Lebaran Serentak,Sarana untuk Penyatu Umat

JAKARTA – Umat Islam di Indonesia kompak menjalankan lebaran hari ini. Dalam sidang isbat Minggu (27/7) malam, pemerintah memastikan 1 Syawal 1435 H jatuh hari ini (28/7). Keputusan ini persis dengan kepastian jatuhnya 1 Syawal versi Muhammadiyah yang sudah dilansir beberapa waktu lalu.

Advertisements

Keputusan hasil sidang isbat ini disampaikan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin. Pelaksanaan sidang isbat sendiri berlangsung tertutup. Menag didampingi oleh Wakil Menag Nasaruddin Umar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan beberapa pimpinan organisasi masyarakat (ormas) keislaman.

Lukman mengatakan, sidang isbat diawali dengan paparan dari tim Badan Hisab dan Rukyat Kemenag. Dalam paparan ini, diketahui hasil hisab posisi hilal sudah lebih dari dua derajat di atas hilal. “Bahkan di beberapa lokasi, ketinggian hilal ada yang lebih dari tiga derajat,” ujar Lukman.

Dengan ketinggian itu, pemantauan hilal cukup memungkinkan dilakukan dengan mata telanjang (rukyat). Ternyata setelah di cek ke seratus lebih titik pemantauan hilal, Lukman mengatakan ada tiga lokasi yang melaporkan melihat hilal. Ketiga lokasi itu ada di titik pantau Gresik, Pelabuhan Rati, dan di Kolaka. “Kesaksian dari pemantau di tiga titik itu sudah cukup untuk memastikan 1 Syawal jatuh besok (hari ini, red),” jelas Lukman.

Terkait dengan sistem hisab dan rukyat, Lukman mengatakan tidak perlu diadu atau dipertentangkan. Dia mengatakan, dua sistem itu akan terus dipertahankan. “Posisinya hasil penghitungan hisab, diperkuat dengan pengamatan rukyat. Begitu sebaliknya,” kata dia.

Lukman mengatakan, yang bisa dikompromikan adalah definisi hilal. Ke depan MUI dan Kemenag akan saling berdiskusi untuk mencari formulasi baru untuk mendefinisikan hilal. Apakah nanti ada perubahan kriteria-kriteria atau yang lainnya. Selama ini hilal diartikan sebagai bulan muda. Acuan pemerintah yang dipakai adalah, bulan dalam kalender Islam berganti ketika ketinggian hilal 2 derajat di atas ufuk. Sistem ini juga dipakai di beberapa negara di ASEAN.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menhimbau lebaran tahun ini dipakai sebagai momentum pemersatu umat. “Kebetulan lebaran tahun ini hampir bareng dengan agenda akbar Pilpres 2014,” jelas dia. Din mengatakan, selama pilpres tentu ada potensi perpecahan umat Islam di Indonesia. Nah ketika perhelatan Pilpres sudah rampung dan momentum lebaran hari ini, dia berharap perpecahan karena sikap politik itu harus bersatu lagi. Dia berharap budaya silaturahmi dan saling memaafkan ditingkatkan. “Sudah tidak ada lagi yang terbelah terbelah,” kata dia.

Din juga menjelaskan, lebaran bukan akhir dari kebaikan-kebaikan selama Ramadhan. Sebaliknya dia mengatakan lebaran adalah titik awal untuk menguji kebaikan selama Ramadan itu langgeng atau hanya sesaat. (***)Lebaran Serentak,Sarana untuk Penyatu Umat

JAKARTA – Umat Islam di Indonesia kompak menjalankan lebaran hari ini. Dalam sidang isbat Minggu (27/7) malam, pemerintah memastikan 1 Syawal 1435 H jatuh hari ini (28/7). Keputusan ini persis dengan kepastian jatuhnya 1 Syawal versi Muhammadiyah yang sudah dilansir beberapa waktu lalu.

Keputusan hasil sidang isbat ini disampaikan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin. Pelaksanaan sidang isbat sendiri berlangsung tertutup. Menag didampingi oleh Wakil Menag Nasaruddin Umar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan beberapa pimpinan organisasi masyarakat (ormas) keislaman.

Lukman mengatakan, sidang isbat diawali dengan paparan dari tim Badan Hisab dan Rukyat Kemenag. Dalam paparan ini, diketahui hasil hisab posisi hilal sudah lebih dari dua derajat di atas hilal. “Bahkan di beberapa lokasi, ketinggian hilal ada yang lebih dari tiga derajat,” ujar Lukman.

Dengan ketinggian itu, pemantauan hilal cukup memungkinkan dilakukan dengan mata telanjang (rukyat). Ternyata setelah di cek ke seratus lebih titik pemantauan hilal, Lukman mengatakan ada tiga lokasi yang melaporkan melihat hilal. Ketiga lokasi itu ada di titik pantau Gresik, Pelabuhan Rati, dan di Kolaka. “Kesaksian dari pemantau di tiga titik itu sudah cukup untuk memastikan 1 Syawal jatuh besok (hari ini, red),” jelas Lukman.

