Hubungan Darah” Sang Guru

Padang, PADANG-TODAY.com-Dua hari K.H Maruf Amin, mantan Ketua Umum MUI, di Sumbar, menghadirkan kisah tersendiri. Kiyai yang kini menjadi pasangan Joko Widodo, di bursa pencapresan, tak hanya sekadar bersafari politik. Ada hal yang lebih penting, merajut benang merah Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) di Bumi Minangkabau.

Sejak dahulu, masyarakat Minang hidup dalam lingkup agama Islam yang kuat. Menyatu dengan perubahan. Bergaul dengan kemajuan, namun tidak meninggalkan akar budaya dan agama yang dianutnya.

Kehidupan masyarakat yang religius, berfalsafahkan adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.  Syarak Mangato, Adat Memakai, menjadi cermin betapa kuat dan kokohnya hakikat sebagai penganut Islam yang taat, dan sekaligus tetap memelihara adat istiadat secara turun temurun.

Di sisi lain, dalam perkembangan terkini, semangat kembali bernagari, kembali ke surau, menjadi salah satu wujud nyata dan dalam upaya merawat tradisi, “termasuk kehadiran beliau berziarah ke makam Syech Sulaiman Arrasuli atau Inyiak Canduang,” kata Sekretaris TKD Pemenangan Jokowi – Ma’aruf H. Febby Datuk Bangso.

Kehadiran K.H Maruf Amin, tidak hanya dalam konteks bahwa calon wakil presiden itu berziarah ke makam salah seorang ulama besar dari Ranah Minang. Ia berziarah dalam konteks yang lebih khusus. Kakek K.H Ma’aruf Amin, Syech Albantani merupakan salah seorang guru bagi Inyiak Canduang. Tak hanya itu, kitab Fiqih Fathul Qharib,  masih terus dipelajari di Ponpes Tarbiyah Islamiyah Inyiak Canduang, sampai hari ini.

“Hubungan darah” lainnya, Inyiak Canduang yang mendirikan Perti, seperguruan dengan   K.H Hasyim Ashari, pendiri NU. Juga seperguruan dengan K.H Ahmad Dahlan, yang mendirikan Muhamadiyah. Mereka berguru kepada  Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, imam besar Masjidil Haram. Syech Ahmad Khatib Al-Minangkabawi berasal dari Koto Duo Balai Gurah Kecamatan IV Angkek, Agam.

K.H Maruf Amin  dikenal sebagai profesor dibidang ekonomi syariah. Bersama pasangannya, mereka ingin menata  arah baru ekonomi Indonesia, yakni ekonomi umat.  Program  selama ini yang sudah dilakukan, akan terus dilanjutkan,  seperti dana desa yang  dirasakan dampaknya oleh masyarakat  Sumbar. Selain itu, pendamping Keluarga Harapan dan Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat dan Sertifikat Tanah, program beasiswa,  infrastruktur dan perhatian terhadap pariwisata.(rel/Dodi Syahputra)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas