Lokomotif Uap Pariaman Disulap Menjadi Museum

Wakil Walikota Pariaman Genius Umar bersama Kepala Divrei PT KAI Sumbar Zukarnain saat berada di lokomotif uang desa tapi Kain.

Wakil Walikota Pariaman Genius Umar bersama Kepala Divrei PT KAI Sumbar Zukarnain saat berada di lokomotif uang desa tapi Kain.

Advertisements

Memang perlu diberikan acungan jempol kepada Pemko Pariaman dalam memajukan objek wisata dalam daerahnya. Kenapa tidak, Pemko Pariaman ingin wujudkan mimpi-mimpi menjadi kenyataan dalam memajukan semua objek wisata, khusus pantai.

Sebab, Kota Pariaman memiliki potensi yang cukup untuk kemajuan objek wisata pantainya. Tinggal lagi bagaimana Pemko Pariaman memoles semua titik-titik objek wisata pantai yang ada di Kota Pariaman untuk kemajuan daerah bersama masyarakat.

Tidak tanggung-tanggung, pada tahun 2014 ini, Pemko Pariaman mengandeng PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dalam memajukan objek wisata pantai. Kenapa tidak, setiap hari PT KAI sampai sekarang telah membawa penumpang dari Kota Padang ke Kota Pariaman.

Sekitar 2000 orang penumpang diangkut gerbong PT KAI setiap hari ke Kota Pariaman, kalau sebanyak itu berapa uang penumpang itu tinggal di Kota Tabuik. Rp 50 ribu per orang penumpang, berapa uang yang tinggal di pedagang yang ada di kota ini.

Melihat potensi yang besar itu, Pemko Pariaman bersama PT KAI memburu aset kereta api peninggalan penjajah Belanda dan Jepang ke luar Kota Pariaman. Lihat saja sepanjang Sabtu tanggal 9 dan Minggu tanggal 10 Agustus 2014 kemarin, Pemko dan PT KAI melakukan pemburuan aset tersebut.

Meski medan cukup parah, karena aset itu terletak hutan karet, namun pemburuan aset PT KAI sampai juga ke Desa Tapi Kain, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau. Disana ada lokomotif uap peninggalan penjajah. Pemburuan itu langsung dikomandoi Wakil Walikota Pariaman Genius Umar bersama Kepala Divisi Regional PT KAI Sumbar Zulkarnain.

Ikut dalam rombongan Kepala Dinas Perhubungan Kota Pariaman Agusriatman bersama jajarannya, Dinas Pariwisata Kota Pariaman bersama jajarannya, Kabag Humas Pemko Pariaman Hendri dan rombongan PT KAI Sumatra Barat.

Wakil Walikota Pariaman Genius Umar saat melihat lokomotif uap peninggalan penjajah Belanda dan Jepang di Desa Tapi Kain menyatakan, memburu aset peninggalan penjajah ini untuk kemajuan objek wisata Kota Pariaman.

Sebab katanya, mimpi Kota Pariaman sebagai kota tujuan wisata harus segera terujut. Apalagi visi dan misi Kota Pariaman adalah menjadikan Kota Pariaman sebagai kota tujuan wisata dalam Propinsi Sumatra Barat.

Berdasarkan hal demikian katanya, sekarang Pemko Pariaman bersama PT KAI Devisi Regional Sumbar melihat lokomotif uap peninggalan penjajah Belanja dan Jepang. Lokomotif ini nanti akan dibawa PT KAI ke Sumatra Barat untuk ditempatkan di Kota Pariaman.

Lokomotif PT KAI ini akan ditata sedemikian rupa oleh Pemko Pariaman menjadi sebuah museum kereta api. Lokomotif dapat dipasang gerbongnya. Gerbong dapat dijadikan hotel berbintang tiga. Kondisi tersebut telah banyak dibuat negara-negara eropa hingga kini.

“Kalau semua itu terujut Kota Pariaman akan memiliki hotel yang kelasnya berbintang tiga. Dengan demikian objek wisata Kota Pariaman ini akan semakin berkembang bersama PT KAI. Tahun 2015 kita akan coba wujudkan mimpi ini,” ujarnya.

Apalagi katanya, jalur PT KAI yang aktif sampai sekarang di Propinsi Sumatra Barat hanya Kota Pariaman. Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan Pemko Pariaman untuk kemajuan pariwisata yang ada di Kota Tabuik, karena potensi menjanjikan.

Katanya, museum kereta api dapat menjadi penunjang objek wisata pantai Kota Pariaman. Pengunjung akan semakin tertarik untuk datang ke Kota Pariaman. Mereka nanti dapat menikmati indahnya pantai sambil melihat museum kereta api.

Ditambah lagi untuk mewujudkan mimpi tersebut kata Genius Umar, Pemko Pariaman telah melakukan MoU dengan PT KAI Devisi Regional Sumbar. Untuk itu lanjutnya, dukungan semua lampisan masyarakat sangat dibutuhkan pemko untuk mewujudkannya.