Terkait dengan sistem hisab dan rukyat, Lukman mengatakan tidak perlu diadu atau dipertentangkan. Dia mengatakan, dua sistem itu akan terus dipertahankan. “Posisinya hasil penghitungan hisab, diperkuat dengan pengamatan rukyat. Begitu sebaliknya,” kata dia.

Lukman mengatakan, yang bisa dikompromikan adalah definisi hilal. Ke depan MUI dan Kemenag akan saling berdiskusi untuk mencari formulasi baru untuk mendefinisikan hilal. Apakah nanti ada perubahan kriteria-kriteria atau yang lainnya. Selama ini hilal diartikan sebagai bulan muda. Acuan pemerintah yang dipakai adalah, bulan dalam kalender Islam berganti ketika ketinggian hilal 2 derajat di atas ufuk. Sistem ini juga dipakai di beberapa negara di ASEAN.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menhimbau lebaran tahun ini dipakai sebagai momentum pemersatu umat. “Kebetulan lebaran tahun ini hampir bareng dengan agenda akbar Pilpres 2014,” jelas dia. Din mengatakan, selama pilpres tentu ada potensi perpecahan umat Islam di Indonesia. Nah ketika perhelatan Pilpres sudah rampung dan momentum lebaran hari ini, dia berharap perpecahan karena sikap politik itu harus bersatu lagi. Dia berharap budaya silaturahmi dan saling memaafkan ditingkatkan. “Sudah tidak ada lagi yang terbelah terbelah,” kata dia.

Din juga menjelaskan, lebaran bukan akhir dari kebaikan-kebaikan selama Ramadhan. Sebaliknya dia mengatakan lebaran adalah titik awal untuk menguji kebaikan selama Ramadan itu langgeng atau hanya sesaat. (***)

JAKARTA – Umat Islam di Indonesia kompak menjalankan lebaran hari ini. Dalam sidang isbat Minggu (27/7) malam, pemerintah memastikan 1 Syawal 1435 H jatuh hari ini (28/7). Keputusan ini persis dengan kepastian jatuhnya 1 Syawal versi Muhammadiyah yang sudah dilansir beberapa waktu lalu.

Keputusan hasil sidang isbat ini disampaikan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin. Pelaksanaan sidang isbat sendiri berlangsung tertutup. Menag didampingi oleh Wakil Menag Nasaruddin Umar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan beberapa pimpinan organisasi masyarakat (ormas) keislaman.

Lukman mengatakan, sidang isbat diawali dengan paparan dari tim Badan Hisab dan Rukyat Kemenag. Dalam paparan ini, diketahui hasil hisab posisi hilal sudah lebih dari dua derajat di atas hilal. “Bahkan di beberapa lokasi, ketinggian hilal ada yang lebih dari tiga derajat,” ujar Lukman.

Dengan ketinggian itu, pemantauan hilal cukup memungkinkan dilakukan dengan mata telanjang (rukyat). Ternyata setelah di cek ke seratus lebih titik pemantauan hilal, Lukman mengatakan ada tiga lokasi yang melaporkan melihat hilal. Ketiga lokasi itu ada di titik pantau Gresik, Pelabuhan Rati, dan di Kolaka. “Kesaksian dari pemantau di tiga titik itu sudah cukup untuk memastikan 1 Syawal jatuh besok (hari ini, red),” jelas Lukman.

Terkait dengan sistem hisab dan rukyat, Lukman mengatakan tidak perlu diadu atau dipertentangkan. Dia mengatakan, dua sistem itu akan terus dipertahankan. “Posisinya hasil penghitungan hisab, diperkuat dengan pengamatan rukyat. Begitu sebaliknya,” kata dia.

Lukman mengatakan, yang bisa dikompromikan adalah definisi hilal. Ke depan MUI dan Kemenag akan saling berdiskusi untuk mencari formulasi baru untuk mendefinisikan hilal. Apakah nanti ada perubahan kriteria-kriteria atau yang lainnya. Selama ini hilal diartikan sebagai bulan muda. Acuan pemerintah yang dipakai adalah, bulan dalam kalender Islam berganti ketika ketinggian hilal 2 derajat di atas ufuk. Sistem ini juga dipakai di beberapa negara di ASEAN.

Sementara itu, Ketua Umum MUI Din Syamsuddin menhimbau lebaran tahun ini dipakai sebagai momentum pemersatu umat. “Kebetulan lebaran tahun ini hampir bareng dengan agenda akbar Pilpres 2014,” jelas dia. Din mengatakan, selama pilpres tentu ada potensi perpecahan umat Islam di Indonesia. Nah ketika perhelatan Pilpres sudah rampung dan momentum lebaran hari ini, dia berharap perpecahan karena sikap politik itu harus bersatu lagi. Dia berharap budaya silaturahmi dan saling memaafkan ditingkatkan. “Sudah tidak ada lagi yang terbelah terbelah,” kata dia.

Din juga menjelaskan, lebaran bukan akhir dari kebaikan-kebaikan selama Ramadhan. Sebaliknya dia mengatakan lebaran adalah titik awal untuk menguji kebaikan selama Ramadan itu langgeng atau hanya sesaat. (***)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*