Kris Tito Dan Keluarga Berharap Tidak Ada Pertukaran Tahanan

Ilustrasi tahanan.

Ilustrasi tahanan.

Advertisements

PADANGTODAY.COM-KRIS Tito Mandagie adalah salah satu dari tiga tahanan WNI di Australia yang ditawarkan untuk dibarter. Dia merupakan warga Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Keluarganya saat ditemui wartawan Manado, berharap tidak ada pertukaran tahanan.

Rumah keluarga Kris tepat berada di tepi jalan raya. Dari arah Manado, posisi rumahnya di sebelah kanan. Tak jauh dari rumahnya, ada bangunan gereja Protestan bertuliskan Jemaat GMIM Immanuel Kamangta. Rumah permanen dicat putih tempat Kris dibesarkan, kondisinya sudah gelap. Pagarnya sudah ditutup tapi tidak dikunci.

Kendati sudah pukul 01.30 dini hari, Manado Post mencoba membangunkan penghuninya. Setelah dua kali pintu diketuk, seorang ibu membuka pintu. Ibu itu kakak dari Kris. Namanya Dona Magdalena Mandagie. Ia mempersilahkan Manado Post masuk.

Di rumah itu tinggal ibunda Kris dan kakak perempuannya. Kris merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Adik laki-lakinya pengusaha batubara yang tinggal di Jakarta. Kakak tertuanya juga tinggal di Jakarta. Kakak tertuanya Kapten kapal. Sama seperti Kris. Keluarga ini merupakan keluarga pelaut. Beberapa sepupu dan keponakan Kris juga sailor man. Di desa asal Kris itu juga merupakan kampung pelaut.

Banyak warganya yang kerja kapal, baik kapal berbendera Indonesia maupun berbendera asing. Beberapa menjadi kapten kapal, mualim, tapi banyak yang masih ABK.

Karena sudah dini hari, ibu Kris yang sudah berusia sekira 80 tahun, sudah tidur. Ayah Kris sudah lama meninggal. Kakak perempuan Kris yang melayani beberapa pertanyaan Wartawan.

“Mami (ibu, red) sudah tidur. Saya belum belum tidur, karena terus mengikuti perkembangan berita di televisi terkait pertukaran tahanan. Karena salah satu dari tiga tahanan Indonesia yang akan ditukar Australia, adik saya,” kata Dona Mandagie.

Ditanya, apakah keluarga mau kalau terjadi pertukaran” ‘’Kami keluarga menghargai proses hukum kedua negara. Kami menghargai hukum di Australia yang tidak ada mengenal istilah hukuman mati dan sebaliknya kami juga menghargai hukum di negara kita ini yang tidak mengenal pertukaran tahanan,’’ jawab Dona.

“Tetapi kalau disuruh memilih, kami keluarga lebih memilih tidak ditukar. Biarkan saja adik kami itu menyelesaikan hukumnya di Australia. Ia sudah menjalani hukuman sejak tahun 1998. Sudah sekitar 17 tahun ia dihukum. Sebentar lagi akan bebas. Menurut Kris, ia akan bebas tahun 2017 nanti. Jadi kami keluarga berharap Presiden Jokowi tidak menyetujui pertukaran tahanan,” harap Dona.

“Saya dan dua kakak saya di Jakarta, sudah berkomunikasi membicarakan masalah adik kami ini. Dan kami semua menghargai proses hukum di Australia. Kami dan ibu kami di rumah terus berdoa meminta pertolongan Tuhan agar tidak terjadi apa-apa dengan adik kami,”tambah Dona.

“selama Kris dihukum, mereka terus berkomunikasi. Ia tiap minggu menelepon kami memberitahukan kabarnya. Selalu dalam keadaan baik-baik saja. Bahkan Kris mengatakan, walau pun dalam masa hukuman, ia diizinkan untuk bekerja. Ia bantu-bantu dalam pekerjaan administrasi di tahanan. Tetapi gajinya dilarang untuk dikirim ke Indonesia. Karena itu gajinya ia kumpulkan untuk membayar pengacara di Australia. Karena itu hukuman Kris beberapa kali mendapat potongan dan dua tahun lagi dia sudah akan bebas,’’ ungkap Dona.

Kris Mandagie sendiri mendekam di penjara Australia terkait kasus narkoba. Ia ditahan bersama dua anak buah kapalnya yakni Saud Siregar dan Ismunandar. Kris bekerja sebagai kapten, temannya adalah mualim dan teknisi.

Kapal cargo Uniana yang dinakhodai Kris, kedapatan membawa 390 kilogram narkoba di dekat Port Macquarie, Sydney. Ketiganya ditangkap pada 1998 dalam sebuah operasi yang melibatkan 76 federal, NSW, helikopter Polair, dua kapal polisi, kapal fregat, angkatan laut HMAS Bendigo, dan dua kapal Bea Cukai. Kasus tahun 1998 ini sangat terkenal di Australia, karena merupakan kasus narkoba terbesar di Australia.

Kris terbukti bukan pemilik barang haram tersebut. Tetapi karena nakhoda kapal, Kris harus bertanggung jawab terhadap semua isi kapal. Termasuk semua masalah yang terjadi di kapal. Kapal itu sendiri dikemudikan Kris dari Hong Kong dengan membawa muatan cargo tujuan Australia.

Kris tidak menyangka dari Hong Kong kapalnya sudah dimuati heroin dalam jumlah besar. Di dalam beberapa tas, ditemukan heroin murni seberat 390 Kg senilai AUS$ 400 – 600 juta. Kalau dirupiahkan sekitar Rp4 triliun sampai Rp6 triliun.

Awalnya Kris hanya dijatuhi hukuman lima tahun. Tetapi istrinya naik banding, membuat hukuman Kris bukannya berkurang, malah bertambah menjadi 25 tahun. Kini istri Kris tersebut sudah meninggal di Jakarta. Kris memiliki satu orang putra, yang kini bekerja di Jakarta.

‘’Kami keluarga berharap Kris menyelesaikan hukuman di Australia. Ia beberapa kali mendapat pengurangan hukuman dan tahun 2017 sudah akan kembali ke Indonesia,’’ harap keluarga Kris di Manado.
(*/**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*