Lapau Sumber Berita Di Pariaman

Padang-today.com__Budaya duduk di Lapau ( warung) bagi masyarakat Piaman tidak hanya sebgai tempat untuk memenuhi kebutuhan yang notabenenya bukan sekedar persoalan perut semata, seperti sarapan dan sebagainya. Namun terlebih dari itu, lapau di Piaman memilki peran sentral dalam tatanan kehidupan dan budaya masyarakat di daerah itu.

Pria berkulit gelap dengan memakai topi pat warna merah bersama teman-teman itu terlihat dengan lahapnya menyantap sarapan pagi ketupat gulai dengan segelas teh telor yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang di lapau yang beratap rumbia di pinggir pantai.

Lapau yang berukuran 9 X 6 meter itu tidak pernah sepi dari pengunjung yang ingin menikmati serapan maupun kuliner lainya. Lapau tersebut ramai dikunjungi masayrakat dari sekitar pukul 07.00 WIB – 12.30 WIB untuk memenuhi kebutuhan dalam bermasyarakat.

“ Di lapau, sembari menikmati segelas minuman hangat yang sering dikawanankan dengan gorengan dan sebagainya, berawal berbagai cerita tentang kehidupan sehari-hari samapai membedah isi dunia. Semua orang lingkup disini, mulai dari petani, nelayan, pedangang, politisi, hingga pejabat pemerintah,” kata M. Yusuf (49) pria berkullit gelap memakai topi itu salah satu warga piaman yang suka membudayakan budaya duduk dilapau, Kamis, (4/4) di Pariaman.

Menurutnya, lapau-lapau di Pariaman. pemilik, pelayan dan pengunjungnya tidak tersekat urusan jual beli semata. Mereka berbaur semua membicarakan politik, desas desus disekitar, masalah ekonomi dan semua topik lainya.

Yusuf yang akrab disapa Ajo Bujang mengatakan, orang Minangkabau memang tumbuh di tiga tempat, yakni Surau, rantau, lapau. Surau untuk belajar agama, rantau sebagai tempat pencari penghidupan, sedangkan lapau sebagi tempat bersosialisasi dan belajar politik serta menangkap peluang bisinis yang berkembang saat ini.

“ Dilapau ko kami dapek penghasilan baik itu sebagai pedagang, nelayan, dan jasa-jasa lainya yang berkaitan dengan nilai ekonomi. Di lapau ini inklud semuanya, mulai dari petani, pedagang, politisi, hingga pejabat pemerintah. Mereka sehari-hari samapai mebedah isi dunia, hingga melahirkan seorang pemimpin di daerah itu, seperti Walikota, Bupati dan Walingari/Kepala Desa ” ujar Ajo  Bujang.

Di lapau, kata dia, ada yang sekedar pergi minum dan serapan saja, namun tidak jarang pula mereka yang menghabiskan waktunya untuk maota-ota sepanjang hari, hanya sekedar menceritakan ekonomi, kebudayaan, bahkan sampai desas desus rumah tangga seseorang.

“ Dimintanya kopi atau teh talua ada yang bermain kertas cheki atau kartu remi untuk menghabiskan waktu dengan untung-untungan. Artinya, minum dan makan mereka selama di lapau telah dibayar oleh yang kalah dalam pemainan tersebut,” ujarnya.

Kendatipun demikian, tentunya ada filosofi yang terkandung dari peran lapau di Pariaman. Lapau sejatinya bukan tempat untuk menggosip ataupun menggunjingkan dan membuka aib orang lain. Tetapi tempat berbagai pengalaman hidup dan beradu argumen antara satu dengan yang lainnya. Semua orang lapau (yang ada di dalam lapau) bisa menjadi nara sumbernya, tentu dengan berbagai sudut pandang yang berbeda pula.

Beranjak dari filosofi inilah, kemudian peran lapau mulai berkembang ke arah yang lebih moderen. Tak hanya sekedar maota-ota berhabis hari, namun ada muatan dan eksitensi yang jelas dalam setiap ota lapau yang dibahas.

Yulisman, (47) pemilik lapau mengatakan, masyarakat yang di lapau itu mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam perkembangan kehidupan masayarakat. Mereka-mereka berpikir dialogis, dialektis, egaliter, logis dan sebagainya, akan tetapi tidak asing bagi orang piaman ketika disimak pembicraan mereka di lapau itu. Dari lapau mereka meneropong berbagai persoalan yang telah dan sedang terjadi saat ini.

Bahkan, dari budaya lapau melahirkan pikiran yang positif dan bertindak produktif. Di lapau lahirlah suatu kebiajakan untuk melakukan bergotong royong untuk kebaikan daerah dan masyarakat. Dari lapau juga telah melahirkan seorang pemimpin yang membawa kearah kebaikan, baik itu untuk daerah maupun untuk warganya.

“ Beranjak dari filosofi inilah, kemudian peran lapau mulai berkembang ke arah yang lebih moderen. Tak hanya sekedar maota-ota berhabis hari, namun ada muatan dan eksistensi yang jelas,” tandasnya menghakiri. (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Lewat ke baris perkakas