Aset PT KAI yang diburu sekarang ini akan dikelola dan ditata Pemko Pariaman seperti kondisi aslinya, zaman penjajah Belanda dan Jepang . Sehingga museum kereta api ini menarik pengunjung dari berbagai daerah untuk datang ke Kota Pariaman.

Kepala Devisi Regional Sumbar Zulkarnain menyatakan, PT KAI akan mengupayakan sekuat tenaganya untuk membawa lokomotif peninggalan Belanja dan Jepang dari Desa tapi Kain ke Kota Pariaman. Sebab, di desa ini tidak terawat dengan baik.

Makanya, PT KAI akan menyelamatkan aset negara. Kalau telah diselamatkan bisa ditempatkan di Kota Pariaman untuk dijadikan museum kereta api. Dalam menyelamatkan aset ini PT KAI butuh dukungan semua pihak.

Dukungan yang diberikan Pemko Pariaman kepada PT KAI ini sangat bagus. Apalagi Walikota Pariaman H Mukhlis R dan Wakilnya, Genius Umar sangat setuju tindakan yang diambil PT KAI. Apalagi untuk dijadikan museum sebagai penunjang objek wisata.

Lebih jauh dikatakan, untuk menunjang program Pemko Pariaman dalam memajukan kereta api sampai ke Desa Balai Naras, saat ini PT KAI telah melakukan MoU. Dalam MoU tersebut terdiri berberapa item untuk kemajuan daerah dan PT KAI ke depan.

Sebab katanya, PT KAI tidak ada artinya kalau tidak ada dukungan dari masyarakat dan pemerintah, seperti Pemko Pariaman. Kalau bisa pemikiran pimpinan daerah se Sumatra Barat bisa seperti Walikota dan Wakil Walikota Pariaman ini dalam memajukan PT KAI.

Pada zaman penjajah Belanda dan Jepang, jalur PT KAI dari Padang sampai ke Pekanbaru Riau. Kenapa sekarang bisa terputus, karena tidak ada perawatan. Saat ini PT KAI lagi melakukan pendataan semua asetnya untuk kemajuan kedepannya.

“Beroperasi PT KAI dari Desa Naras sampai ke Kota Padang dapat dipergunakan untuk membawa minyak sawit oleh truck tangki dari Pasaman. Kondisi tersebut dapat mencegah kerusakan jalan di Kota Pariaman ini,” ujarnya.

Dikatakan, pada tahun 2015 PT KAI Regional Sumbar akan melakukan renovasi staisum-staisun kereta api yang ada dalam Kota Pariaman. Ada tiga staisun yang akan direhab, KUraitaji, Kota Pariaman dan Desa Balai Naras.

Dana untuk rehab tersebut lanjutnya, PT KAI memakai dana pusat dari APBN sekitar Rp 2 milyar sampai 4 milyar. Dana tersebut dipergunakan disamping untuk rehab stasiun juga untuk memperbaiki jalur KA yang rusak dari Padang ke Balai Naras.

Sehingga laju KA dari Kota Padang ke Pariaman sampai ke Balai Naras berjalan sesuai dengan ketentuannya. Sehingga semua masyarakat berbondong-bondong untuk naik kereta api menuju Kota Pariman untuk meningkmati indahnya pantai.

Kemudian lagi PT KAI juga akan membangun stasiun mini di belakang hotel Basko Padang. Sehingga pengunjung mol Basko atau masyarakat yang menginab di hotel tersebut dapat menikmati kopi ke Kota Pariaman sambil melihat alat pantainya dengan menaiki kereta api.

“Ini adalah kombinasi cerdas dalam pengembangan wisata Kota Pariman. Kita PT KAI siap mendukung untuk mewujudkan mimpi-mimpi Pemko Pariaman dalam menjadikan daerahnya sebagai kota tujuan wisata di Sumatra Barat,” ujarnya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Pariaman Agusriatman menyatakan dalam menunjang program tersebut, saat ini petugasnya telah ditempatkan di pelintasan liar KA setiap kereta lewat. Pelintasan resmi hanya dua, Kuraitaji dan Kampuang Kaliang selain itu illegat.

Kemudian masyarakat dilarang membangun rumah di sekitar jalur KA. Aturannya masyarakat dalam membangun rumah harus berjarak 6 meter dari jalur kereta api. “Kalau tidak demikian PT KAI akan membongkarnya bersama pemko,” ujarnya.

Sementara itu Konsultan Penataan Kota Pariaman Puji Handoko menyatakan, kereta api bagian kecil untuk menjadi Kota Pariaman yang memiliki nilai sejarah. Untuk itu Kota Pariaman perlu penataan, karena potensinya sangat menjanjikan.

Salah satu potensi PT KAI ini dapat menjadi daya tarik masyarakat pengunjung untuk datang ke Kota Pariaman. Pemko Pariaman tinggal menyiapkan tempat-tempat bagi pedagang untuk berjualan kopi dan teh di sepanjang pantai.

“Sehingga masyarakat pengunjung atau turis manca negara dapat menikmati manisnya rasa kopi sambil menikmati indahnya pantai Kota Pariaman. Di luar negeri orang minum kopi terlihat di sepanjang jalan dalam kotanya,” tambahnya mengakhiri. (nur)