Laut Sumber Kehidupanku

pelabuhan muara pariaman

Padang-today.com__Sore itu cuaca cukup cerah di Pelabuhan Muara Pariaman,  Sumbar. Terlihat jajaran kapal dengan beragam jenis dan warna sedang bersandar. Ada sejumlah anak buah kapal duduk sambil mengobrol di atas kapal-kapal itu.

Pelabuhan tersebut berfungsi sebagai tempat berlabuhnya kapal barang sekaligus lokasi wisata bagi orang-orang yang ingin melihat suasana pelabuhan beserta kondisi kapal penangkap ikan dari dekat. Tampak pula para wisatawan lokal dan asing yang datang secara berkelompok. Ada yang mengajak anggota keluarganya, ada pula yang datang bersama teman-temannya.

Mereka mendekati kapal-kapal tersebut, lalu sesekali mengambil foto bersama dengan latar belakang deretan kapal. Di depan sebuah kapal, ada seorang pria sedang duduk bersama temannya sembari memandangi suasana pelabuhan beserta para pengunjung yang lalu lalang di hadapannya pada sore itu.

Pria itu bernama Zhibua. Usianya lebih kurang 40 tahun. Dia mengaku berasal dari tanah Nias, Sumatera Utara. Saat dia berbicara, memang terdengar logatnya seperti orang yang berasal dari Nias. Dia adalah seorang anak buah kapal dari suatu kapal penangkap ikan.

Sudah tiga tahun dia bekerja sebagai pelaut di kapal itu. “Ada tujuh orang (yang bekerja) termasuk saya di kapal ini,” ujar Zhibua sambil menunjuk kapal berwarna putih tempat dia bekerja, Rabu (15/08/2018) di pelabuhan tersebut.

Para pelaut mendapat penghasilan dari gaji dan komisi. Dari melaut, kata Zhibua, pendapatannya cukup untuk menghidupi empat orang anak. Saat ini, dia tidak menyewa rumah, ia ngumpul bersama nelayan lainya.

“Saya digaji bulanan. Ada juga tambahan berupa bagi hasil kalau barang bawaan sudah sampai di tujuan. Lumayanlah buat biaya hidup dan kebutuhan keluarga saya di Nias. Waktu libur melaut saya pulang ke nias,” ucap Zhibua.

Kapal penagkap ikan itu menggunakan mesin sebagai tenaga penggerak dengan bobot muatannya bisa sampai 100 ton untuk sekali melaut. Kapal itu berlayar dari satu daerah kedaerah lainya yang mempunyai ikan.

“Dilaut kami selama bermingu-minggu hampir satu bulan dilaut. Kapal ini umurnya sudah sekitar 30 tahun. Kalau bersandar di sini sudah seminggu, malah kadang bisa sampai dua minggu,” tutur Zhibua.

Pemilik kapalnya itu adalah seorang pengusaha yang mempunyai sembilan Bagan  (kapal).  Lima kapal di antaranya sekarang sedang bersandar di Pulau Kosong, sedangkan tiga lainya sedang berlayar ke berbagai tujuan. Satu ini sedang melakukan perbaikan kerusakan mesin di Pelabuhan tersebut.

Anak buah kapal menghabiskan waktunya bekerja di kapal dan mengarungi lautan berhari-hari. Tidak jarang bahaya mengancamnya, misalnya saat angin kencang datang pada malam hari ketika berada di tengah laut. Bagaimanapun juga, Zhibua menganggap itu sudah menjadi risiko pekerjaannya. Konsekuensi yang harus dia jalani sebagai seorang pelaut. (suger)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*